Tuesday, September 24, 2019

Akhirnya, Icip-icip di Patbingsoo


Setelah sekian bulan ngidam untuk nyobain Patbingsoo di Jogja, terlaksana juga, meskipun di Surabaya haha. 
Sebagai penyuka makanan yang manis dingin dan unyu, penasaran! Konon, Patbingsoo adalah salah satu desert favorit di Korea saat musim panas.
Tempatnya unik, seperti dalam MRT loh. Karena waktu itu habis makan siang, dan pengen nyemil-nyemil dingin maka diorderlah Heogi Patbingsoo yang komposisinya adalah anggur, strawberry, kiwi, jelly, dan ogura ice cream.
Tentu saja selain desert yang manis, seger dan unyu, juga ada menu ala korea yang lain seperti tteobokki, bimbimbab, ramyeon. Nyaaam :9

Thursday, September 19, 2019

Braga Permai,The Most Heritage Restaurant in Town


Bandung merupakan salah satu kota yang menarik untuk disinggahi, mulai dari wisata (baik sejarah maupun modern), kuliner maupun mode-nya. Sekitar September 2018 lalu, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mampir di the most heritage restaurant in town yang biasa dikenal dengan Braga Permai. Resto ini berdiri sejak tahun 1923 (sebelum Indonesia merdeka loh) dan terletak di jalan Braga, Bandung—yang disepanjang jalannya sangat ciamik. FYI, sepanjang jalan Braga banyak terdapat café-café unik dan sepanjang jalan tersebut merupakan spot yang instagramable. Hehe

Braga Permai ini memiliki space yang besar, indoor dan outdoor. Saat kami berkunjung, resto tersebut ramai beragam pengunjung, mulai dari pengunjung domestik maupun mancanegara, baik bersama teman maupun keluarga. Walaupun ramai pengunjung, namun suasana di resto tetap nyaman untuk mengobrol dan bercengkrama. Di bagian outdoor terdapat live music yang mendukung suasana semakin cozy.



Saat masuk ruangan dan duduk, waitersnya menuangkan air putih untuk kami masing-masing, sambil kami memilih menu untik diorder. Dikarenakan sebelumnya sudah makan berat, kami memutuskan memesan camilan bersama yaitu pizza (entah yang apa tepatnya aku lupa) dan baked potato with Bolognese sauce. Ditambah (aku engga ingat temen lain memesan apa) choco lava ice cream vanilla—sumpah ini enak banget loh. 

Nah, sebelum memulai dengan main dish, kita diberi appetizer secara free yang terdiri dari pastry, roti, stick, beserta cheese cream—semuanya enak. Oh iya, menu di Braga Permai ini beragam kok, Indonesia ada, western pun bisa :D

Satu kata, worthed!

Tuesday, September 10, 2019

Tanpa Judul (6)

"...aku sedang mati-matian berusaha mengetuk pintu langit. Doa terbesarku belum Allah kabulkan, bahkan tahun lalu dalam pandangan manusia, doaku ini sedang Allah hancurkan. Allah membuatku patah berkeping-keping sebagai jawaban doaku waktu itu, Allah berikan bonus berupa trauma-trauma yang sangat banyak hingga membuatku jatuh dengan luka yang amat sangat parah ..." (Nadhira Arini, 2018)
Tanpa sengaja kamu membiarkan seseorang memasuki kehidupanmu, memberinya rumah tinggal dari badai hebat. Kamu mengira dia akan merawat rumahmu sehingga kamu mulai berpikir untuk membiarkannya tinggal, menyiapkannya satu kamar khusus, lengkap dengan perabotan dan bahkan satu vas bunga matahari di sudut jendela sebagai pemanis ruangan. Hari berganti, bulan menjadi tahun, badai sudah lama reda, musim berganti dari dingin menjadi semi. Kamu duduk mematung di teras depan rumah, orang itu berdiri di depanmu, menatapmu sejenak kemudian melangkah pergi, tanpa menoleh.
Seluruh (atau setidaknya sebagian) duniamu terasa runtuh. Sebelumnya, untuk beberapa saat kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi, butuh waktu untuk mencerna.
Kamu mulai berpikir apa yang salah dengan dirimu, sehingga ditinggalkan. Saat itulah kamu menemukan dirimu penuh kekurangan. Kamu tidak menarik, tidak pintar, tidak kaya, pantas saja. Kamu tidak ingat, bahkan tidak bisa melihat kelebihanmu sama sekali. Saat itulah kamu kehilangan dirimu.
Kemudian kamu mulai atau lebih khusyuk berdoa, meminta pertolongan agar dikembalikan padamu duniamu yang utuh itu. Kamu berdoa, berdoa dan terus berdoa. Kemudian kamu terkadang bertanya-tanya mengapa doamu seperti tidak didengar dan terjawab. Kadang kamu merasa lelah. Tetapi, jangan berhenti, teruslah berdoa, terus berusaha, sebentar lagi, bersabarlah, sebentar lagi.

Friday, January 26, 2018

My First Skincare: Part 2

Melanjutkan cerita tentang skincare aku di post yang sebelumnya, kali ini adalah tentang make up, yaitu foundation, bedak dan make up remover. Aku baru tahu tentang tiga jenis produk itu—tahunya pun masih sepersepuluh-sepersepuluh (sebenarnya mau bilang setengah-setengah, tapi kenyataannya nggak sebesar itu) Hehehe.

Aku mulai kenal yang namanya bedak sebenarnya dari kecil, tentu saja karena ibuku punya dan pakai. TAPI aku baru mulai iseng pakai waktu kuliah, itu pun bisa dihitung dengan jari dan tipis-tipis. Hehe. Dulu sempat mencoba beberapa merk bedak, tapi belum ada yang cocok—entah itu karena warnanya yang kurang pas dan sering langsung jerawatan setelah bedakan. NAH KAN, pakai bedak aja jerawatan apalagi ditambah foundation. Oleh karena itu, aku menghindari banget yang namanya memakai bedak dan foundation.

NAMUN, ternyata akunya yang berpikiran sempit. Yang salah bukan bedak atau foundationnya, tapi cara pemakaian dan pilihan aku yang belum pas sama jenis dan warna kulit. Akhirnya, setelah beratus purnama sadar juga HEHE. TERNYATA YANG KURANG ADALAH MAKE UP REMOVER, karena facial foam dan toner saja ternyata belum cukup untuk membersihkan wajah (untuk mencegah kulit tersumbat yang membuat jerawat-jerawat muncul).

Berita gembira yang perlu aku ceritakan adalah, aku sudah menemukan jodoh bedak yang foundation yang setidaknya paling pas dan nyaman—dipakai dan dikantong. Aku awalnya hanya iseng coba-coba karena kebetulan harus ke kondangan (dan nggak ada teman yang bisa make up-in). Setelah membaca blog dan melihat vlog orang, aku membeli produk dari Wardah. Selain harga yang cukup terjangkau bagi pekerja serabutan macam aku (yang apabila ternyata tidak cocok, bisa dibuang atau dihibahkan tanpa merasa terlalu kehilangan karena terlalu sayang eh), merk ini insyaAllah halal.


Jadi ini dia foundation dan bedak aku ...
Aku pakai Wardah Luminous Liquid Foundation dengan warna Beige. Sebenarnya untuk merk Wardah ada empat jenis foundation yaitu Wardah Luminous Creamy Foundation, Wardah Luminous Liquid Foundation, Wardah Exclusive Liquid Foundation dan Wardah BB Cream dan Wardah C-Defense DD Cream. Terus terang aku nggak paham apa bedanya HEHE. Sejauh ini, aku sudah mencoba jenis pertama sampai ketiga, dan yang paling pas adalah yang kedua. Untuk produk jenis ini, ada 4 macam tingkatan warna yaitu natural white, light beige, beige dan white.

Konon, menurut banyak revieu, Wardah Luminous Liquid Foundation cocok untuk kulit normal agak berminyak dan warna cokelat. Aku setuju.
Selain itu, ketika dipakai, tidak lengket, tidak pecah-pecah, dan menyamarkan warna kulit yang kurang merata (meskipun tidak terlalu menutup bekas jerawat). Dan, kalau dipakai wudhu tidak sepenuhnya ilang lho. Secara garis besar, dia nyaman dipakai dan memberikan efek natural. Untuk pemakaian biasanya aku sekali oles saja (atau istilah blogger reviewernya satu layer), karena masih parno memakai foundation, TAPI itu sudah cukup kok. Harganya aku lupa, tapi yang jelas dibawah 50k.

Selanjutnya adalah bedak...
Aku memakai Wardah Luminous Face Powder, jenis bedak tabur warna beige atau nomor 2. Bedak untuk merk Wardah sendiri sebenarnya ada 8 macam--cukup membuat bingung mau pilih yang mana. Hahaha. Untuk Wardah Luminous Face Powder ada empat pilihan warna yaitu light beige, beige, ivory dan natural. Di aku, bedak ini cocok dipadukan dengan foundation yang sebelumnya aku ceritakan di atas. Ketika dipakai, wajah menjadi lebih tidak berminyak dan berkilap, karena konon mengandung oil control. Ringan saat dipakai.  Bedak jenis tabur direkomendasikan bagi pemilik kulit normal agak berminyak yang rentan jerawat. Untuk pengaplikasian aku menggunakan powder brush supaya lebih merata dan tidak terlalu tebal.

Dan yang terakhir adalah Wardah Make Up Remover
Ada dua jenis make up remover untuk brand Wardah yaitu Wardah EyeXpert dan Wardah Make Up Remover. Jenis yang pertama biasanya digunakan untuk membersihkan riasan mata (eye liner dan maskara) dan riasan bibir (lipstik yang biasanya matte). TAPI saat ini aku sedang mencoba jenis yang kedua, yaitu untuk menghapus bedak dan foundation. Kesan selama pemakaian adalah ampuh dan nyaman. Alhamdulillah cocok. NAH lagi-lagi aku lupa harganya. TAPI seperti harga produk untuk brand Wardah pada umumnya, harganya bersahabat kok.

Friday, January 19, 2018

My First Skincare: Part 1

Halo semua! Akhirnya, setelah berminggu-minggu mengumpulkan niat—sebenarnya bukan mengumpulkan niat juga sih, karena niat menulisnya sudah lama, tetapi eksekusinya selalu tertunda tunda tunda dan tunda, lagi lagi lagi dan lagi. Ini adalah postingan pertama aku di tahun 2018.

Kali ini aku ingin sharing tentang pengalaman skincare pertama aku. Hehehe, yang pertama memang sering kali berkesan dan kesannya awet, terlepas apakah itu manis atau pahit. Eh. Yang sudah kenal aku tentu tahu betapa polosnya aku (baca: buluk), bahkan sampai sekarang, meskipun sudah mandi beratus kali pakai air Jakarta.

Aku berasal dari salah satu dusun di sudut tenggara Yogyakarta, yang semasa usia sekolah dan kuliahnya terlalu fokus belajar dan belajar, meskipun begitu belum pinter-pinter juga lho anaknya. Waktu itu, aku sama sekali nggak tetarik, malah enggan sama yang namanya bedak, lipstick dan sebangsanya. Paling pol aku pakai sabun muka, itu pun bisa dihitung jari. Alhasil, dapat terbanyangkan penampakan seorang aku, yang deskripsi singkatnya seperti ini: anak dusun, cupu, belum pinter-pinter, dan buluk. Hahaha. TAPI, Alhamdulillahnya adalah aku masih diberikan hidup, sehat dan normal.

Aku sempat bertekad untuk tidak memakai make up atau skincare atau sebangsanya, sok-sokan ingin natural gitu. TAPI HELL-O!, dunia keras bung, yang empuk kata-kata manismu. Makin ke sini aku sadar kalau aku tidak terlahir seperti Cleopatra atau Cinderela--yang satu dari kecil sudah well-maintained atau yang sudah dari oroknya terlahir cantik jelita meskipun harus cuci baju di sungai, yang meskipun polosan cakepnya tumpah-tumpah. Aku juga mulai sadar kalau di dunia ini ada yang namanya gap antara idealitas dan realitas. Kalau ada yang bilang kamu cakep kok hatinya, tolong jangan seneng dulu, tolong tanyakan gimana dia bisa lihat hatimu. Pastikan juga dia cenayang atau bukan. Hehehe

NAH, mulai dari itu aku mulai coba-coba. Niatnya sih ibadah. Hahaha. Pertama, biar orang yang ngelihat nyaman, nggak eneg sehingga tidak menghambat interaksi dan transaksi. Dua, membersihkan label anak dusun (anak daerah) yang sukanya dibilang cupu—padahal mah ya, banyak yang bening dan gaul abis lho. Kebetulan aja, ada yang sial ketemu yang macam aku ini. Ketiga, membantu ngurangin dosa orang karena keseringan ngehina hina aku. LOL

Perlahan-lahan, sangat pelan kaya siput jalan, aku mulai tergerak mengikuti kebiasaan baik teman-temanku yang secara konsisten memperhatikan estetika dan perawatan diri. INI SANGAT BERAT. BENERAN, AKU NGGAK BOHONG. Aku tanpa sengaja, memulainya dengan membeli lipstick. Hahaha. Pahitnya adalah aku sangat sering salah membeli lipstick, padahal waktu dicoba di counternya bagus. Kata revieu dibeberapa blog itu karena efek pencahayaan di counter kosmetik yang membuat lipstick jadi bagus dicoba. Aku mulai mempunyai beberapa lipstick, mulai dari lipbalm, lipstick biasa, lipstick yang matte, lip tint, sampai lip cream. Ya, saat itu aku mulai memakai lipstick dan mencoba pelembab wajah. Itu saja. Kenapa lipstick? Adalah karena cukup simple untuk dipakai dan dapat membantu memberi sedikit warna di wajah. Aku belum berani menggunakan foundation maupun bedak karena takut jerawatan, APALAGI ALIS.

Baiklah, ini dia pengalaman pertama aku …

Skincare
Meminjam istilah temanku, untuk skincare saat ini aku menggunakan produk dari Loreal, setelah sebelumnya mencoba berbagai produk lain. Aku sempat menggunakan produk dari Lariss* dan Natash*, namun aberhenti karena tidak cocok. Untuk produk yang pertama, facial foam dan krim paginya membuat mukaku berminyak, sedangkan krim malamnya sering terbawa tidur (padahal harusnya wajah dibilas setelah dua jam pemakaian). Untuk produk kedua, selain keluhan yang sama, adalah harga yang tidak cocok dikantong.Hehehe Nilai plus produk kedua adalah krim malam yang bisa dipakai tidur, tanpa perlu dibilas.

NAH, aku menggunakan empat jenis produk Loreal yaitu White Perfect Extra Ordinary Whip dan White Perfect Scrub untuk facial foam; Revitalift Day Cream untuk krim pagi dan White Perfect Night Cream untuk krim malam. Aku mencoba produk ini atas rekomendasi teman, namanya Dewila. Makasih yaa Wiii, ini cocok di aku.


Produk ini menjadi worth buat aku karena: 1) Cocok. Efeknya memang tidak signifikan, tetapi saat memakai facial foam wajah terasa enteng. FYI facial foamnya terasa light dan baunya soft banget. Krim pagi tidak memicu minyak berlebih saat dipakai, sedangkan krim malam dapat dipakai tanpa perlu dibilas saat tidur. 2) Masa kadaluarsa yang lebih lama (dalam hitungan tahun), berbeda dengan dua produk sebelumnya yang kadaluarsanya dalam hitungan bulan. Lebih ekonomis kan?; 3) Harga produk ini memang relatif sedikit lebih tinggi dibanding produk yang lain, tetapi sebelas dua belas dibanding dua produk klinik kecantikan yang sebelumnya pernah aku coba.

Aku belum sempat mengambil gambar untuk facial foam dari Loreal, tetapi di atas adalah gambar krim pagi dan krim malam yang aku pakai. Harga facial foamnya masing-masing lebih kurang 50k. Krim malam kalau tidak salah harganya sekitar 150k. Untuk krim pagi aku mengambil ukuran paling kecil karena baru coba-coba, sebab pada dasarnya aku tidak suka menggunakan krim pagi. Alhamdulillah sejauh ini cocok, harganya sekitar 75k.

NAMUN, sekali lagi, aku setuju dengan para beauty blogger atau beauty vlogger, bahwa skincare dan make up adalah cocok-cocokan, tergantung masing-masing orang. ADA hal yang aku pelajari saat membeli produk skincare atau pun make up, yaitu sebaiknya membaca revieu tentang produk tersebut sebanyak mungkin, untuk memastikan agar tidak salah beli. Aku yang sangat cupu tentang skincare dan make up, sangat terbantu dengan revieu-revieu tersebut. Terima kasih para blogger dan vlogger! Oleh karena itu, aku merasa perlu juga untuk membagi pengalaman aku yang masih cupu ini, semoga dapat bermanfaat suatu saat nanti entah bagi siapa. Hehehe

Sementara, sampai segini dulu, semoga aku dapat konsiten posting lagi yaaa. 
Have happy day, nice people :D

Friday, December 29, 2017

ASSALAMUALAIKUM BEIJING!



Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Asma, Ashima, Ra adalah Asmara. Undangan baru beberapa hari selesai dicetak dan siap disebarkan, namun Dewa tidak bisa meneruskan ke tahap selanjutnya—pernikahan mereka batal. Semuanya terjadi begitu saja, sama sekali diluar perkiraan. Bukan karena Dewa tidak mencintainya. Mereka sama-sama terluka. Ini bukanlah akhir, justru baru permulaan (hal-hal yang tidak diharapkan yang lain).

Cinta sejati hanya mitos, keluhnya. Mimpi. Kisah pengantar tidur yang ditiup-tiupkan mereka yang belum pernah sakit hati. Semata dongeng penulis fiksi yang hanya mampu berkisah tentang romantisme murahan. Ya, cinta sejati itu hanya fiksi. (Halaman 76)

Asmara memutuskan menerima tawaran untuk menggantikan seniornya ke Beijing. Disitulah dia mengetahui cerita cinta Ashima yang konon melegenda di masyarakat Tiongkok, dari Zhongwen—teman barunya. Legenda itu mengisahkan Ashima dan Ahei yang saling mencintai, dan tentu saja berakhir tragis. Mungkin alurnya sengaja ditakdirkan seperti itu, agar berkesan, agar dapat menjadi bahan cerita di kemudian hari

Antisphospholipid Syndrome (APS) primer, sindrom yang akan selama ada di dalam tubuh Asmara, membuatnya rentan mengalami penyumbatan darah. Resikonya bermacam-macam (dan beganti-ganti), seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, buta, tuli dan yang lain, tergantung bagian tubuh mana yang tersumbat. Hal yang paling berat bagi Asmara adalah, dia berisiko jika harus mempunyai anak jika ia menikah nanti. Bukan meragukan kekuasaan Allah, namun dia tidak bisa membayangkan laki-kali (suaminya nanti) hanya akan sibuk keluar masuk rumah sakit menemaninya berobat. Dan tentang mempunyai anak …  Namun, bukan Asmara jika sedih membuat dia berhenti menulis.

Kita tidak bisa menghindari takdir yang Allah berikan, tetapi bisa memilih cara bagaimana menghadapinya. (Halaman 242)

Sementara itu, Anita sudah tidak memiliki harapan lagi untuk menggantikan Asmara di hati Dewa, meskipun usia kehamilannya makin tua. Dia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan meminum beberapa genggam obat-obatan.

Zhongwen, dengan berbagai kendala yang ada akhirnya memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Asmara sadar, namun tidak mengingat apa pun setelah koma selama dua minggu. Selanjutnya, selama dua tahun dia rutin ke rumah sakit.

Sebagai informasi, buku ini juga difilmkan—ada beberapa bagian yang tidak sama dengan buku (kesamaanya sekitar 80 persen.) Seperti biasanya, aku lebih menyukai buku daripada filmnya. Namun keduanya sama-sama BAGUS.


Monday, October 30, 2017

JILBAB TRAVELER: Love Sparks in Korea


Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Merupakan novel pertama dari Asma Nadia yang aku baca—yang sebenarnya terbitan tahun 2015. Ketingggalan sekali, bukan? Hiks. Nama Asma Nadia sudah lama cukup akrab, tapi baru kali ini tergerak membaca novelnya. Sebelumnya aku pernah menonton film dari buku Assalamu’alaikum Beijing dan Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2. Awalnya aku enggan karena mengira bakal menye-menye, tapi ternyata BAGUS BANGET! Novel ini ditulis dengan alur mundur maju, yang sangat mengalir dan penuh kejutan. Banyak pelajaran dan pengingat di dalamnya. Terima kasih Bunda Asma, telah menulis dan menginspirasi.

Rania, adalah anak ketiga dan terakhir dari sebuah keluarga sederhana di pinggir rel kereta api Gunung Sahari. Rania adalah anak yang paling dekat dengan ayahnya—mungkin karena semasa kecilnya yang sering sakit-sakitan. Rania kecil suka berlari mengejar kereta api yang kebetulan melaju cepat sembari membayangkan dirinya dalam gerbong-gerbong yang membawanya terbang ke negeri dongeng—setidaknya begitu selalu kata papanya dengan yakin.

“Ketika kecil, kami tinggal di samping rel kereta api. Setiap kereta lewat, Papa selalu bilang suatu saat kereta-kereta itu akan menerbangkan saya ke negeri seribu kisah” (halaman 173)

Dan terbukti, tidak ada yang mustahil apabila Allah berkehendak. Rania yang harus berhenti dari kuliah karena masalah kesehatan telah menjadi penulis best seller dan berkesempatan menjelajah ke berbagai negara. Tentu saja ada masa-masa yang tidak mudah untuk Rania lewati. Ia penulis dan dia pernah melewati lebih kurang satu tahun tanpa menyentuh keyboard komputer sekalipun.

“Sepasang matanya akan dengan cepat mengembun setiap mengingat hal ini. Tetapi jika terus memikirkan penyakit, dia akan kehilangan kemampuan mensyukuri begitu banyak hal manis. Deret kebaikan Allah yang terus menyapanya detik demi detik. Di layar laptop, Rania menulis kalimat berikut dengan huruf capital: JANGAN ARAHKAN SUDUT PANDANGMU PADA SESUATU YANG BELUM TENTU BISA KAU LIHAT. ITU HANYA AKAN MELEMPARKANMU PADA KETERASINGAN DI MANA RASA SYUKUR HANYA SEBATAS DI UJUNG LIDAH.” (halaman 186)

Nepal, negara seribu Dewa menjadi titik awal pertemuannya dengan Hyun Geun—seorang traveler asal Korea setelah insiden pencopetan tas Rania. Nepal mengingatkan Rania akan dua hal, yaitu kejadian saat ia memecahkan magnet kulkas pamannya dan saat papanya meninggal.

“Bagi traveler, kehilangan sesuatu di perjalanan, pasti pahit, bahkan bisa merusak semua rencana yang telah disusun. Tapi keikhlasan akan membuat satu dua kehilangan atau peristiwa tak diinginkan—yang sangat mungkin terjadi—tak menguapkan semua keceriaan selama perjalanan.” (halaman 253-254)

Ternyata, pertemuan tersebut menjadi awal sederet pertemuannya dengan Hyun Geun, ketika akhirnya Rania memutuskan mengikuti program Writers in Residence selama enam bulan di Korea. Dengan kamera saku yang sama saat di Nepal, Rania mengeksplor Seoul—kota terbesar dan teramai di Korea. Rania yang sedikit belajar lebih banyak tentang fotografi sejak bertemu dengan Hyun Geun, mulai membenarkan saran yang dia terima untuk berganti ke DSLR. 

"But the camera is just a tool, Rania. It’s the eye of a person behind it that matters." (halaman 159).

Hinga kemudian, Ihsan–tetangga sekaligus sahabat Rania selama 8 tahun di Indonesia menyusul terbang ke Korea. Menyambung perjalanan dari bandara Incheon, Seoul dengan kereta cepat KTX ke Busan. Ini adalah pertama kalinya Ihsan naik pesawat—pesawat menjadi trauma tersendiri bagi Ihsan sejak mamanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mengapa?

“Allah menciptakan manusia, sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Alhamdulillah” (halaman 261)

Tuesday, October 17, 2017

MEMBERI JARAK PADA CINTA dan Kehilangan-kehilangan yang Baik


Penulis: Falafu a.k.a Farah Fatimah
Penerbit: Media Kita

Angin melewati batang-batang ringkih dandelion yang baru saja mekar sempurna. Mahkota bunga yang tipis satu demi satu hilang berterbangan mengikuti angin. Waktu berjalan dan tumbuhlah dandelion-dandelion baru dari benih yang dibawa angin itu. Lebih sering sebuah awal bermula ketika sesuatu berakhir. Kehilangan adalah salah satu episode dalam kehidupan yang tidak bisa ditolak. Namun, siapa yang tahu bahwa nantinya kehilangan membuka ruang pada hal lain yang lebih baik untuk datang dan tinggal.
Buku ini berisikan sekumpulan cerita, secara keseluruhan mengisahkan tentang awal sebuah kehilangan, saat kehilangan, setelah kehilangan, pengambilan jeda, kemudian proses penemuan dan pendewasaan. Isinya cukup menghanyutkan, rawan membuat baper. Waspadalah-waspadalah. Buku ini, dapat dibaca sebagai hiburan atau bahkan pembelajaran.
“Aku ingin mengatakannya juga kepadamu. Kepada siapa pun yang sedang ragu dan perlu kekuatan untuk terus berjalan—tetapi alasan baik mulai sulit untuk kamu temukan. Kepada kamu yang terus percaya, pada sesuatu yang mungkin tidak pernah dijanjikan siapa-siapa. Bukankah harapan, juga adalah janji yang biasanya coba kita beri pada diri kita sendiri? Maka peganglah janji itu kuat-kuat. (Halaman 22)
 “Tidak bisakah  mulai sekarang kita menerima kehilangan dengan cara yang lebih baik. Agar siapa pun yang pergi, bisa pergi dengan tenang. Dan siapa pun yang masih harus tertinggal, bisa terus melanjutkan hidupnya—tanpa takut menghadapi kehilangan berikutnya. (Halaman 49)
TIDAK, sekalipun telah berkali-kali, namun untuk kehilangan kembali tidak lantas menjadi mudah untuk disikapi. Kemudian harapan bersandar pada waktu—katanya time will heal (but not) everything.
“Saat kepergian baru saja terjadi, akan begitu sulit untuk melihat apa yang sesungguhnya hal yang sudah Tuhan persiapkan untukku. Karena mataku masih dipenuhi oleh genangan akan rasa kehilangan, Karena lenganku belum menemukan genggaman lain yang membuat langkah ini menjadi seimbang kembali. (Halaman 52)

Saturday, October 7, 2017

GERIMIS JATUH

Penulis: Mushonah Mujahidah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Selagi hati masih menjadi komponen yang ada dalam diri manusia, cerita tentangnya akan terus mengalir. Sekuat apa pun usaha seseorang untuk menepisnya, perasaan akan tetap ada. (Tetes Kedua, hamanan 3)

Buku ini merupakan kumpulan cerita dan prosa yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari penulis. Percakapan seorang Ibu dan anak laki-lakinya, percakapan seorang ayah dengan anak perempuannya, percakapan seorang adik perempuan dengan laki-lakinya, percakapan seorang laki-laki dengan dirinya sendiri, juga percakapan seorang perempuan dengan dirinya sendiri. Ada hikmah yang berusaha diselipkan pada setiap bagiannya.

Pandanglah masa lalu sesekali, seperti spion, agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama, tetapi tetap fokus ke depan. Belajar melepaskan, melepaskan tuntutan, emosi, target, keinginan yang menyita fokus pikiran dan hati. Melepaskan tidak akan mudah, karena berarti harus siap merelakan dan mengikhlaskan. Namun setelah itu, hati akan lapang. Belajar mendengarkan, sebab bukan kebetulan Tuhan menciptakan sepasang telingga dan mulut satu. Belajar berbahagia, dengan belajar mensyukuri hal-hal paling remeh sekalipun.

Jika kehidupan adalah seperti pelayaran menuju dermaga, tentu ada berbagai ukuran perahu dengan berbagai macam bahan. Ada yang terlihat ringkih seperti tak mampu bertahan dari apa pun. Namun belum tentu perahu yang besar dari bahan terbaik dapat bertahan. Ada Allah yang memampukan, menguatkan atau melemahkan.

Apa yang membuatku(mu) terus berdoa dan tak berhenti berharap? Karena hari esok akan datang, dengan segala kemungkinan terbaik, dengan segala jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

Tentang perempuan dan laki-laki. Keduanya adalah ujian satu dengan yang lain, sebelum akad. Perempuan adalah makhluk serius, hatinya seperti gelas kaca. Teruntuk laki-laki, jangan terlalu ramah. Laki-laki hatinya seperti bola basket, semakin tinggi jatuh akan semakin tinggi memantul. Namun, teruntuk perempuan, jangan terlalu baik. 

Kalian, jangan pernah bermain dengan asumsi dan janji, hingga kalian saling me(di)temukan.

Perasaan kita berdua laksana air dan api. Kita tidak bisa saling mendekat. Karena jika mendekat, kita akan saling menghabisi satu sama lain. Pada akhirnya melukai satu sama lain. Lalu, Tuhan memperkenalkan sebuah alat yang dapat mempersatukan perasaan kita. Namanya teko. Kita bisa saling bersinergi untuk menciptakan air hangat maupun panas. Namun selagi belum dipersatukan oleh teko itu, kita tetaplah asing satu sama lain (Jarak antara kita, halaman 51)

Monday, September 18, 2017

SURABAYA (Bagian 1)

Rabu, 16 Agustus 2017

Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan (atau lebih tepatnya kabur) ke Surabaya. Cukup impulsif, dan mungkin bukan keputusan yang tepat mengingat Surabaya bukanlah destinasi prioritas untuk jalan-jalan. Selain itu, berpergian ditengah penyusunan laporan triwulanan ternyata cukup menyita pikiran dan energi—dimana harus lembur lebih kurang empat hari sebelumnya agar bisa kabur dengan tenang (tapi realitanya tidak juga). Hahaha. Namun demikian, tidak salah pergi ke Surabaya, karena di Surabaya aku bertemu dengan teman-teman terbaikku. Kata orang sih bukan kemana-nya, tetapi dengan siapa-nya.

Aku berangkat dari kantor cukup mepet, ditambah sedikit bermacet-macet di jalan, aku terpaksa harus berlari-lari agar tidak terlambat masuk ke gerbong. Aku duduk di gerbong nomor 6, kursi 3B. Untuk kereta Bangunkarta, kursi duduk tersebut relatif strategis, karena tidak terlalu dekat dan terlalu jauh dengan toilet dan pintu keluar. Selain itu, gerbong nomor 6 juga cukup dekat dengan resto—seumur-umur naik kereta aku belum pernah ke resto. Kereta juga menyediakan selimut, meskipun saat itu AC-nya tidak terlalu dingin. Sayangnya, tidak ada meja lipat di kursi duduknya, sehingga agak menyulitkan ketika mau makan atau kerja (ditulis dengan huruf kapital, bold dan underlineKERJA”). Akhirnya, pukul 15.00 WIB persis keretaku berangkat.

Di sampingku duduk seorang bapak-bapak, kalau tidak salah ingat namanya Sumarno. Dari apa yang dibicarakan, aku yakin beliau bukanlah sembarang orang. Kami membicarakan mulai dari Bapp*nas, berita-berita terkini (wuih terkesan up to date yak), sampai agama. Sayang sekali, aku tidak jadi meminta bertukar kontak dengan beliau. Terlepas dari latar belakang beliau, hal yang cukup terus aku ingat adalah pikirane kudu resik, niate apik, lakune becik¸(pikirannya harus bersih, niatnya bagus dan perilakunya baik) agar bahagia. Falsafah hidup yang sederhana, tidak muluk-muluk, tetapi tidak mudah untuk dipraktikan.

Kamis, 17 Agustus 2017

Singkat cerita, setelah menghabiskan lebih kurang 12,5 jam di dalam kereta dengan mengobrol, tidur, dan mati gaya, akhirnya pukul 04.00 WIB aku sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Setelah sholat Subuh dan tidur beberapa jam di kostan temanku, Ima, yang terletak di Jalan Embong Kenongo, sekitar pukul 09.00 WIB kami berdua bersiap berangkat ke Malang. Tujuan kami adalah ke Masjid Tiban Malang, konon disebut masjid tiban karena masjid yang megah dengan sepuluh lantai tersebut tiba-tiba berdiri di tengah pemukiman warga. Menurut beberapa sumber, masjid tersebut sebenarnya adalah pondok pesantren yang dibangun secara bergotong royong swadaya oleh santri dan jamaah, sehingga tidak banyak pihak luar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut. Masjid berlokasi di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Malang atau dapat ditempuh sekitar 5 jam dari Surabaya dengan mobil.

Lokasi masjid dapat terdeksi oleh google map, walaupun memang agak “masuk”, sehingga kami harus bertanya kepada warga. Warga sekitar menyediakan tempat parkir kendaraan, meskipun ternyata di dalam komplek masjid juga tersedia. Dari lokasi parkir warga, kami berjalan sekitar 50 meter atau sekitar 5 menit. Di sepanjang jalan, berjajar pedagang berbagai makanan kecil dan oleh-oleh, dengan harga yang relatif sangat terjangkau. Kami agak terkejut, ketika di tengah jalan seorang anak kecil yang menawarkan plastik untuk tempat sepatu kami saat memasuki masjid dengan harga yang sangat murah, lima ratus Rupiah!


Penampakan masjid tersebut adalah perpaduan antara gaya Timur Tengah, Tiongkok dan modern. Tampak bagian depan masjid adalah ornament Timur Tenggah dengan warna dominan biru dan putih. Di bagian dalam lantai dasar masjid terdapat banyak sekat ruangan, dengan berbagai peruntukan. Misalnya mushola, tempat wudhu, tempat istirahat, kolam yang terpisah antara putra dan putri; ruang tamu; ruang akuarium dan sebagainya. Menurut beberapa sumber, lantai satu dan empat digunakan sebagai tempat kegiatan para santri; lantai enam sebagai ruang keluarga; lantai tujuh dan delapan sebagai tempat toko-toko cinderamata yang dikelola santri.

Pengunjung yang datang dapat langsung ke dalam masjid untuk mencatatkan diri dan mengambil kartu tamu. Kartu tersebut nanti harus dikembalikan ketika akan meninggalkan masjid. Mungkin kartu tersebut lebih difungsikan sebagai pendataan saja, karena pengunjung tidak perlu membayar (tetapi boleh kalau mau berinfak).

Secara keseluruhan bagunan masjid masih belum sepenuhnya selesai, lebih kurang sekitar 40 persen masih dalam pengerjaan. Seperti pada kebanyakan masjid yang lain, di dalam masjid sangat adem, dari lantai dasar sampai lantai atas. Kami menghabiskan waktu lebih kurang tiga jam untuk sholat, berfoto dan mengelilingi masjid.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya dengan sebelumnya mampir ke Bakso Bakar Pak Man yang lokasinya tepat di pinggir jalan, apabila tidak salah di Jalan Diponegoro. Bakso Bakar Pak Man merupakan salah satu kuliner yang direkomendasikan beberapa sumber yang wajib dicoba bila sedang berkunjung ke Malang. Tempat berjualan yang digunakan tidak terlalu besar dan relatif sederhana, namun pada saat itu sangat ramai. Selain bakso bakar, juga disediakan bakso kuah, namun hanya disediakan satu jenis minuman yaitu teh bot*l sos*o. Pada waktu itu, stok tehnya sempat kehabisan, maklum bakso bakarnya pedas.Hahah

Selesai makan, kami tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah ada yang mengantri tempat duduk. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang, tetapi sebelumnya mampir membeli sempol—aku lupa dimana. Sempol itu adalah semacam siomay kecil-kecil yang ditusuk seperti sate, lalu digoreng setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam telur. Harga untuk satu tusuknya adalah lima ratus Rupiah. Kami masing-masing membeli sepuluh tusuk, dan ternyata mengenyangkan.


Oh iya, kami juga mampir ke Malang Strudle. Itu lho, leholeh khas Malang punyanya Teuku Wisnu. Kami membeli beberapa macam keripik buah, bukan strudel. Perilaku antimainstream yang agak gevleg sih sebenarnya. Hahah

Sunday, August 13, 2017

AWE- INSPIRING ME

Penulis: Dewi Nur Aisyah
Penerbit: Imprint Penerbit Serambi

Sungguh Allah memberikan kebahagiaan melalui banyak jalan. Melalui banyak kisah (halaman 149).

Mendengarkan dan membaca kisah hidup orang lain, ternyata membuat mata hati terbuka lebih lebar dalam melihat, memahami, menjalani dan memaknai kehidupan. Semakin banyak cerita yang disimak, semakin menjelaskan bahwa hidup tidak lain kecuali untuk disyukuri, terlebih dengan nikmat iman dan Islam.

Dua kata dan dua frasa untuk buku ini, luar biasa dan sangat bermanfaat!

Aku yakin tulisan dalam buku ini, muncul dari sosok yang cerdas, tegas, kuat tetapi lembut penuh kasih sayang. Buku ini bisa menjadi teman, yang membagi hal-hal penting dalam kehidupan, dan mengingatkan ketika lupa karena disibukan oleh banyak hal. Secara garis besar, menceritakan tentang personal branding seorang muslimah, yang salah satunya adalah untuk berprestasi (menginspirasi) dalam konteks luas. Seorang muslimah harus mempunyai cita-cita setinggi mungkin, menyusun rencana, dan menentukan waktu kapan berbagai rencana tersebut harus segera tereksekusi sebagai bagian dari ikhtiar. Juga dijelaskan, bagaimana ketika ikhtiar belum bertemu dengan takdir, yang orang pada umumnya menyebutnya dengan kegagalan.

Adalah masa ketika kita terjatuh perih, tergores luka, menyisakan perih dalam dada. Sat kita begitu kecang berlari dan terpaksa harus berhenti karena tersandung kerikil-kerikil ujian dan duri.” (halaman 122)

Adalah masa ketika kita merasakan begitu beratnya menanggung letih perjuangan, terseok berjalan dalam panjang tapak kehidupan. Tertatih melangkah dan terus bertahan. Seakan hati kecil menanyakan, “kapankah ini semua harus berakhir dan terbayarkan?” (halaman 122)

Adalah masa ketika doa dan permintaan kita tidak dikabulkan. Guratan kekecewaan seketika datang menelisip ke dalam kalbu yang perih menahan tangis. Terasa begitu pedih dan enggan untuk menengok kembali. Seakan cahaya dunia telah redup berdasarkan terkuburnya cita dan asa.” (halaman 122)

Bahasan pada bagian itu, nyes banget, mengena di hati. Siapa sih yang tidak sedih dengan kegagalan, ketika yang diharapkan belum sesuai dengan keinginan. Bukan hal yang mudah agar dapat sabar, tetap yakin kepada Allah, dan optimis. Kak Dewina, izin kutip ya.

Sungguh hanya Dia yang mampu memahami perihnya luka, pedihnya rasa, dan munajat khusyuk doa-doa. Allahu Qawwiy, kuatkan ya Rabb..kuatkan hati ini tatkala penantian akan pertolongan-Mu menyisipkan ragu dalam diri.” (halaman 123-124)

Kegagalan ternyata adalah cara Allah memberi tahu bahwa manusia sejatinya lemah dan kecil, tanpa Allah yang memberi kekuatan dan pertolongan. Kegagalan jelas menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan manusia, tapi manusia-lah yang membutuhkan Allah.

Dalam buku tersebut dituliskan kisah salah seorang teman penulis, sebagai berikut. “Selama ini, saya menganggap bahwa jika kamu mau hasil terbaik maka berikhtiarlah yang terbaik. Hal itu menjadikan saya bertanya-tanya jika saya telah merasa melakukan yang terbaik dan tidak mendapatkan yang terbaik maka saya menggugat keadilan-Nya dan arogan bertanya alasannya. Padahal, bukankah itu hak prerogative Allah SWT yang menentukan apa pun yang Dia mau.” (halaman 146)

Tersebutlah seorang hamba yang terkejut melihat gunungan amalnya, merasa tak memiliki amal shalilh sebanyak itu selama hidupnya, bertanyalah si hamba,” Ya Allah, amal sholeh yang mana yang menciptakan gunungan pahala setinggi itu?” Terjawablah tanyanya,” Sesungguhnya itu adalah pahala hasil doamu yang tidak Aku kabulkan.” Si Hamba masih ternganga dan berkata,” jika begitu, aku sungguh berharap tak ada doaku yang Kau kabulkan.” (halaman 147)

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan juga cara mengelola hati. Satu lagi, dalam buku ini terdapat panduan dan simulasi untuk menyusun rencana (target-target) hidup, dari tahunan sampai harian.

Terakhir, mengutip dengan perubahan: kehadiran muslimah menjadi penyejuk bagi dunia, saat iman menjadi muara jiwa, takwa menjadi pakaian dan salihah menjadi penghias akhlak.

Sekarang aku menjadi berkesimpulan bahwa, cita-cita terbaik seorang wanita adalah menjadi shalihah.

Wednesday, August 2, 2017

GARIS WAKTU


Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita

Sebuah garis minimal terdiri dari dua titik, titik awal dan titik akhir. Berawal bulan April tahun pertama dan (dianggap) berhenti pada tahun kelima bulan yang sama. Setidaknya butuh waktu kurang lebih lima tahun bagi Bung (sapaan Fiersa Besari) untuk dapat menarik benang merah perjalanan hidupnya selama tahun-tahun itu, yaitu mengikhlaskan. Aku mengasumsikan tokoh pertama dalam buku itu adalah Bung, sebab ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama.

Hampir enam puluh purnama. Ada harapan, penantian, pengorbanan, perjuangan, perjalanan, kekecewaan, luka, kesedihan yang diiringi dengan ketegaran dan canda tawa dan diakhiri dengan keikhlasan. Terbaca, bahwa dibalik ketegarannya, di belakang kebijaksanaannya mencari dan mengambil hikmah pada setiap pelajaran kehidupan, Bung membiarkan sisi manusiawi dalam dirinya tetap hidup. Bung tetaplah manusia biasa yang bisa jatuh, membiarkan diri jatuh, menikmati sakitnya jatuh, kemudian berusaha berdiri dan berjalan, dan semoga bisa berlari—menyamakan langkah dengan waktu yang tidak mau menunggu saat ia berhenti.

Sebelum bulan April tahun pertama, kehidupan Bung berjalan teratur sebagaimana mestinya, pada titik demi titik keseimbangan, garis pareto optimum. Hingga kemudian dia bersinggungan dengan garis lain.

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tidak terduga. Ia laksana mentari di tengah temaram; hijau diantara gersang. Cinta tidak pernah datang dengan tiba-tiba; ia akan mengendap-endap menyusup ke urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggakanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya (halaman 16).

Hati Bung tanpa izin sudah memilih. Kalau sudah begitu, yang perlu dilakukan adalah mengucapkan selamat datang dan menikmati roller coaster drama kehidupan. Dengan cinta, hidup menjadi drama, lebih hidup. Cinta adalah kekuatan yang cukup besar, mengubah benci menjadi suka, mengubah pelit menjadi dermawan, mengubah sedikit menjadi banyak, mengubah jauh menjadi dekat, atau sebaliknya. Namun cinta hanya bisa mengubah rasional menjadi irrasional, bukan sebaliknya. Meskipun demikian, cinta tidak pernah salah, dan bagaimana kita membawa diri saat jatuh pada cinta pun tidak salah--walaupun selamanya tidak selalu benar. Cinta adalah anugerah, walau entah bagaimana ia berakhir.

Berbulan, Bung menunggu si dia dengan sabar, dia yang datang ketika terluka, dirundung sepi atau dalam masalah. Bung dengan sabar pula mengobati, menemani dan membantu, atas nama kepedulian pada awalnya. Kemudian dia pergi kembali bersama orang lain, dan Bung hanya diam dan berdoa dengan perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Sekarang katakan, perasaan macam apa itu?

Rasa adalah anomali yang tidak bisa diprediksi. Rasa bisa datang dan pergi kapan pun dia mau. Rasa bukanlah sesuatu yang porsinya harus sama. Kadang, rasa yang kau beri tidak berbanding lurus dengan rasa yang kau terima. Maka, ketika rasa untukmu pergi, berhenti bertanya kenapa itu terjadi. Ubah apa yang masih bisa diubah, lepaskan apa yang sudah tidak bisa diubah. Bumi tidak pernah berhenti berputar ketika kau memilih untuk berhenti melangkah (halaman 177).

Berbulan setelahnya, dia datang kembali, tentu saja dengan luka, sepi dan masalah. Dan, Bung masih saja tidak beranjak jadi ruang tunggunya. Oh, Bung! Kemudian, seolah doa Bung terjawab, mereka, Bung dan si dia, mencoba berjalan dengan tujuan yang sama. Mereka mulai berbagi, walaupun entah siapa yang memberi lebih banyak dan siapa yang menerima lebih sedikit. Dia mungkin tidak tahu, bahwa Bung mencintainya dengan cara sederhana yang tidak biasa. Tidak percaya? Baca saja bukunya.

Ternyata ini bukan akhirnya, tetapi cukup untuk menjadi akhir. Bukan tidak cukup, tetapi cinta Bung mungkin belum menemukan tempat yang seharusnya. Karena, siapa sangka, si dia untuk kali berikutnya menghilang. Dan sudah bisa diduga, untuk kesekian kalinya dan yang terakhir, si dia memutuskan untuk berhenti, dan menikah. Dengan siapa?

Akhirnya, pada bulan keempat tahun kelima, Bung benar-benar benar. Bung pun ke gunung, menemui semesta, dari puncaknya jalan terjal yang telah dilalui sudah sama sekali tidak terlihat menyakitkan, meskipun bekas-bekas lukanya tetap ada.

Suratku ini telah tiba pada ujungnya. Ada lara, tawa, kecewa serta cinta yang kutumpahkan di dalamnya. Rangkaian emosi datang silih berganti, hingga akhirnya tersemat sebuah keikhlasan (halaman 205).

Sunday, June 11, 2017

Fantasy


Aku berdiri di tengah arus manusia yang menyemut dengan langkah bergegas keluar dari gerbong kereta Shinjuku Line.

Fantasy, ditulis oleh Novellina, mengisahkan tentang cinta dan persahabatan. Novel setebal 310 halaman tersebut, menggunakan alur mundur-maju dengan sudut pandang orang pertama dari dua tokoh utamanya, yaitu Davina dan Armitha. Keduanya bersahabat erat sejak duduk di bangku SMA. Mitha sangat cantik, berambut panjang sepunggung, bergigi kelinci, dan bermata lebar dengan bulu mata yang super tebal. Berbeda dengan Vina yang cenderung cuek dengan penampilannya, meskipun pada dasarnya ia cantik dengan darah Belandanya itu. Vina terlalu malas bahkan untuk sekedar menyisir rambut, namun dalam urusan akademis Vina dapat diandalkan.

Cerita berawal ketika Awang menemui Vina yang sedang asyik membaca supernova di perpustakaan, ia meminta dikenalkan dengan Mitha. Awang menyukai Mitha, tetapi entah mengapa Awang lebih nyaman dan terbuka dengan Vina. Mitha sempat curiga kalau Vina menyukai Awang, tetapi Vina bukanlah sahabat yang egois.

“Aku berharap Awang berhasil membuat Mitha menyukainya. Aku menyukai mereka berdua. Awang sangat menyayangi Mitha dan aku ingin seseorang yang terbaik untuk sahabatku.” (halaman 35)

Namun hati bukan tidak berubah, seberapa kuat pun dikontrol ia akan bergerak mengikuti alur jalannya. Kemudian, hati-hati yang ditakdirkan untuk saling melengkapi, akan saling mencari dan menemukan. Begitupula dengan Awang, tidak ada yang menghendaki ketika pada akhirnya perasaan Awang berubah haluan di saat Mitha benar-benar jatuh hati padanya, pun dengan Vina.

“Aku juga tidak tahu bahwa Awang selama ini adalah udara bagiku, alasan mengapa aku melakukan banyak hal akhir-akhir ini. Aku juga tidak tahu bahwa Awang adalah seluruh panca inderaku, ia menuntunku menjadi manusia yang lebih baik, bukan hanya Mitha, seorang anak SMA biasa.” (halaman 124)

Cinta memang ajaib, diakui ataupun tidak, Mitha yang sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan musik klasik menjadi sangat bersemangat mendalami piano, karena Awang. Mereka berdua mendaftar sekolah musik milik pianis yang sudah berkiprah di kelas internasional, Fantaisie Music School. Awang dan Mitha beberapa kali menjadi patner saat melakukan showcase, hingga pada akhirnya Awang memutuskan untuk mengambil beasiswa sekolah musik ternama di dunia, yaitu di Tokyo University of Arts. Tentu saja, Awang meminta persetujuan Vina lebih dahulu, dan dengan berat hati Vina mengiyakan keinginannya tersebut. Mitha tidak habis pikir dengan keputusan Vina.

"Kamu tahu mengapa persahabatan kita sangan berbeda dengan persahabatan orang lain? Karena Tuhan sudah menggariskan jalan hidup kita. Bahwa kita akan menyukai laki-laki yang sama. Laki-laki yang memasuki kehidupan kita secara bersamaan, dan Tuhan memberi kita hati yang besar, dan sedikit hormon sehingga kita tidak akan pernah bertengkar memperebutkannya.” (halaman 125)

“Aku berbeda dengan Vina, Hati yang besar hanyalah sebuah penyiksaan diri. “Kenapa kamu membiarkannya pergi jika kamu sangat mencintainya?” Because I love him so much and it hurts.” (halaman 125)

“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita kan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does” (halaman 127)

...

Tujuh tahun kemudian, yaitu pada tahun 2012. Semuanya berubah. Mitha menjadi sangat membenci Vina. Baginya Vina adalah peruntungan buruk, Vina telah menghancurkan semua mimpi-mimpinya. Kecelakan itu, terjadi empat tahun yang lalu telah membuat Mitha lumpuh, terlihat menyedihkan—setidaknya anggapannya bagi dirinya sendiri. Mitha enggan bertemu dengan orang lain, terutama Vina yang seolah menghasihani ketunaannya. Selama itu pula Mitha mengurung diri di dalam kamar.

Sementara itu, Vina yang saat itu bekerja pada sebuah lembaga pers sudah kehabisan cara bagaimana menghidupkan kembali semangat hidup sahabatnya, yang menolak mentah-mentah menemuinya. Untuk itulah, dia terbang ke Tokyo, menemui Awang, untuk Mitha.

“Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Kupikir aku tidak akan berhenti berharap, dan akan baik-baik saja selama itu. Kupikir aku tidak akan pernah putus asa. Namun ketika menatap diriku sendiri, aku tidak bisa mengenali diriku lagi” (halaman 133)

Pada puncaknya, dengan bantuan Awang dan rekannya, Mitha kembali bermain piano bahkan mengikuti kompetisi internasional, menjadi salah satu kompetitor Awang, sesuai janji mereka berdua saat masih SMA. Keduanya berhasil memasuki babak final. Saat itu pulalah, kebencian Mitha kepada Vina mencapai puncaknya.

“Ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidakkah kamu sadar semua orang telah berubah? Mitha yang kamu kenal sekarang bukan Mitha yang kamu kenal dulu.” (halaman 215)

“Aku menjahuimu karena aku muak dengan kenaifanmu, dengan kamu yang selalu berusaha membantuku keluar dari kesulitan hidupku, dan merasa mengetahui apa yang paling baik untukku dan bertidak seperti malaikat tanpa kuminta! Dari awal kamu hadir dalam hidupku untuk merusak kebahagiaanku. Kamu merebut Awang dari dariku, membiarkannya pergi dari sisiku delapan tahun lalu, dan membuatku lumpuh. Tidakkah semua ini cukup menyadarkanmu untuk pergi dari kehidupanku?” (halaman 216)

Pada saat yang bersamaan, dalam kondisi di mana cinta Mitha pada Awang yang sangat tidak terkendali dan Vina yang meragu antara berkorban untuk sahabatnya atau memperjuangkan cintanya, tanpa disadari Awang memberikan cintanya pada dua orang yang pernah bersahabat tersebut, meskipun dengan proporsi yang berbeda. Mereka harus memilih.

“Aku tertegun. Walaupun aku tahu jauh di lubuk hatinya, Awang sangat menyayangi Mitha, ketika mengetahui jika mungkin saja Awang mencintai Mitha, aku tidak siap menerimanya.” (halaman 277)

“Karena aku tidak ingin kehilangan Awang lagi, Mit,”potongku dingin” (halaman 278)

“Pilih, Awang. Kamu nggak bisa memiliki kami berdua sekaligus, “kataku akhirnya dan Mitha sekali lagi menyambutku dengan tawa menghina.” (halaman 281)

Bukan, ternyata bukan mereka yang memilih, tetapi takdir…

Tuesday, June 6, 2017

Doa

Di atas sana (mungkin) Tuhan sedang tersenyum, teduh memandangi mereka yang sedang  khusyuk terduduk bermunajat.
Sebagian dari mereka melantunkan pujian syukur.
Sebagian dari mereka memohonkan kekuatan dan keteguhan.
Sebagian dari mereka berpasrah diri, tidak tahu harus apa dan bagaimana.
Dalam doa.

Tuhan kembali tersenyum, kemudian menjawab doa mereka.
"Iya, boleh" untuk sebagian mereka,
"Iya, boleh tapi yang lain" untuk sebagian yang lain,
"Iya, boleh tapi tidak sekarang" untuk yang lainnya.

Kemudian, sebagian dari mereka masih tetap berdoa--tetap bersabar atas jawaban doa yang belum sesuai dengan pengharapan atau tetap berusaha mengumpulkan doa demi doa untuk mengetuk pintu-pintu langit.
Sebagian dari mereka lupa untuk tetap berdoa--(mungkin) doa telah terjawab atau justeru menyerah mendoa.

Sementara itu, di waktu yang sama, yang juga tidak luput dari penglihatanNya, adalah mereka yang sedang lupa.
Sebagian dari mereka sedang bersuka ria, dan sebagian yang lainnya sedang gundah gelisah.

Sekali lagi Tuhan tetap tersenyum, bersabar menunggu mereka ingat pada-Nya.
Tangan-tanganNya terbuka lebar, bagi siapa saja yang ingin datang dan berpeluk.
Sangat bersabar menunggu.

Adakalanya bila rinduNya tidak tertahan lagi, Tuhan akan menyapa mereka dengan sapaanNya yang lembut.
Namun apabila rindu tidak terindahkan, Tuhan memiliki cara terbaik untuk meyampaikan rinduNya.

Tok-tok-tok
"Duhai hati tidakah kamu merinduKu?
Tidakkah kamu ingin berdekat berpeluk denganKu,
sementara Aku amat sangat merindukanmu?"
(Mungkin) di saat itulah sebagian dari mereka merasa hatinya hancur, atau minimal, tidak lagi utuh.
Bagaimana tetap bisa utuh manakala hati diketuk dengan rindu dan cemburu?

Sunday, June 4, 2017

Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Ramadhanmu? Semoga semangat untuk beribadah dan belajar (apapun) senantiasa terjaga. Sudah lama ingin menulis, namun sayangnya apa yang semula mau ditulis dengan cepat menguap ketika sudah duduk dan membuka notebook. Apapun, ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran ya.

Akhirnya! Akhirnya bisa menulis lagi, dan yang paling penting adalah hari ini berhasil berkunjung ke salah satu perpustakaan, di Jakarta. Setelah hampir 21 bulan di Jakarta, akhirnya terealisasi! Hari ini aku ke Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta yang beralamat di Jalan Cikini Raya RT8/RW2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat. Perpustakaan ini berada di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, di bagian depan sehingga mudah ditemukan terlebih tulisan nama gedungnya mudah terlihat dari jalan raya.

Bagi pengunjung baru, perpustakaan ini cukup informatif--sehingga tidak membuat orang yang datang sendiri menjadi seperti orang hilang. Hehe. Setelah melewati pintu masuk, Bapak satpam yang duduk di meja sebelah kiri akan menyapa dan meminta pengunjung untuk mengisi buku tamu. Di sepanjang jalan menuju pintu perpustakaan (yang sebelumnya adalah pintu masuk bangunannya-red) terdapat pajangan gambar-gambar anak dan beberapa hasil karya tangan. Cantik. Setelah pintu masuk, kita akan diminta mengisi daftar hadir lewat komputer, di sisi sebelah kanan. Selain itu, kita juga bisa meminjam kunci loker, cukup dengan menjaminkan kartu identitas. Hanya saja, bagi non-anggota tidak bisa menggakses wifi, sementara itu keanggotaan hanya bagi pengunjung yang berkartu identitas DKI Jakarta. Hiks.

Perpustakaan ini relatif lebih besar dari perpustakaan yang pernah aku kunjungi sebelumnya di Yogyakarta (waktu itu Perpusataan Grhatama Pustaka BPAD belum dibangun-red). Kesan pertama tentang perpustakaan ini adalah bersih. Selain itu, penataan perpustakaan relatif rapi dan tidak padat (terkesan tidak terlalu penuh). Perpustakaan terdiri dari tiga lantai, yaitu lantai pertama merupakan perpustakaan umum, lantai kedua merupakan perpustakaan anak dan area playground, sedangkan lantai tiga merupakan area buku referensi. Perpustakaan memiliki toilet pada setiap lantainya dan mushola pada lantai satu, dan kondisinya bersih.

Pengunjung perpustakaan cukup banyak, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Berhubung hanya sendiri, pada kunjungan kali ini aku hanya berputar-putar di lantai satu saja. Itupun hanya berkeliling sebentar, kemudian mengetik tugas yang sempat tertunda-tunda. Semoga masih berkesempatan untuk mengeksplor bagian yang lain dan membaca buku-bukunya. Sayang kan, kalau ke perpustakaan tapi tidak membaca buku. Di lantai satu, kondisi ruangannya relative nyaman, jauh dari kesan kuno dan membosankan. Selain itu terdapat rak-rak buku, lantai satu juga dilengkapi dengan meja komputer, meja kerja, meja diskusi dan meja baca. Di lantai satu juga terdapat banyak colokan listrik, jadi jangan khawatir.

Oh iya, berhubung terdapat fasilitas loker, jaket dan tas tidak diperbolehkan dibawa masuk ke dalam ruangan, softcase notebook pun dianjurkan untuk tidak dibawa masuk. Beberapa menit sekali, terdapat petugas yang berkeliling memantau ruangan. Meskipun aku dan beberapa teman terkadang beranggapan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, namun alangkah lebih bijaknya jika ditaati, demi kenyamanan bersama, peraturan dibuat untuk menjaga harmonisasi. Haha

Saat Ramadhan, jam operasional perpustakaan ini adalah tujuh hari dalam satu minggu, yaitu dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Cukup kooperatif, daripada menghabiskan seluruh weekend untuk diam dan tidur di kost-an. 

Saturday, April 1, 2017

Tanpa Judul (5)

Hidup adalah perlombaan dengan waktu, bukan dengan orang lain.
Apakah hari ini lebih baik dari kemarin?
Apakah bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya?
Apakah tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya?
Bukan mengenai siapa yang lebih baik.
Kamu, dia, atau mereka.

Kamu dengan yang lain tidak akan pernah sepadan untuk diperbandingkan.
Tidak akan pernah apple to apple.
Setiap manusia telah diciptakan dengan sebaik-baiknya (dalam versinya masing-masing), kata Tuhan.
Maka, jadilah yang paling baik dari diri sendiri.
Kamu tidak akan pernah dapat berhenti apabila terus membandingkan dengan yang lain,
dan itu akan sangat melelahkan,
sebab di atas langit masih ada langit.

Kemudian, apabila pada satu kondisi kamu dikaruniai kelebihan pada satu hal, sementara orang lain tidak,
maka bukan berati kamu lebih dari dia.
Tuhan Mahaadil, mungkin kamu hanya belum melihat kelebihannya pada hal lain--yang kamu tidak punya.
Jadi, kamu tidak berhak merasa lebih a.k.a sombong..
Lagi pula, tanpa kehendak Tuhan, kamu bukan apa-apa sama sekali.

Tuesday, January 31, 2017

Tanpa Judul (4)

Pada akhirnya, cinta dimiliki oleh keberanian; sebab selain kegembiraan, cinta adalah kesedihan; selain mengobati, cinta dapat menyakiti; dan selain dapat menghidupkan, cinta dapat mematikan.

Juga cinta adalah saling.
Landak yang saling mendekat dan merapatkan diri akan saling menghangatkan, namun juga melukai--karena duri di tubuhnya.

Setiap kehidupan sudah membawa setengah dari cintanya. Pekerjaaan selanjutnya adalah kepada siapa dia berani melengkapkan cintanya?

Tuesday, November 8, 2016

Tanpa Judul (3)

Allah, Tuhan-ku
Terima kasih ya Allah, Engkau benar mengirimkan malaikat untuk menjagaku di dunia ini.
Bersamanya dunia begitu damai, terasa bersahabat

Kemudian waktupun bergulir, dan setapak demi setapak mulai ku telusuri seiris kecil kehidupan -- aku sedang di dunia

Tetapi ya Allah, apabila nanti Engkau bertanya tentang bagaimana dunia
Yaitu bahwa Engkau benar, dunia ini memang gemerlap
Gemerlap, tapi tak bercahaya
Kamuflase
Gemerlap, tapi tak lama
Fana

Ya Allah, tak ada satu pun lepas dari pengawasanMu
Tentang saudaraku yang mencari keadilan di dunia ini, tetapi yang kulihat ternyata dunia ini tidak adil
Tentang saudaraku yang mencari kebenaran, tetapi yang kudengar adalah simpang siur
Kebohongan dan fitnah keji bertebaran
Mengaburkan apa itu adil dan benar

Aku, aku, aku harus bagaimana dengan dunia ini
Aku ingin ikut saudaraku itu, tapi aku terlalu takut
Tetapi ya Allah, aku sungguh tidak bisa mengetahui saudaraku diperlakukan seperti itu
Engkau Maha Mendengar, terlebih doa-doa orang tersakiti yang ter(di)bungkam
Ya Allah dengarkan doa saudaraku
Dan memang keadilan dan kebenaran hanya milik-Mu


"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia"
(Ali bin Abi Thalib)

Sunday, August 21, 2016

Dirgahayu!

Terima kasih para pejuang--baik yang dikenal sebagai pahlawan maupun yang tidak, sehingga 71 tahun setelah bertahun estafet marathon perjuanganmu, aku dapat merasakan apa yang orang pada umumnya menyebut "kemerdekaan". Terima kasih, bagi kalian yang lebih dulu berjuang, yang tidak dikenal, yang penuh ikhlas mengorbankan apa yang diperlukan demi agar teks proklamasi dapat dibacakan dan digemakan di republik ini.

Kemerdekaan seharusnya membuat merdeka, sehingga tak ada yang didapatkan kecuali keadilan bukan?
Akan tetapi, ternyata kalian sudah paham jauh lebih dulu, dan sekarang aku baru mengerti, berharap dan berusaha mencari dan mendapatkan keadilan di republik ini, di dunia ini adalah hal yang menguras waktu, tenaga dan jiwa dari pada apa yang disebut keadilan itu akan adil bagiku. Jangan coba membuatku memahami bahwa keadilan di dunia tidak lebih dari ilusi, yang terkadang membuat lupa untuk menggantungkan perbuatan dan balasan hanya pada pemilik kehidupan. Dan itu sangat melelahkan. Dunia memang terlalu nyata hingga membelenggu jiwa, dan apalah arti raga tanpa jiwa yang merdeka.

Atau jangan-jangan aku memang harus terus berjuang, sebab seorang pernah berkata bahwa kemenangan (baca: kemerdekaan) hanyalah untuk mereka yang berjuang. Dan tidak ada kata lelah dalam kamus seorang pejuang. Pejuang tidak akan pernah berhenti, sebab perjuangan tidak akan pernah selesai.

Selamat 71 tahun Indonesiaku, semoga jiwa-jiwa aman dalam dekapanmu sehingga merdeka untuk memilih, mengikuti nurani tentang benar dan salah, lepas dari dikte dan dogma dunia.

Aku bukan sedang mencoba menggurui, memaknai apa arti merdeka.
Hanya saja ketika menjelang tanggal 17 Agustus, saat nuansa merah dan putih menghiasi setiap sudut republik ini--setidaknya sudut yang mampu kulewati dengan berjalan kaki atau menggonceng sepeda motor atau sesekali naik mobil sewaan, ada sebongkah rasa yang menyeruak di dada, memberikanku bayangan tentang peristiwa yang belum pernah aku lewati sama sekali. Adalah saat dimana teriakan merdeka atau mati menjadi begitu menggetarkan, atau teriakan allahu akbar saat tangan memegang erat sepotong bambu yang diruncingkan dengan bergelang janur kuning mampu mengeluarkan kekuatan dan keberanian yang maha. Saat itu hanya ada kata kita, kita adalah aku dan kamu yang disatukan dengan cinta. Meski ternodai dengan sekali dua kali penghianatan tikus-tikus penghamba sepotong keju untuk dia kerat. Meski sebagian tikus itu saat ini tetap hidup di gorong-gorong selokan atau di kolong meja saat republik ini sudah merdeka, dan tetap mengerat. Bah!

Masih dalam nuansa kemerdekaan, sebentar, coba ku kutipkan tulisan Kahlil Gibran untukmu. Begini ceritanya, Kahlil Gibran kutemukan saat aku sedang merasa terlalu lelah untuk melakukan sesuatu tetapi terlalu bosan untuk tidak melakukan apapun. Sementara itu, teman-teman di kota kelahiranku sedang sibuk berkegiatan dalam kerangka kemerdekaan RI--yang dulu sebelum merantau aku ada di tengah-tengah mereka. Sementara, teman-temanku di kota juga tengah sibuk dalam rangka acara yang sama dengan cara mereka. Dan aku iri jika harus diam dan sendiri. Dan aku benci jika harus menderita iri.

Begini dia menulis," Dan aku telah menemukan kekebasan dan keamanan dalam kegilaanku. Kebebasan kesendirian dan keamanan dari menjadi mengerti. Karena yang mengerti kita memperbudak sesuatu dari diri kita"

Masih tentang Gibran, membaca sedikit dari sekian banyak tulisannya membuatku merasa, yang saat ini aku tidak tahu harus mendefinisikan seperti apa. Bahkan jauh sebelum republik ini lahir, Gibran menuliskan paragraf-paragraf berikut.

"Jiwa penuh kepedihan menemukan ketenangan ketika bergabung dengan yang serupa. Mereka bersatu dengan penuh kasih sayang, bagaikan seorang asing yang diceriakan ketika ia melihat orang asing lain di tempat asing. Hati yang bersatu melalui perantara penderitaan tidak akan dipisahkan oleh kejayaan kebahagiaan. Cinta yang dibersihkan air mata akan selamanya murni dan indah."

Di paragraf yang lain ia menuliskan.
"Namun penyair adalah orang-orang yang tidak bahagia, karena betapa pun tinggi jiwa mereka , mereka akan terus tertutup dalam bungkus air mata"

Dan satu lagi, yang mungkin bisa sebagai pengingat bagi yang lupa.
"Setiap kali aku pergi ke ladang, aku kembali dengan kecewa, tanpa pemahaman apa yang menjadi penyebab kekecewaanku. Setiap kali aku memandang langit kelabu, aku merasa hatiku bedebar. Setiap kali aku mendengar nyanyian burung dan ocehan musim semi, aku menderita tanpa mengerti alasan penderitaanku. Katanya keburukan membuat seorang manusia merasa hampa dan kehampaan membuat dia riang. Mungkin benar untuk mereka yang lahir, mati dan yang seperti mayat membeku, namun pemuda sensitif yang merasakan banyak hal dan mengetahui paling sedikit adalah makhluk paling menyedihkan di bawah sinar matahari, karena dia dicabik oleh dua kekuatan. Kekuatan peryama adalah kekuatan yang mengangkatnya dan menunjukkan kepadanya keindahan keberadaan melalui awan mimpi, dan kekuatan kedua adalah yang menarik ia ke bawah tanah dan mengisi matanya dengan debu dan memperkuatnya dengan ketakutan dan kegelapan."

Lalu, akhirnya aku tahu bahwa Kahlil Gibran adalah satu penyair legendaris yang lahir pada tahun 1883 di Lebanon--yang baginya cinta adalah sesuatu yang agung, abadi, menggelorakan jiwa sekaligus mengiris hati.

Tanggal 17 Agustus adalah momen di mana kibaran bendera merah putih diantara biru putihnya angkasa yang berawan terasa mendebarkan, mengharukan, membanggagakan. Gagah.
Juga adalah waktu di mana aku selalu tak pernah berhasil membayangkan bagaimana perasan para komposer berbagai lagu-lagu wajib dan lagu-lagu nasional ketika mencipta lelagu tersebut. Aku hanya mampu mendengar dadaku bergemuruh ketika berulang lagu itu berdendang di daun telingga. Ada perasaan yang tidak terdefinisikan. Dan aku mengandai-andai tentang republik ini.

Dan juga adalah waktu di mana harus memerdekakan jiwa. Membiarkan mengikuti intuisi ke mana pergi mengajak.
Siapakah yang jiwanya paling merdeka? Ini bukan pertanyaan retoris, sebab meskipun aku tak berharap pertanyaan ini dijawab dan meskipun aku tak tahu jawabannya.

Dirgahayu!