Sunday, June 11, 2017

Fantasy

Aku berdiri di tengah arus manusia yang menyemut dengan langkah bergegas keluar dari gerbong kereta Shinjuku Line.

Fantasy, ditulis oleh Novellina, mengisahkan tentang cinta dan persahabatan. Novel setebal 310 halaman tersebut, menggunakan alur mundur-maju dengan sudut pandang orang pertama dari dua tokoh utamanya, yaitu Davina dan Armitha. Keduanya bersahabat erat sejak duduk di bangku SMA. Mitha sangat cantik, berambut panjang sepunggung, bergigi kelinci, dan bermata lebar dengan bulu mata yang super tebal. Berbeda dengan Vina yang cenderung cuek dengan penampilannya, meskipun pada dasarnya ia cantik dengan darah Belandanya itu. Vina terlalu malas bahkan untuk sekedar menyisir rambut, namun dalam urusan akademis Vina dapat diandalkan.

Cerita berawal ketika Awang menemui Vina yang sedang asyik membaca supernova di perpustakaan, ia meminta dikenalkan dengan Mitha. Awang menyukai Mitha, tetapi entah mengapa Awang lebih nyaman dan terbuka dengan Vina. Mitha sempat curiga kalau Vina menyukai Awang, tetapi Vina bukanlah sahabat yang egois.

“Aku berharap Awang berhasil membuat Mitha menyukainya. Aku menyukai mereka berdua. Awang sangat menyayangi Mitha dan aku ingin seseorang yang terbaik untuk sahabatku.” (halaman 35)

Namun hati bukan tidak berubah, seberapa kuat pun dikontrol ia akan bergerak mengikuti alur jalannya. Kemudian, hati-hati yang ditakdirkan untuk saling melengkapi, akan saling mencari dan menemukan. Begitupula dengan Awang, tidak ada yang menghendaki ketika pada akhirnya perasaan Awang berubah haluan di saat Mitha benar-benar jatuh hati padanya, pun dengan Vina.

“Aku juga tidak tahu bahwa Awang selama ini adalah udara bagiku, alasan mengapa aku melakukan banyak hal akhir-akhir ini. Aku juga tidak tahu bahwa Awang adalah seluruh panca inderaku, ia menuntunku menjadi manusia yang lebih baik, bukan hanya Mitha, seorang anak SMA biasa.” (halaman 124)

Cinta memang ajaib, diakui ataupun tidak, Mitha yang sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan musik klasik menjadi sangat bersemangat mendalami piano, karena Awang. Mereka berdua mendaftar sekolah musik milik pianis yang sudah berkiprah di kelas internasional, Fantaisie Music School. Awang dan Mitha beberapa kali menjadi patner saat melakukan showcase, hingga pada akhirnya Awang memutuskan untuk mengambil beasiswa sekolah musik ternama di dunia, yaitu di Tokyo University of Arts. Tentu saja, Awang meminta persetujuan Vina lebih dahulu, dan dengan berat hati Vina mengiyakan keinginannya tersebut. Mitha tidak habis pikir dengan keputusan Vina.

"Kamu tahu mengapa persahabatan kita sangan berbeda dengan persahabatan orang lain? Karena Tuhan sudah menggariskan jalan hidup kita. Bahwa kita akan menyukai laki-laki yang sama. Laki-laki yang memasuki kehidupan kita secara bersamaan, dan Tuhan memberi kita hati yang besar, dan sedikit hormon sehingga kita tidak akan pernah bertengkar memperebutkannya.” (halaman 125)

“Aku berbeda dengan Vina, Hati yang besar hanyalah sebuah penyiksaan diri. “Kenapa kamu membiarkannya pergi jika kamu sangat mencintainya?” Because I love him so much and it hurts.” (halaman 125)

“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita kan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does” (halaman 127)

...

Tujuh tahun kemudian, yaitu pada tahun 2012. Semuanya berubah. Mitha menjadi sangat membenci Vina. Baginya Vina adalah peruntungan buruk, Vina telah menghancurkan semua mimpi-mimpinya. Kecelakan itu, terjadi empat tahun yang lalu telah membuat Mitha lumpuh, terlihat menyedihkan—setidaknya anggapannya bagi dirinya sendiri. Mitha enggan bertemu dengan orang lain, terutama Vina yang seolah menghasihani ketunaannya. Selama itu pula Mitha mengurung diri di dalam kamar.

Sementara itu, Vina yang saat itu bekerja pada sebuah lembaga pers sudah kehabisan cara bagaimana menghidupkan kembali semangat hidup sahabatnya, yang menolak mentah-mentah menemuinya. Untuk itulah, dia terbang ke Tokyo, menemui Awang, untuk Mitha.

“Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Kupikir aku tidak akan berhenti berharap, dan akan baik-baik saja selama itu. Kupikir aku tidak akan pernah putus asa. Namun ketika menatap diriku sendiri, aku tidak bisa mengenali diriku lagi” (halaman 133)

Pada puncaknya, dengan bantuan Awang dan rekannya, Mitha kembali bermain piano bahkan mengikuti kompetisi internasional, menjadi salah satu kompetitor Awang, sesuai janji mereka berdua saat masih SMA. Keduanya berhasil memasuki babak final. Saat itu pulalah, kebencian Mitha kepada Vina mencapai puncaknya.

“Ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidakkah kamu sadar semua orang telah berubah? Mitha yang kamu kenal sekarang bukan Mitha yang kamu kenal dulu.” (halaman 215)

“Aku menjahuimu karena aku muak dengan kenaifanmu, dengan kamu yang selalu berusaha membantuku keluar dari kesulitan hidupku, dan merasa mengetahui apa yang paling baik untukku dan bertidak seperti malaikat tanpa kuminta! Dari awal kamu hadir dalam hidupku untuk merusak kebahagiaanku. Kamu merebut Awang dari dariku, membiarkannya pergi dari sisiku delapan tahun lalu, dan membuatku lumpuh. Tidakkah semua ini cukup menyadarkanmu untuk pergi dari kehidupanku?” (halaman 216)

Pada saat yang bersamaan, dalam kondisi di mana cinta Mitha pada Awang yang sangat tidak terkendali dan Vina yang meragu antara berkorban untuk sahabatnya atau memperjuangkan cintanya, tanpa disadari Awang memberikan cintanya pada dua orang yang pernah bersahabat tersebut, meskipun dengan proporsi yang berbeda. Mereka harus memilih.

“Aku tertegun. Walaupun aku tahu jauh di lubuk hatinya, Awang sangat menyayangi Mitha, ketika mengetahui jika mungkin saja Awang mencintai Mitha, aku tidak siap menerimanya.” (halaman 277)

“Karena aku tidak ingin kehilangan Awang lagi, Mit,”potongku dingin” (halaman 278)

“Pilih, Awang. Kamu nggak bisa memiliki kami berdua sekaligus, “kataku akhirnya dan Mitha sekali lagi menyambutku dengan tawa menghina.” (halaman 281)

Bukan, ternyata bukan mereka yang memilih, tetapi takdir…

Tuesday, June 6, 2017

Doa

Di atas sana (mungkin) Tuhan sedang tersenyum, teduh memandangi mereka yang sedang  khusyuk terduduk bermunajat.
Sebagian dari mereka melantunkan pujian syukur.
Sebagian dari mereka memohonkan kekuatan dan keteguhan.
Sebagian dari mereka berpasrah diri, tidak tahu harus apa dan bagaimana.
Dalam doa.

Tuhan kembali tersenyum, kemudian menjawab doa mereka.
"Iya, boleh" untuk sebagian mereka,
"Iya, boleh tapi yang lain" untuk sebagian yang lain,
"Iya, boleh tapi tidak sekarang" untuk yang lainnya.

Kemudian, sebagian dari mereka masih tetap berdoa--tetap bersabar atas jawaban doa yang belum sesuai dengan pengharapan atau tetap berusaha mengumpulkan doa demi doa untuk mengetuk pintu-pintu langit.
Sebagian dari mereka lupa untuk tetap berdoa--(mungkin) doa telah terjawab atau justeru menyerah mendoa.

Sementara itu, di waktu yang sama, yang juga tidak luput dari penglihatanNya, adalah mereka yang sedang lupa.
Sebagian dari mereka sedang bersuka ria, dan sebagian yang lainnya sedang gundah gelisah.

Sekali lagi Tuhan tetap tersenyum, bersabar menunggu mereka ingat pada-Nya.
Tangan-tanganNya terbuka lebar, bagi siapa saja yang ingin datang dan berpeluk.
Sangat bersabar menunggu.

Adakalanya bila rinduNya tidak tertahan lagi, Tuhan akan menyapa mereka dengan sapaanNya yang lembut.
Namun apabila rindu tidak terindahkan, Tuhan memiliki cara terbaik untuk meyampaikan rinduNya.

Tok-tok-tok
"Duhai hati tidakah kamu merinduKu?
Tidakkah kamu ingin berdekat berpeluk denganKu,
sementara Aku amat sangat merindukanmu?"
(Mungkin) di saat itulah sebagian dari mereka merasa hatinya hancur, atau minimal, tidak lagi utuh.
Bagaimana tetap bisa utuh manakala hati diketuk dengan rindu dan cemburu?

Sunday, June 4, 2017

Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Ramadhanmu? Semoga semangat untuk beribadah dan belajar (apapun) senantiasa terjaga. Sudah lama ingin menulis, namun sayangnya apa yang semula mau ditulis dengan cepat menguap ketika sudah duduk dan membuka notebook. Apapun, ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran ya.

Akhirnya! Akhirnya bisa menulis lagi, dan yang paling penting adalah hari ini berhasil berkunjung ke salah satu perpustakaan, di Jakarta. Setelah hampir 21 bulan di Jakarta, akhirnya terealisasi! Hari ini aku ke Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta yang beralamat di Jalan Cikini Raya RT8/RW2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat. Perpustakaan ini berada di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, di bagian depan sehingga mudah ditemukan terlebih tulisan nama gedungnya mudah terlihat dari jalan raya.

Bagi pengunjung baru, perpustakaan ini cukup informatif--sehingga tidak membuat orang yang datang sendiri menjadi seperti orang hilang. Hehe. Setelah melewati pintu masuk, Bapak satpam yang duduk di meja sebelah kiri akan menyapa dan meminta pengunjung untuk mengisi buku tamu. Di sepanjang jalan menuju pintu perpustakaan (yang sebelumnya adalah pintu masuk bangunannya-red) terdapat pajangan gambar-gambar anak dan beberapa hasil karya tangan. Cantik. Setelah pintu masuk, kita akan diminta mengisi daftar hadir lewat komputer, di sisi sebelah kanan. Selain itu, kita juga bisa meminjam kunci loker, cukup dengan menjaminkan kartu identitas. Hanya saja, bagi non-anggota tidak bisa menggakses wifi, sementara itu keanggotaan hanya bagi pengunjung yang berkartu identitas DKI Jakarta. Hiks.

Perpustakaan ini relatif lebih besar dari perpustakaan yang pernah aku kunjungi sebelumnya di Yogyakarta (waktu itu Perpusataan Grhatama Pustaka BPAD belum dibangun-red). Kesan pertama tentang perpustakaan ini adalah bersih. Selain itu, penataan perpustakaan relatif rapi dan tidak padat (terkesan tidak terlalu penuh). Perpustakaan terdiri dari tiga lantai, yaitu lantai pertama merupakan perpustakaan umum, lantai kedua merupakan perpustakaan anak dan area playground, sedangkan lantai tiga merupakan area buku referensi. Perpustakaan memiliki toilet pada setiap lantainya dan mushola pada lantai satu, dan kondisinya bersih.

Pengunjung perpustakaan cukup banyak, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Berhubung hanya sendiri, pada kunjungan kali ini aku hanya berputar-putar di lantai satu saja. Itupun hanya berkeliling sebentar, kemudian mengetik tugas yang sempat tertunda-tunda. Semoga masih berkesempatan untuk mengeksplor bagian yang lain dan membaca buku-bukunya. Sayang kan, kalau ke perpustakaan tapi tidak membaca buku. Di lantai satu, kondisi ruangannya relative nyaman, jauh dari kesan kuno dan membosankan. Selain itu terdapat rak-rak buku, lantai satu juga dilengkapi dengan meja komputer, meja kerja, meja diskusi dan meja baca. Di lantai satu juga terdapat banyak colokan listrik, jadi jangan khawatir.

Oh iya, berhubung terdapat fasilitas loker, jaket dan tas tidak diperbolehkan dibawa masuk ke dalam ruangan, softcase notebook pun dianjurkan untuk tidak dibawa masuk. Beberapa menit sekali, terdapat petugas yang berkeliling memantau ruangan. Meskipun aku dan beberapa teman terkadang beranggapan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, namun alangkah lebih bijaknya jika ditaati, demi kenyamanan bersama, peraturan dibuat untuk menjaga harmonisasi. Haha

Saat Ramadhan, jam operasional perpustakaan ini adalah tujuh hari dalam satu minggu, yaitu dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Cukup kooperatif, daripada menghabiskan seluruh weekend untuk diam dan tidur di kost-an. 

Sunday, April 16, 2017

Belum Berjudul (4)

Aku tahu, Tuhan tidak akan pernah mengizinkanku lari. Sebentar saja. Beri aku waktu. Setelah itu, kupastikan setiap mililiter luka akan kudekap erat dan kunikmati perihnya. Jangan memandangku seperti itu, aku lebih kuat dari yang pernah kamu pikirkan. Aku hanya perlu membiasakan diri.

Aku pikir kamu harus bercerita, sekarang giliran aku mendengarkanmu, sepanjang apapun aku siap, katanya.

Kamu pernah mendengar taman labirin? Bila kamu berkesempatan meminjam baling-baling bambu doraemon, terbanglah lihatlah dari ketinggian. Bagus bukan? Hijau, menyejukkan, mendamaikan sekaligus membuat penasaran. Namun kamu harus berhati-hati, gravitasinya sangat kuat.  Kamu mungkin akan terbang mendekat untuk menjawab rasa penasaranmu, tetapi secara sadar atau tidak, kemudian kamu tertarik ke bawah. Kalau sudah begitu, persiapkan bagaimana kamu akan mendarat saat jatuh nanti. Pastikan kakimu tidak patah dan kepalamu tidak terbentur keras. Sebab, kamu harus berjalan dan mencari pintu keluar. Sebab, di sana gelap, sepi, sesak dan menakutkan.

Eh? Gumamnya. Dia mencoba menatap mataku, mungkin untuk meyakinkan diri kalau aku tidak sedang mendongeng. Aku sengaja tidak menatapnya.

Aku baru saja jatuh di sana, lanjutku. Di taman labirin yang sangat luas, bernama cinta. Aku jatuh tanpa bersiap mendarat. Aku jatuh membentur batu padas hitam, kemudian terbanting di semak dan perdu. Masih beruntung kepalaku tidak terluka, aku masih bisa berjalan meskipun terpincang-pincang. Di sini seperti dipenuhi dementor yang terbang ke sana kemari, bergantian menghampiriku. Jadi tolong, bantu aku, bawa aku keluar dari tempat ini.

Kamu benar-benar sedang tidak sehat, katanya prihatin.

Iya, aku pusing sekali kataku.

Ayo kita pulang, kamu aku antar, katanya.

Aku hanya mengangguk, segera ku kemasi barangku.

Aku pulang sendiri saja ya, kataku kepadanya. Tempat tinggalku dekat dari sini, lanjutku. Aku tidak apa-apa kok, aku hanya butuh waktu, aku hanya butuh waktu untuk berbicara dengan diriku sendiri. Setelah itu, aku akan baik-baik saja, kamu juga tahu kalau aku lebih kuat dari pada orang yang bisa lihat, kan? Aku kembali meyakinkanmu, dan berhasil.

Antrian taksi sudah sampai pada giliranku, segera aku masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan padanta. Petang sudah berganti malam, bukan berhenti hujan semakin lebat, namun tidak mengurangi pengunjung yang semakin ramai berdatangan untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluaga, sahabat atau pasangan. Pusat perbelanjaan menjadi salah satu tempat alternatif bagi sebagian besar penduduk yang tinggal di sini untuk memanfaatkan momen saat tidak bekerja.


...bersambung

Saturday, April 1, 2017

Tanpa Judul (5)

Hidup adalah perlombaan dengan waktu, bukan dengan orang lain.
Apakah hari ini lebih baik dari kemarin?
Apakah bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya?
Apakah tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya?
Bukan mengenai siapa yang lebih baik.
Kamu, dia, atau mereka.

Kamu dengan yang lain tidak akan pernah sepadan untuk diperbandingkan.
Tidak akan pernah apple to apple.
Setiap manusia telah diciptakan dengan sebaik-baiknya (dalam versinya masing-masing), kata Tuhan.
Maka, jadilah yang paling baik dari diri sendiri.
Kamu tidak akan pernah dapat berhenti apabila terus membandingkan dengan yang lain,
dan itu akan sangat melelahkan,
sebab di atas langit masih ada langit.

Kemudian, apabila pada satu kondisi kamu dikaruniai kelebihan pada satu hal, sementara orang lain tidak,
maka bukan berati kamu lebih dari dia.
Tuhan Mahaadil, mungkin kamu hanya belum melihat kelebihannya pada hal lain--yang kamu tidak punya.
Jadi, kamu tidak berhak merasa lebih a.k.a sombong..
Lagi pula, tanpa kehendak Tuhan, kamu bukan apa-apa sama sekali.

Sunday, March 19, 2017

Belum Berjudul (3)

Kamu kenapa?  Aku kenapa?
Sore ini aku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Tidak terlalu ramai. Selain karena pusat perbelanjaan tersebut kurang menarik, memang ini masih terlalu sore. Mungkin dua atau tiga jam lagi, seharusnya akan lebih ramai. Lagi pula ini weekend. Dua jam lagi. Aku memiliki janji untuk bertemu dengan seorang temanku, di sini. Masih lama. Tidak seperti biasanya aku datang jauh-jauh jam sebelum waktu yang ditentukan. Dengan datang lebih awal, aku berharap dapat berjalan-jalan sebentar untuk menaikkan mood. Yang terjadi adalah aku hampir beberapa kali hampir jatuh saat di tengah ekskalator, keseimbanganku sedang tidak baik.

Aku memutuskan untuk mencari bangku di sebuah tempat makan dekat lobi.  Aku memesan sebuah minuman dan camilan karena aku tidak terlalu lapar, atau lebih tepatnya tidak berselera makan. Hal yang menarik untuk dilakukan saat sendiri di tengah keramaian adalah memperhatikan sekeliling. Sayang, tidak ada yang menarik perhatianku. Hanya beberapa orang yang keluar masuk dari lobi yang kebetulan terlihat dari tempat aku duduk sekarang.

Ternyata hujan. Bagi sebagian orang, hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Bagi sebagian yang lain, hujan adalah waktu dimana kenangan seperti disiram. Bermunculan kembali. Seperti basah yang tertinggal ketika hujan berhenti, kenangan tidak pergi begitu saja tanpa menyisakan satu dua hal yang mengganggu. Seharusnya, hujan tidak ada hubungannya dengan hal semacam itu—aku tidak menemukan istilah yang tepat untuk menyebutnya. Hujan ya hujan. Itu saja.

Temanku sudah datang, satu jam lebih awal dari waktu yang disepakati. Agak sedikit basah dia berjalan ke arahku. Kemudian dia ke depan kasir mengantri makanan setelah meletakan tasnya di bangku. Sembari dia makan siang (atau makan sore menjelang malam), dia bercerita banyak tentang persiapan sekolahnya. Dia agak mengernyitkan keningnya ketika aku tampak bengong sewaktu dia menanyakan pendapatku. Pendapat apa ya, aku sama sekali tidak  ingat sampai dimana ceritanya. Aku berusaha mengingat, tetapi yang aku ingat adalah bahwa sebentar lagi dia akan ujian semacam tes potensi akademik. Itu saja. Lalu aku harus memberi saran apa? Sepertinya dia tidak meminta saranku untuk hal ini. Lalu apa?

Dia menepuk pundakku pelan. Dia bertanya aku ini kenapa. Reflek, aku membalikkan pertanyaan ke dia, aku ini kenapa. Aku bertanya pada diriku sendiri, lagi-lagi aku ini kenapa? Dia menghentikan makannya, menatap fokus ke mataku dan kembali bertanya, kamu kenapa?
Aku ingin menjawab aku tidak apa-apa. Tetapi percuma, aku tidak bisa meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Selain itu, aku juga tidak cukup banyak energi untuk terlihat kuat, aku sedang tidak baik-baik saja. Tetapi bagaimana cara menjelaskan ke-tidak baikanku ini. Apa dia mengerti? Ada luka di dalam sana, yang aku tidak tahu di bagian mana. Aku hanya bisa merasakan. Rasanya sangat perih. Aku ingin beteriak kencang, berlari sejauh mungkin agar rasa sakit ini hilang. Seorang pernah bilang bahwa ketika sakit gigi, maka menangis dapat membantu meredakan nyerinya. Jadi, aku ingin menangis sekeras-kerasnya, tetapi tangisku tertahan di dada.

Aku mulai mempertimbangkan untuk bercerita padanya. Dia adalah temanku, dia mempercayaiku. Sekarang giliranku untuk mempercayainya. Rupanya dia masih menatapku, menungguku berbicara. Aku tidak menghitung sudah berapa menit aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Baiklah aku akan mulai bercerita, kataku kepadanya.
Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku bilang padanya agar jangan menertawakan aku, pun jika yang aku ceritakan nanti adalah hal bodoh dan drama. Aku bingung dari mana harus memulai ceritaku—sama halnya dengan aku yang tidak tahu sejak kapan dan bagaimana aku bisa menyukaimu. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka perasaan semacam itu akan ada. Hingga, pada satu waktu aku merasakan ada hal yang berbeda. Dulu aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa sudah yang terjadi. Dan, hal yang seharusnya tidak aku lakukan pada saat itu adalah bahwa aku melakukan pengakuan di hadapan diri sendiri bahwa aku menyukaimu. Padahal jauh sebelumnya aku pernah membaca bahwa, kita akan jatuh cinta ketika kita mengizinkan jiwa kita untuk jatuh cinta. Sejak saat itu, seluruh bagian dariku seolah membuka diri, melakukan penerimaan. Aku telah melakukan kesalahan.

Dia tampak semakin bingung. Mungkin aku tampak seperti orang yang sedang meracau. Dia meletakkan punggung tangannya di keningku. Suhu badanku sangat panas, aku demam, aku perlu ke dokter katanya. Dia tidak tahu, aku tidak sedang sakit, aku tidak perlu ke dokter, aku hanya perlu menghilang, pergi jauh ke tempat yang hanya aku saja yang tahu, sebentar saja. Aku ingin melarikan diri, sampai aku merasa kuat kembali. Aku tahu, Tuhan tidak akan pernah mengizinkanku lari. Sebentar saja.


...bersambung

Saturday, March 11, 2017

Belum Berjudul (2)

Dalam Perjalanan: Istirahat
Aku mulai kelahan. Penat tidak dapat aku tahan lagi, maka ku putuskan mencari bangku di tengah taman yang letaknya tidak berapa jauh dari titik ku berdiri sekarang. Ku lihat ada beberapa bangku yang masih kosong, sedangkan beberapa bangku terisi satu atau dua orang. Ada yang duduk sendiri, mungkin menunggu temannya atau sekedar mencari udara yang mungkin relatif lebih segar, atau mampir beristirahat sepertiku. Ada yang duduk berdua, sibuk memainkan handphone masing-masing atau ada juga yang sepertinya asyik mengobrol. Juga ada yang duduk bergerombol.

Kursi di dekat segerombolan laki-laki yang sedang berlatih biola menarik perhatianku. Entah mengapa, entah sejak kapan aku menyukai suara biola. Padahal aku tidak banyak tahu menahu. Jangankan biola, pengetahuanku di bidang seni musik saja sangat payah. Warna hijau dan udara yang sejuk membuatku merasa sedikit nyaman. Ku lihat sekeliling, tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang sedang berlari-lari memutari taman, jogging sore. Sekali, dua kali para pedagang, laki-laki, perempuan, muda, paruh baya menawarkan jajanan atau sekedar minuman.

"Cah ayu, nanti kalau mau pesan minuman ibu ada ya," kata seorang ibu menghampiriku. Aku terkesan. Entah, frasa itu terdengar begitu sejuk, sebutan yang dulunya sangat akrab, tapi ternyata aku cukup lama tidak mendengarnya. Haha jangan salah paham, aku tidak berharap dibilang atau dipanggil cantik. Di tempat tinggalku dulu, panggilan tersebut merupakan panggilan sayang, penuh kasih sayang.
….
Baru beberapa menit duduk, rasa tidak nyaman mulai kembali terasa. Ada perasaan yang tidak bisa aku definisikan, tetapi yang pasti itu mengganjal. Bayanganmu pelan-pelan mulai datang, kemudian mondar-mandir di kepalaku. Aku harus bagaimana? Selama waktu berjalan, semenjak aku meninggalkan kursi tungguku itu, aku sudah mencoba mengakali diri. Aku berusaha menyibukan diri untuk tidak mengingatmu, tetapi yang terjadi adalah aku sibuk mencari cara untuk melupakanmu. Dan menjadi tidak adil, bahwa ternyata hanya perlu waktu sebentar kamu menggagalkan usahaku, sangat mudah.

Apa hanya aku yang merasakan kegelisahan ini?

Lampu-lampu taman telah menyala, menggantikan siang, membangunkan nyamuk-nyamuk taman untuk mencari makan. Udara yang tadi terasa sejuk, menjadi dingin. Hari sudah semakin gelap, aku harus bergegas pulang.


 ...bersambung

Saturday, February 25, 2017

Belum Berjudul (1)

Prolog
Menunggu itu membosankan. Bosan dengan gelisah yang datang karena yang ditunggu belum tentu datang. Gelisah dengan kemungkinan bahwa yang tunggu tidak pernah tahu. Gelisah karena tidak tahu siapa yang ditunggu.
Aku hanya dapat menunggu, sembari menyibukkan diri mencari kesibukan. Kesibukan yang dapat mengalihkan bosannya menghabiskan waktu tunggu. Alih-alih teralih. Hari terus berganti, dan musim berubah, sementara aku hanya duduk dan sesekali berdiri melongokkan kepala, menunggu. Tidak berpindah tempat, dan terus terpaku pada satu pemandangan yang sama.
Sampai kapan aku akan menunggu? Emansipasi wanita telah lama dimulai, tetapi aku hanya dapat menunggu. Sampai kapan aku dapat menikmati bosannya merasa gelisah? Sampai kapan aku  dapat menahan diri untuk tidak menyebut sebuah nama di atas sajadah? Menambah daftar panjang jajaran orang tangguh, yang dapat terus memelihara cinta dalam diam. Dalam keramaian hati, di tengah sunyinya kata.

Melangkah
Hari ini aku memutuskan untuk melangkah. Tidak mudah menggerakkan kaki untuk meninggalkan kursi tunggu. Di dalam dada yang tidak bisa diraba, terasa seperti ada sesuatu yang berontak. Protes, meneriakiku, bahwa aku harus tetap menunggu, bahwa aku sebenarnya masih memiliki keyakinan bahwa kamu akan datang, bahwa aku sebenarnya tahu bahwa kamu tahu kalau aku menunggu. Tetapi, menunggu  tanpa keyakinan seratus persen bahwa yang ditunggu akan datang itu…, sebaiknya jangan pernah dilakukan. Aku membacanya dari tulisan seorang yang bijak. Ya, aku setuju.

Aku merasa perlu melihat pemandangan lain. Aku bertekad untuk melangkah, berjalan, mencoba peruntungan. Kalau beruntung, nanti aku mungkin akan mungkin aku berpapasan denganmu. Saling sapa, kemudian meneruskan langkah masing-masing. Berjalan bersama, kemudian berpisah kembali di persimpangan jalan.  Jika masih peruntunganku, mungkin dipersimpangan jalan yang lain aku dan kamu bertemu kembali. Kembali berjalan satu dengan yang lain karena memiliki tujuan yang sama. Aku dan kamu menjadi kita. Wah, walaupun sudah memutuskan untuk bergerak pergi ternyata harapan itu masih ada.

Aku sudah mulai berjalan, tetapi masih saja kamu, kamu, dan kamu di kepalaku. Kamu pernah membayangkan tidak, bagaimana jika peruntunganku mempertemukanku dengan dia, dia yang lain atau dia yang lainnya lagi?

Biarlah waktu yang akan menceritakan takdir dalam perjalanan yang baru saja aku mulai ini. Jangan khawatir, aku akan berusaha menuliskan ceritaku di sepanjang perjalanan nanti. Jadi, seandainya aku berpapasan denganmu dan tidak sempat bercerita atau bahkan aku tidak pernah bertemu denganmu, kamu bisa menyimak ceritaku. Kamu suka mendengarkanku bercerita bukan? 


...bersambung

Tuesday, January 31, 2017

Tanpa Judul (4)

Pada akhirnya, cinta dimiliki oleh keberanian; sebab selain kegembiraan, cinta adalah kesedihan; selain mengobati, cinta dapat menyakiti; dan selain dapat menghidupkan, cinta dapat mematikan.

Juga cinta adalah saling.
Landak yang saling mendekat dan merapatkan diri akan saling menghangatkan, namun juga melukai--karena duri di tubuhnya.

Setiap kehidupan sudah membawa setengah dari cintanya. Pekerjaaan selanjutnya adalah kepada siapa dia berani melengkapkan cintanya?

Tuesday, November 8, 2016

Tanpa Judul (3)

Allah, Tuhan-ku
Terima kasih ya Allah, Engkau benar mengirimkan malaikat untuk menjagaku di dunia ini.
Bersamanya dunia begitu damai, terasa bersahabat

Kemudian waktupun bergulir, dan setapak demi setapak mulai ku telusuri seiris kecil kehidupan -- aku sedang di dunia

Tetapi ya Allah, apabila nanti Engkau bertanya tentang bagaimana dunia
Yaitu bahwa Engkau benar, dunia ini memang gemerlap
Gemerlap, tapi tak bercahaya
Kamuflase
Gemerlap, tapi tak lama
Fana

Ya Allah, tak ada satu pun lepas dari pengawasanMu
Tentang saudaraku yang mencari keadilan di dunia ini, tetapi yang kulihat ternyata dunia ini tidak adil
Tentang saudaraku yang mencari kebenaran, tetapi yang kudengar adalah simpang siur
Kebohongan dan fitnah keji bertebaran
Mengaburkan apa itu adil dan benar

Aku, aku, aku harus bagaimana dengan dunia ini
Aku ingin ikut saudaraku itu, tapi aku terlalu takut
Tetapi ya Allah, aku sungguh tidak bisa mengetahui saudaraku diperlakukan seperti itu
Engkau Maha Mendengar, terlebih doa-doa orang tersakiti yang ter(di)bungkam
Ya Allah dengarkan doa saudaraku
Dan memang keadilan dan kebenaran hanya milik-Mu


"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia"
(Ali bin Abi Thalib)