Sunday, March 19, 2017

Belum Berjudul (3)

Kamu kenapa?  Aku kenapa?
Sore ini aku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Tidak terlalu ramai. Selain karena pusat perbelanjaan tersebut kurang menarik, memang ini masih terlalu sore. Mungkin dua atau tiga jam lagi, seharusnya akan lebih ramai. Lagi pula ini weekend. Dua jam lagi. Aku memiliki janji untuk bertemu dengan seorang temanku, di sini. Masih lama. Tidak seperti biasanya aku datang jauh-jauh jam sebelum waktu yang ditentukan. Dengan datang lebih awal, aku berharap dapat berjalan-jalan sebentar untuk menaikkan mood. Yang terjadi adalah aku hampir beberapa kali hampir jatuh saat di tengah ekskalator, keseimbanganku sedang tidak baik.

Aku memutuskan untuk mencari bangku di sebuah tempat makan dekat lobi.  Aku memesan sebuah minuman dan camilan karena aku tidak terlalu lapar, atau lebih tepatnya tidak berselera makan. Hal yang menarik untuk dilakukan saat sendiri di tengah keramaian adalah memperhatikan sekeliling. Sayang, tidak ada yang menarik perhatianku. Hanya beberapa orang yang keluar masuk dari lobi yang kebetulan terlihat dari tempat aku duduk sekarang.

Ternyata hujan. Bagi sebagian orang, hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Bagi sebagian yang lain, hujan adalah waktu dimana kenangan seperti disiram. Bermunculan kembali. Seperti basah yang tertinggal ketika hujan berhenti, kenangan tidak pergi begitu saja tanpa menyisakan satu dua hal yang mengganggu. Seharusnya, hujan tidak ada hubungannya dengan hal semacam itu—aku tidak menemukan istilah yang tepat untuk menyebutnya. Hujan ya hujan. Itu saja.

Temanku sudah datang, satu jam lebih awal dari waktu yang disepakati. Agak sedikit basah dia berjalan ke arahku. Kemudian dia ke depan kasir mengantri makanan setelah meletakan tasnya di bangku. Sembari dia makan siang (atau makan sore menjelang malam), dia bercerita banyak tentang persiapan sekolahnya. Dia agak mengernyitkan keningnya ketika aku tampak bengong sewaktu dia menanyakan pendapatku. Pendapat apa ya, aku sama sekali tidak  ingat sampai dimana ceritanya. Aku berusaha mengingat, tetapi yang aku ingat adalah bahwa sebentar lagi dia akan ujian semacam tes potensi akademik. Itu saja. Lalu aku harus memberi saran apa? Sepertinya dia tidak meminta saranku untuk hal ini. Lalu apa?

Dia menepuk pundakku pelan. Dia bertanya aku ini kenapa. Reflek, aku membalikkan pertanyaan ke dia, aku ini kenapa. Aku bertanya pada diriku sendiri, lagi-lagi aku ini kenapa? Dia menghentikan makannya, menatap fokus ke mataku dan kembali bertanya, kamu kenapa?
Aku ingin menjawab aku tidak apa-apa. Tetapi percuma, aku tidak bisa meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Selain itu, aku juga tidak cukup banyak energi untuk terlihat kuat, aku sedang tidak baik-baik saja. Tetapi bagaimana cara menjelaskan ke-tidak baikanku ini. Apa dia mengerti? Ada luka di dalam sana, yang aku tidak tahu di bagian mana. Aku hanya bisa merasakan. Rasanya sangat perih. Aku ingin beteriak kencang, berlari sejauh mungkin agar rasa sakit ini hilang. Seorang pernah bilang bahwa ketika sakit gigi, maka menangis dapat membantu meredakan nyerinya. Jadi, aku ingin menangis sekeras-kerasnya, tetapi tangisku tertahan di dada.

Aku mulai mempertimbangkan untuk bercerita padanya. Dia adalah temanku, dia mempercayaiku. Sekarang giliranku untuk mempercayainya. Rupanya dia masih menatapku, menungguku berbicara. Aku tidak menghitung sudah berapa menit aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Baiklah aku akan mulai bercerita, kataku kepadanya.
Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku bilang padanya agar jangan menertawakan aku, pun jika yang aku ceritakan nanti adalah hal bodoh dan drama. Aku bingung dari mana harus memulai ceritaku—sama halnya dengan aku yang tidak tahu sejak kapan dan bagaimana aku bisa menyukaimu. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka perasaan semacam itu akan ada. Hingga, pada satu waktu aku merasakan ada hal yang berbeda. Dulu aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa sudah yang terjadi. Dan, hal yang seharusnya tidak aku lakukan pada saat itu adalah bahwa aku melakukan pengakuan di hadapan diri sendiri bahwa aku menyukaimu. Padahal jauh sebelumnya aku pernah membaca bahwa, kita akan jatuh cinta ketika kita mengizinkan jiwa kita untuk jatuh cinta. Sejak saat itu, seluruh bagian dariku seolah membuka diri, melakukan penerimaan. Aku telah melakukan kesalahan.

Dia tampak semakin bingung. Mungkin aku tampak seperti orang yang sedang meracau. Dia meletakkan punggung tangannya di keningku. Suhu badanku sangat panas, aku demam, aku perlu ke dokter katanya. Dia tidak tahu, aku tidak sedang sakit, aku tidak perlu ke dokter, aku hanya perlu menghilang, pergi jauh ke tempat yang hanya aku saja yang tahu, sebentar saja. Aku ingin melarikan diri, sampai aku merasa kuat kembali. Aku tahu, Tuhan tidak akan pernah mengizinkanku lari. Sebentar saja.


...bersambung

Saturday, March 11, 2017

Belum Berjudul (2)

Dalam Perjalanan: Istirahat
Aku mulai kelahan. Penat tidak dapat aku tahan lagi, maka ku putuskan mencari bangku di tengah taman yang letaknya tidak berapa jauh dari titik ku berdiri sekarang. Ku lihat ada beberapa bangku yang masih kosong, sedangkan beberapa bangku terisi satu atau dua orang. Ada yang duduk sendiri, mungkin menunggu temannya atau sekedar mencari udara yang mungkin relatif lebih segar, atau mampir beristirahat sepertiku. Ada yang duduk berdua, sibuk memainkan handphone masing-masing atau ada juga yang sepertinya asyik mengobrol. Juga ada yang duduk bergerombol.

Kursi di dekat segerombolan laki-laki yang sedang berlatih biola menarik perhatianku. Entah mengapa, entah sejak kapan aku menyukai suara biola. Padahal aku tidak banyak tahu menahu. Jangankan biola, pengetahuanku di bidang seni musik saja sangat payah. Warna hijau dan udara yang sejuk membuatku merasa sedikit nyaman. Ku lihat sekeliling, tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang sedang berlari-lari memutari taman, jogging sore. Sekali, dua kali para pedagang, laki-laki, perempuan, muda, paruh baya menawarkan jajanan atau sekedar minuman.

"Cah ayu, nanti kalau mau pesan minuman ibu ada ya," kata seorang ibu menghampiriku. Aku terkesan. Entah, frasa itu terdengar begitu sejuk, sebutan yang dulunya sangat akrab, tapi ternyata aku cukup lama tidak mendengarnya. Haha jangan salah paham, aku tidak berharap dibilang atau dipanggil cantik. Di tempat tinggalku dulu, panggilan tersebut merupakan panggilan sayang, penuh kasih sayang.
….
Baru beberapa menit duduk, rasa tidak nyaman mulai kembali terasa. Ada perasaan yang tidak bisa aku definisikan, tetapi yang pasti itu mengganjal. Bayanganmu pelan-pelan mulai datang, kemudian mondar-mandir di kepalaku. Aku harus bagaimana? Selama waktu berjalan, semenjak aku meninggalkan kursi tungguku itu, aku sudah mencoba mengakali diri. Aku berusaha menyibukan diri untuk tidak mengingatmu, tetapi yang terjadi adalah aku sibuk mencari cara untuk melupakanmu. Dan menjadi tidak adil, bahwa ternyata hanya perlu waktu sebentar kamu menggagalkan usahaku, sangat mudah.

Apa hanya aku yang merasakan kegelisahan ini?

Lampu-lampu taman telah menyala, menggantikan siang, membangunkan nyamuk-nyamuk taman untuk mencari makan. Udara yang tadi terasa sejuk, menjadi dingin. Hari sudah semakin gelap, aku harus bergegas pulang.


 ...bersambung

Saturday, February 25, 2017

Belum Berjudul (1)

Prolog
Menunggu itu membosankan. Bosan dengan gelisah yang datang karena yang ditunggu belum tentu datang. Gelisah dengan kemungkinan bahwa yang tunggu tidak pernah tahu. Gelisah karena tidak tahu siapa yang ditunggu.
Aku hanya dapat menunggu, sembari menyibukkan diri mencari kesibukan. Kesibukan yang dapat mengalihkan bosannya menghabiskan waktu tunggu. Alih-alih teralih. Hari terus berganti, dan musim berubah, sementara aku hanya duduk dan sesekali berdiri melongokkan kepala, menunggu. Tidak berpindah tempat, dan terus terpaku pada satu pemandangan yang sama.
Sampai kapan aku akan menunggu? Emansipasi wanita telah lama dimulai, tetapi aku hanya dapat menunggu. Sampai kapan aku dapat menikmati bosannya merasa gelisah? Sampai kapan aku  dapat menahan diri untuk tidak menyebut sebuah nama di atas sajadah? Menambah daftar panjang jajaran orang tangguh, yang dapat terus memelihara cinta dalam diam. Dalam keramaian hati, di tengah sunyinya kata.

Melangkah
Hari ini aku memutuskan untuk melangkah. Tidak mudah menggerakkan kaki untuk meninggalkan kursi tunggu. Di dalam dada yang tidak bisa diraba, terasa seperti ada sesuatu yang berontak. Protes, meneriakiku, bahwa aku harus tetap menunggu, bahwa aku sebenarnya masih memiliki keyakinan bahwa kamu akan datang, bahwa aku sebenarnya tahu bahwa kamu tahu kalau aku menunggu. Tetapi, menunggu  tanpa keyakinan seratus persen bahwa yang ditunggu akan datang itu…, sebaiknya jangan pernah dilakukan. Aku membacanya dari tulisan seorang yang bijak. Ya, aku setuju.

Aku merasa perlu melihat pemandangan lain. Aku bertekad untuk melangkah, berjalan, mencoba peruntungan. Kalau beruntung, nanti aku mungkin akan mungkin aku berpapasan denganmu. Saling sapa, kemudian meneruskan langkah masing-masing. Berjalan bersama, kemudian berpisah kembali di persimpangan jalan.  Jika masih peruntunganku, mungkin dipersimpangan jalan yang lain aku dan kamu bertemu kembali. Kembali berjalan satu dengan yang lain karena memiliki tujuan yang sama. Aku dan kamu menjadi kita. Wah, walaupun sudah memutuskan untuk bergerak pergi ternyata harapan itu masih ada.

Aku sudah mulai berjalan, tetapi masih saja kamu, kamu, dan kamu di kepalaku. Kamu pernah membayangkan tidak, bagaimana jika peruntunganku mempertemukanku dengan dia, dia yang lain atau dia yang lainnya lagi?

Biarlah waktu yang akan menceritakan takdir dalam perjalanan yang baru saja aku mulai ini. Jangan khawatir, aku akan berusaha menuliskan ceritaku di sepanjang perjalanan nanti. Jadi, seandainya aku berpapasan denganmu dan tidak sempat bercerita atau bahkan aku tidak pernah bertemu denganmu, kamu bisa menyimak ceritaku. Kamu suka mendengarkanku bercerita bukan? 


...bersambung

Tuesday, January 31, 2017

Tanpa Judul (4)

Pada akhirnya, cinta dimiliki oleh keberanian; sebab selain kegembiraan, cinta adalah kesedihan; selain mengobati, cinta dapat menyakiti; dan selain dapat menghidupkan, cinta dapat mematikan.

Juga cinta adalah saling.
Landak yang saling mendekat dan merapatkan diri akan saling menghangatkan, namun juga melukai--karena duri di tubuhnya.

Setiap kehidupan sudah membawa setengah dari cintanya. Pekerjaaan selanjutnya adalah kepada siapa dia berani melengkapkan cintanya?

Tuesday, November 8, 2016

Tanpa Judul (3)

Allah, Tuhan-ku
Terima kasih ya Allah, Engkau benar mengirimkan malaikat untuk menjagaku di dunia ini.
Bersamanya dunia begitu damai, terasa bersahabat

Kemudian waktupun bergulir, dan setapak demi setapak mulai ku telusuri seiris kecil kehidupan -- aku sedang di dunia

Tetapi ya Allah, apabila nanti Engkau bertanya tentang bagaimana dunia
Yaitu bahwa Engkau benar, dunia ini memang gemerlap
Gemerlap, tapi tak bercahaya
Kamuflase
Gemerlap, tapi tak lama
Fana

Ya Allah, tak ada satu pun lepas dari pengawasanMu
Tentang saudaraku yang mencari keadilan di dunia ini, tetapi yang kulihat ternyata dunia ini tidak adil
Tentang saudaraku yang mencari kebenaran, tetapi yang kudengar adalah simpang siur
Kebohongan dan fitnah keji bertebaran
Mengaburkan apa itu adil dan benar

Aku, aku, aku harus bagaimana dengan dunia ini
Aku ingin ikut saudaraku itu, tapi aku terlalu takut
Tetapi ya Allah, aku sungguh tidak bisa mengetahui saudaraku diperlakukan seperti itu
Engkau Maha Mendengar, terlebih doa-doa orang tersakiti yang ter(di)bungkam
Ya Allah dengarkan doa saudaraku
Dan memang keadilan dan kebenaran hanya milik-Mu


"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia"
(Ali bin Abi Thalib)

Sunday, August 21, 2016

Dirgahayu!

Terima kasih para pejuang--baik yang dikenal sebagai pahlawan maupun yang tidak, sehingga 71 tahun setelah bertahun estafet marathon perjuanganmu, aku dapat merasakan apa yang orang pada umumnya menyebut "kemerdekaan". Terima kasih, bagi kalian yang lebih dulu berjuang, yang tidak dikenal, yang penuh ikhlas mengorbankan apa yang diperlukan demi agar teks proklamasi dapat dibacakan dan digemakan di republik ini.

Kemerdekaan seharusnya membuat merdeka, sehingga tak ada yang didapatkan kecuali keadilan bukan?
Akan tetapi, ternyata kalian sudah paham jauh lebih dulu, dan sekarang aku baru mengerti, berharap dan berusaha mencari dan mendapatkan keadilan di republik ini, di dunia ini adalah hal yang menguras waktu, tenaga dan jiwa dari pada apa yang disebut keadilan itu akan adil bagiku. Jangan coba membuatku memahami bahwa keadilan di dunia tidak lebih dari ilusi, yang terkadang membuat lupa untuk menggantungkan perbuatan dan balasan hanya pada pemilik kehidupan. Dan itu sangat melelahkan. Dunia memang terlalu nyata hingga membelenggu jiwa, dan apalah arti raga tanpa jiwa yang merdeka.

Atau jangan-jangan aku memang harus terus berjuang, sebab seorang pernah berkata bahwa kemenangan (baca: kemerdekaan) hanyalah untuk mereka yang berjuang. Dan tidak ada kata lelah dalam kamus seorang pejuang. Pejuang tidak akan pernah berhenti, sebab perjuangan tidak akan pernah selesai.

Selamat 71 tahun Indonesiaku, semoga jiwa-jiwa aman dalam dekapanmu sehingga merdeka untuk memilih, mengikuti nurani tentang benar dan salah, lepas dari dikte dan dogma dunia.

Aku bukan sedang mencoba menggurui, memaknai apa arti merdeka.
Hanya saja ketika menjelang tanggal 17 Agustus, saat nuansa merah dan putih menghiasi setiap sudut republik ini--setidaknya sudut yang mampu kulewati dengan berjalan kaki atau menggonceng sepeda motor atau sesekali naik mobil sewaan, ada sebongkah rasa yang menyeruak di dada, memberikanku bayangan tentang peristiwa yang belum pernah aku lewati sama sekali. Adalah saat dimana teriakan merdeka atau mati menjadi begitu menggetarkan, atau teriakan allahu akbar saat tangan memegang erat sepotong bambu yang diruncingkan dengan bergelang janur kuning mampu mengeluarkan kekuatan dan keberanian yang maha. Saat itu hanya ada kata kita, kita adalah aku dan kamu yang disatukan dengan cinta. Meski ternodai dengan sekali dua kali penghianatan tikus-tikus penghamba sepotong keju untuk dia kerat. Meski sebagian tikus itu saat ini tetap hidup di gorong-gorong selokan atau di kolong meja saat republik ini sudah merdeka, dan tetap mengerat. Bah!

Masih dalam nuansa kemerdekaan, sebentar, coba ku kutipkan tulisan Kahlil Gibran untukmu. Begini ceritanya, Kahlil Gibran kutemukan saat aku sedang merasa terlalu lelah untuk melakukan sesuatu tetapi terlalu bosan untuk tidak melakukan apapun. Sementara itu, teman-teman di kota kelahiranku sedang sibuk berkegiatan dalam kerangka kemerdekaan RI--yang dulu sebelum merantau aku ada di tengah-tengah mereka. Sementara, teman-temanku di kota juga tengah sibuk dalam rangka acara yang sama dengan cara mereka. Dan aku iri jika harus diam dan sendiri. Dan aku benci jika harus menderita iri.

Begini dia menulis," Dan aku telah menemukan kekebasan dan keamanan dalam kegilaanku. Kebebasan kesendirian dan keamanan dari menjadi mengerti. Karena yang mengerti kita memperbudak sesuatu dari diri kita"

Masih tentang Gibran, membaca sedikit dari sekian banyak tulisannya membuatku merasa, yang saat ini aku tidak tahu harus mendefinisikan seperti apa. Bahkan jauh sebelum republik ini lahir, Gibran menuliskan paragraf-paragraf berikut.

"Jiwa penuh kepedihan menemukan ketenangan ketika bergabung dengan yang serupa. Mereka bersatu dengan penuh kasih sayang, bagaikan seorang asing yang diceriakan ketika ia melihat orang asing lain di tempat asing. Hati yang bersatu melalui perantara penderitaan tidak akan dipisahkan oleh kejayaan kebahagiaan. Cinta yang dibersihkan air mata akan selamanya murni dan indah."

Di paragraf yang lain ia menuliskan.
"Namun penyair adalah orang-orang yang tidak bahagia, karena betapa pun tinggi jiwa mereka , mereka akan terus tertutup dalam bungkus air mata"

Dan satu lagi, yang mungkin bisa sebagai pengingat bagi yang lupa.
"Setiap kali aku pergi ke ladang, aku kembali dengan kecewa, tanpa pemahaman apa yang menjadi penyebab kekecewaanku. Setiap kali aku memandang langit kelabu, aku merasa hatiku bedebar. Setiap kali aku mendengar nyanyian burung dan ocehan musim semi, aku menderita tanpa mengerti alasan penderitaanku. Katanya keburukan membuat seorang manusia merasa hampa dan kehampaan membuat dia riang. Mungkin benar untuk mereka yang lahir, mati dan yang seperti mayat membeku, namun pemuda sensitif yang merasakan banyak hal dan mengetahui paling sedikit adalah makhluk paling menyedihkan di bawah sinar matahari, karena dia dicabik oleh dua kekuatan. Kekuatan peryama adalah kekuatan yang mengangkatnya dan menunjukkan kepadanya keindahan keberadaan melalui awan mimpi, dan kekuatan kedua adalah yang menarik ia ke bawah tanah dan mengisi matanya dengan debu dan memperkuatnya dengan ketakutan dan kegelapan."

Lalu, akhirnya aku tahu bahwa Kahlil Gibran adalah satu penyair legendaris yang lahir pada tahun 1883 di Lebanon--yang baginya cinta adalah sesuatu yang agung, abadi, menggelorakan jiwa sekaligus mengiris hati.

Tanggal 17 Agustus adalah momen di mana kibaran bendera merah putih diantara biru putihnya angkasa yang berawan terasa mendebarkan, mengharukan, membanggagakan. Gagah.
Juga adalah waktu di mana aku selalu tak pernah berhasil membayangkan bagaimana perasan para komposer berbagai lagu-lagu wajib dan lagu-lagu nasional ketika mencipta lelagu tersebut. Aku hanya mampu mendengar dadaku bergemuruh ketika berulang lagu itu berdendang di daun telingga. Ada perasaan yang tidak terdefinisikan. Dan aku mengandai-andai tentang republik ini.

Dan juga adalah waktu di mana harus memerdekakan jiwa. Membiarkan mengikuti intuisi ke mana pergi mengajak.
Siapakah yang jiwanya paling merdeka? Ini bukan pertanyaan retoris, sebab meskipun aku tak berharap pertanyaan ini dijawab dan meskipun aku tak tahu jawabannya.

Dirgahayu!

Sunday, August 14, 2016

Puisi Esai

Hi, it has been a while
Tonight when i am openning my old folder--when i was a student in a college, i find this file. Some years ago, i named it "puisi esai". I forget what was in my mind at that time, so i could wrote these below sentences. Here it is ...


#1
Toga lengkap disandangnya, membuatnya semakin berwibawa
Rendra menghampiriku
Selamat katanya rencana kemana?
Selamat juga, aku berencana kerja balasku
Hening dan kaku, seperti biasa
Sukses timpalnya
Aku mengangguk mengaminkan
Dan aku memberanikan diri menatapnya, untuk yang terakhir
Dia kebingungan
Sudah ku duga, dia tidak mengetahuinya, dan mungkin tak akan pernah
Ya sudah aku duluan dia berpamitan
Seseorang di sana telah menunggu
Rendra berlari ke arahnya, keduanya saling melempar senyum
Kemudian berfoto
Serasi

#2
Anak jurangan sapi
Dua puluh dua tahun tersemat dalam identitasku
Kini tak pula samar dengan adanya tambahan status
Sarjana ekonomi
Aku kini seorang sarjana
Empat tahun di universitas tersohor
Mendengarkan profesor-profesor berceramah
Aku, Laila patut berbangga
Walaupun bukan mudah bagiku
Kerap hatiku melorot

#3
Bertoga, menyandang cumlaude, dan menggendong karangan bunga
Laila tampak cantik dengan senyumnya dalam pigura berbingkai merah hati
Di meja kerjanya
Gambar yang diambil selepas wisuda tiga bulan lalu
Tepat saat dia menangis dalam hati dan tersenyum
Saat itu telah terjawab, tak ada yang perlu dinanti lagi
Tidak ada trade off[1]
Tidak ada pilihan
Pilihan yang ada hanyalah melepaskan apa yang tak pernah ia miliki
Cinderela hanya ada dalam dongeng
Dan hanya si bodoh dalam cerita yang akan terus menunggu, tanpa harapan

#4
Hari demi hari berlalu
Dan bulan pun bertambah
Lalu tahun berganti
Tiga tahun semua berubah
Tapi senyatanya tidak
Masa lalu adalah sejarah
Dan silsilah adalah tidak bisa berubah
Kali pertama kunjunganku ke rumah Sean, di hari ulang tahunnya
cukup menamparku untuk membuka mata
Aku dan Sean beberapa kali terlibat dalam satu proyek yang sama
Hingga menurut sebagian besar rekan kerjaku, Sean menyukaiku
Kejadian itu tepat setelah aku menyelamati Sean
Sean, Mama tidak melarangmu berteman dengan siapa pun,
namun kamu harus tahu batasannya
Mama tidak ingin kamu terperangkap cinlok
Mama tahu Laila adalah gadis yang baik
Tetapi kamu harus ingat betul garis keturunan keluarga kita
Semua silsilah tidak bercacat
Tidak hanya Sean, aku mendengarnya
Bagi sebagian orang, itu bukan prinsip yang salah
Dan aku tidak bisa menyalahkan keluarga Sean
Panas aku rasakan di sekeliling mataku
Aku menangis dalam diam

#5
Maafkan mamaku
Wajah Sean tampak bersalah
Sean menikah dengan gadis pilihan mamanya
Sean tampak menderita
Tapi Sean adalah anak penurut kedua orang tuanya

#6
 Akhirnya, aku harus meninggalkan Palangkaraya, tempatku bertemu dengan Sean dan keluarganya
yang sudah seperti keluargaku sendiri
Aku ditarik ke pusat

#7
Setelah tiga setengah tahun, apa kabar rumah kecilku
Bertemu dengan ibu dan bapakku yang kini membaik keadaannya membuatku terobati
Bertemu sanak famili membuatku bahagia
Aku telah menjadi orang, menurut mereka
Namun, seperti pertanyaannya yang sering dikesahkan teman kerjaku dulu
Akhirnya aku mendapatinya pula
Pernikahan
Keluarga
Membuatku menciut
Entah, aku berasa tak ingin berkeluarga
Aku tak bisa menerima orang yang tidak aku ku cintai
Dan nyatanya aku tidak bisa mencintai seorang pun
Hatiku benar-benar membeku

#8
Persiapan presentasi proyek
Tak menyangka Rendra menjadi tim penilai
Gelisah
Aku tidak perlu jaim, hanya perlu total, mengabaikan pandangan Rendra terhadapku
Sehabis presentasi langsung pergi, menghindar dari Rendra, aku tak kuat
Entah, setelah kebekuan sekian lama, aku merasakan berdebar-debar sangat keras

#9
Kepala bagian menyelamatiku atas presentasi dan hasil proyekku yang memuaskan
Euforia kebahagian tidak lama aku rasakan, ada yang lain
Aku bertemu Rendra, kaku, dia memberi selamat atas kerjaku yang luar biasa, aku banyak berubah katanya
Aku berterima kasih kaku
Selang waktu kemudian, Rendra mengajakku satu proyek
Sering bersama, bahagia
Aku tak pernah menyinggung masalah pribadi, pun dengannya
Dan itu lebih baik, untuk saat ini

#10
Bertemu orang tua Rendra, orang tua Sean
Orang tua Rendra tanpa sengaja mengatakan hal yang sama
Aku menyimpan air mata yang tak berhasil aku tahan
Ia memandangiku yang terlihat kesakitan dengan iba

#11
Rendra menikah
Rendra berfoto dengan gadis yang sama dengan empat tahun lalu
Dengan senyum yang sama
Aku memaksakan diri datang
Melihatnya yang terakhir
Sama seperti empat tahun yang lalu
Kecuali dengan hati yang sama sekali hancur
Ini bukan hanya tentang cinta tak yang tak tersampaikan
Tetapi memang karena tak boleh
Aku melarikan diri dari apa yang tidak bisa aku lawan
Dari apa yang akan melukaiku
Tapi aku telah terluka, darah yang keluar adalah air mata

#12
Bagaimana pun aku harus bertahan meskipun dengan hati yang hilang
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada[2]
Tidak, aku berbohong
Cinta yang seperti itu sama sekali tidak sederhana




[1] Situasi dimana harus memilih diantara beberapa alternatif pilihan, yang ketika memilih satu maka harus mengorbankan alternatif pilihan yang lain.
[2] Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana, Sapardi Djoko Darmono

Monday, August 1, 2016

Harga di Bulan Juni

Hujan di Bulan Juni
(Sapardi Djoko Darmono)
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan di bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan di bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan di bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu



Harga di Bulan Juni
Ku sampaikan padamu, Sapardi Djoko Darmono
Aku, penikmat banyak karyamu
Tak semua katamu mampu ku cerna memang, tapi aku belajar
Maka kali ini ku ceritakan padamu
Di bulan Juni tahun ini, hujan enggan menyapa
Ku kira ia lebih kuat menahan rindu pada tanah-tanah kering yang pun merindunya
Atau dia sedang mengulur rindu pepohonan yang merana meranggas,
menyisakan batang dan dahan dalam sepi,
Pun mempermainkan rindu bebijian dan umbi yang menanti untuk mencuat tumbuh merekah,
Ku ceritakan padamu diam-diam,
Agar bisa kau katakan pada hujan di bulan Juni agar datang di bulan depan,
Juli atau Agustus atau September atau Oktober
BMKG memprediksi pada keempat bulan tersebut, hujan akan lebat
La Nina,
hujan lebat berkepanjangan,
Diperkirakan muncul mengikuti El Nino yang terjadi tahun lalu
El Nino itu kemarau berkepanjangan
Jadi ku ceritakan padamu
Bukan lagi tentang hujan, tapi tentang harga di bulan Juni
Bulan Juni,
bulan Ramadhan dan jelang tahun ajaran baru,
Pengeluaran rumah tangga membengkak, belanja berkali lebih banyak
Gaji ketiga belas, meningkatkan permintaan barang dan jasa
Terjadi shortage of supply, harga meningkat
Namun, belum terlalu panjang untuk disebut inflasi
Harga di bulan Juni
Representasi roda perekonomian berputar lebih cepat, komentar seorang mahasiswa
Roda yang menggilas daya beli penduduk berpendapatan terbatas, kata seorang kolumnis
Indikator waktu,
kapan pengambil kebijakan perlu (atau tidak) memberikan stimulus, kata seorang ekonom
Namun, bagi sepersekian penduduk Republik ini tak merasakan perbedaan pada harga di bulan Juni
Hanya saja, pengeluaran mereka menjadi lebih banyak
Ini sudah akhir bulan Juli ternyata,
Maka kutanyakan padamu
Apakah kau rasakan perbedaan harga di bulan Juni?

Thursday, July 28, 2016

Dandelion

Diterbangkan dan dipisahkan angin dari kawanan dan induknya,
si kecil dandelion
Padahal belum lama ia bergelantung di gendongan induknya
Lemah tangan induknya tak cukup kuat menahan tarikan sepoi angin atau tiupan napas makhluk iseng yang menerbangkannya

Jika beruntung, ia akan mendarat pada tanah atau batu yang sama sekali baru untuknya
Tetapi mungkin saja ia harus menyusuri sungai, mengecap payau dan akhirnya terombang dan terambing di samudera
Jika tidak beruntung, si kecil mungkin akan bertransformasi menjadi plankton, pun harus menunggu ratusan tahun kemudian
Apabila ada sedikit keberuntungan, ia bisa saja tersangkut pada semak di pinggir kali
Bertahan dan berusaha tumbuh sendiri

Diantara hamparan alam yang konon keras
Tidak mudah menanamkan akar kecilnya ke tanah yang betutup semen, untuk ia berdiri
Tidak mudah juga bagi batang kecilnya, menyibak alang untuk merasakan hangat mentari
Dan tak ada pula rumah untuk berlindung dari injakan kaki makhluk-makhluk besar

Tak banyak yang tahu keberadaan si kecil
Kecil kadang membuat dia tertutup alang, terlihat sama, sebagai tanaman pengganggu
Kecil kadang membuat dia tertutup, tak terlihat diantara bebungaan lain,
yang bermahkota besar dan indah
yang berwarna cerah merekah
yang nenebar semerbak wangi
Ia, kecil, pucat dan terlihat rapuh, terabaikan
Namun siapa sangka ia telah menjelajah Eropa dan Asia yang konon mahaluas

Apakah ia bersedih? Aku kira tidak
Si kecil tengah melakukan penerimaan yang indah

Jika hidup adalah nyanyian, maka telah ia nyanyikan dengan indah syair hidupnya
Dan pada saat syair harus berakhir, maka dia relakan pergi dari dekapannya itu, anak-anaknya itu
Dandelion-dandelion kecil yang lebih kecil,
menari menemani angin
mewarnai dan melengkapi tata kehidupan seperti peran yang digariskan untuknya

Saturday, July 9, 2016

Aku Pernah

Pernahkah berada pada titik di mana merasa sangat lelah,
tidak tahu harus bagaimana,
dan hanya bisa berkesah dalam hati," ya Allah semua terserah pada-Mu, aku benar-benar tidak tahu apa rencana-Mu"?
Kemudian berusaha untuk tetap berlari,
ah bukan,
tetap berjalan,
ah bukan,
tetap merangkak,
ah bukan juga,
tetap bergerak.
Sebab yakin Allah penuh rahasia dan rencana,
dan Allah Mahatahu, dan Allah Maha Pengasih dan Penyayang, dan Allah Mahakuasa.
La haua wa la quwwata illa billah.

Aku pernah.