Showing posts with label Eksplorasi. Show all posts
Showing posts with label Eksplorasi. Show all posts

Tuesday, September 24, 2019

Akhirnya, Icip-icip di Patbingsoo


Setelah sekian bulan ngidam untuk nyobain Patbingsoo di Jogja, terlaksana juga, meskipun di Surabaya haha. 
Sebagai penyuka makanan yang manis dingin dan unyu, penasaran! Konon, Patbingsoo adalah salah satu desert favorit di Korea saat musim panas.
Tempatnya unik, seperti dalam MRT loh. Karena waktu itu habis makan siang, dan pengen nyemil-nyemil dingin maka diorderlah Heogi Patbingsoo yang komposisinya adalah anggur, strawberry, kiwi, jelly, dan ogura ice cream.
Tentu saja selain desert yang manis, seger dan unyu, juga ada menu ala korea yang lain seperti tteobokki, bimbimbab, ramyeon. Nyaaam :9

Thursday, September 19, 2019

Braga Permai,The Most Heritage Restaurant in Town


Bandung merupakan salah satu kota yang menarik untuk disinggahi, mulai dari wisata (baik sejarah maupun modern), kuliner maupun mode-nya. Sekitar September 2018 lalu, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mampir di the most heritage restaurant in town yang biasa dikenal dengan Braga Permai. Resto ini berdiri sejak tahun 1923 (sebelum Indonesia merdeka loh) dan terletak di jalan Braga, Bandung—yang disepanjang jalannya sangat ciamik. FYI, sepanjang jalan Braga banyak terdapat café-café unik dan sepanjang jalan tersebut merupakan spot yang instagramable. Hehe

Braga Permai ini memiliki space yang besar, indoor dan outdoor. Saat kami berkunjung, resto tersebut ramai beragam pengunjung, mulai dari pengunjung domestik maupun mancanegara, baik bersama teman maupun keluarga. Walaupun ramai pengunjung, namun suasana di resto tetap nyaman untuk mengobrol dan bercengkrama. Di bagian outdoor terdapat live music yang mendukung suasana semakin cozy.



Saat masuk ruangan dan duduk, waitersnya menuangkan air putih untuk kami masing-masing, sambil kami memilih menu untik diorder. Dikarenakan sebelumnya sudah makan berat, kami memutuskan memesan camilan bersama yaitu pizza (entah yang apa tepatnya aku lupa) dan baked potato with Bolognese sauce. Ditambah (aku engga ingat temen lain memesan apa) choco lava ice cream vanilla—sumpah ini enak banget loh. 

Nah, sebelum memulai dengan main dish, kita diberi appetizer secara free yang terdiri dari pastry, roti, stick, beserta cheese cream—semuanya enak. Oh iya, menu di Braga Permai ini beragam kok, Indonesia ada, western pun bisa :D

Satu kata, worthed!

Friday, January 26, 2018

My First Skincare: Part 2

Melanjutkan cerita tentang skincare aku di post yang sebelumnya, kali ini adalah tentang make up, yaitu foundation, bedak dan make up remover. Aku baru tahu tentang tiga jenis produk itu—tahunya pun masih sepersepuluh-sepersepuluh (sebenarnya mau bilang setengah-setengah, tapi kenyataannya nggak sebesar itu) Hehehe.

Aku mulai kenal yang namanya bedak sebenarnya dari kecil, tentu saja karena ibuku punya dan pakai. TAPI aku baru mulai iseng pakai waktu kuliah, itu pun bisa dihitung dengan jari dan tipis-tipis. Hehe. Dulu sempat mencoba beberapa merk bedak, tapi belum ada yang cocok—entah itu karena warnanya yang kurang pas dan sering langsung jerawatan setelah bedakan. NAH KAN, pakai bedak aja jerawatan apalagi ditambah foundation. Oleh karena itu, aku menghindari banget yang namanya memakai bedak dan foundation.

NAMUN, ternyata akunya yang berpikiran sempit. Yang salah bukan bedak atau foundationnya, tapi cara pemakaian dan pilihan aku yang belum pas sama jenis dan warna kulit. Akhirnya, setelah beratus purnama sadar juga HEHE. TERNYATA YANG KURANG ADALAH MAKE UP REMOVER, karena facial foam dan toner saja ternyata belum cukup untuk membersihkan wajah (untuk mencegah kulit tersumbat yang membuat jerawat-jerawat muncul).

Berita gembira yang perlu aku ceritakan adalah, aku sudah menemukan jodoh bedak yang foundation yang setidaknya paling pas dan nyaman—dipakai dan dikantong. Aku awalnya hanya iseng coba-coba karena kebetulan harus ke kondangan (dan nggak ada teman yang bisa make up-in). Setelah membaca blog dan melihat vlog orang, aku membeli produk dari Wardah. Selain harga yang cukup terjangkau bagi pekerja serabutan macam aku (yang apabila ternyata tidak cocok, bisa dibuang atau dihibahkan tanpa merasa terlalu kehilangan karena terlalu sayang eh), merk ini insyaAllah halal.


Jadi ini dia foundation dan bedak aku ...
Aku pakai Wardah Luminous Liquid Foundation dengan warna Beige. Sebenarnya untuk merk Wardah ada empat jenis foundation yaitu Wardah Luminous Creamy Foundation, Wardah Luminous Liquid Foundation, Wardah Exclusive Liquid Foundation dan Wardah BB Cream dan Wardah C-Defense DD Cream. Terus terang aku nggak paham apa bedanya HEHE. Sejauh ini, aku sudah mencoba jenis pertama sampai ketiga, dan yang paling pas adalah yang kedua. Untuk produk jenis ini, ada 4 macam tingkatan warna yaitu natural white, light beige, beige dan white.

Konon, menurut banyak revieu, Wardah Luminous Liquid Foundation cocok untuk kulit normal agak berminyak dan warna cokelat. Aku setuju.
Selain itu, ketika dipakai, tidak lengket, tidak pecah-pecah, dan menyamarkan warna kulit yang kurang merata (meskipun tidak terlalu menutup bekas jerawat). Dan, kalau dipakai wudhu tidak sepenuhnya ilang lho. Secara garis besar, dia nyaman dipakai dan memberikan efek natural. Untuk pemakaian biasanya aku sekali oles saja (atau istilah blogger reviewernya satu layer), karena masih parno memakai foundation, TAPI itu sudah cukup kok. Harganya aku lupa, tapi yang jelas dibawah 50k.

Selanjutnya adalah bedak...
Aku memakai Wardah Luminous Face Powder, jenis bedak tabur warna beige atau nomor 2. Bedak untuk merk Wardah sendiri sebenarnya ada 8 macam--cukup membuat bingung mau pilih yang mana. Hahaha. Untuk Wardah Luminous Face Powder ada empat pilihan warna yaitu light beige, beige, ivory dan natural. Di aku, bedak ini cocok dipadukan dengan foundation yang sebelumnya aku ceritakan di atas. Ketika dipakai, wajah menjadi lebih tidak berminyak dan berkilap, karena konon mengandung oil control. Ringan saat dipakai.  Bedak jenis tabur direkomendasikan bagi pemilik kulit normal agak berminyak yang rentan jerawat. Untuk pengaplikasian aku menggunakan powder brush supaya lebih merata dan tidak terlalu tebal.

Dan yang terakhir adalah Wardah Make Up Remover
Ada dua jenis make up remover untuk brand Wardah yaitu Wardah EyeXpert dan Wardah Make Up Remover. Jenis yang pertama biasanya digunakan untuk membersihkan riasan mata (eye liner dan maskara) dan riasan bibir (lipstik yang biasanya matte). TAPI saat ini aku sedang mencoba jenis yang kedua, yaitu untuk menghapus bedak dan foundation. Kesan selama pemakaian adalah ampuh dan nyaman. Alhamdulillah cocok. NAH lagi-lagi aku lupa harganya. TAPI seperti harga produk untuk brand Wardah pada umumnya, harganya bersahabat kok.

Friday, January 19, 2018

My First Skincare: Part 1

Halo semua! Akhirnya, setelah berminggu-minggu mengumpulkan niat—sebenarnya bukan mengumpulkan niat juga sih, karena niat menulisnya sudah lama, tetapi eksekusinya selalu tertunda tunda tunda dan tunda, lagi lagi lagi dan lagi. Ini adalah postingan pertama aku di tahun 2018.

Kali ini aku ingin sharing tentang pengalaman skincare pertama aku. Hehehe, yang pertama memang sering kali berkesan dan kesannya awet, terlepas apakah itu manis atau pahit. Eh. Yang sudah kenal aku tentu tahu betapa polosnya aku (baca: buluk), bahkan sampai sekarang, meskipun sudah mandi beratus kali pakai air Jakarta.

Aku berasal dari salah satu dusun di sudut tenggara Yogyakarta, yang semasa usia sekolah dan kuliahnya terlalu fokus belajar dan belajar, meskipun begitu belum pinter-pinter juga lho anaknya. Waktu itu, aku sama sekali nggak tetarik, malah enggan sama yang namanya bedak, lipstick dan sebangsanya. Paling pol aku pakai sabun muka, itu pun bisa dihitung jari. Alhasil, dapat terbanyangkan penampakan seorang aku, yang deskripsi singkatnya seperti ini: anak dusun, cupu, belum pinter-pinter, dan buluk. Hahaha. TAPI, Alhamdulillahnya adalah aku masih diberikan hidup, sehat dan normal.

Aku sempat bertekad untuk tidak memakai make up atau skincare atau sebangsanya, sok-sokan ingin natural gitu. TAPI HELL-O!, dunia keras bung, yang empuk kata-kata manismu. Makin ke sini aku sadar kalau aku tidak terlahir seperti Cleopatra atau Cinderela--yang satu dari kecil sudah well-maintained atau yang sudah dari oroknya terlahir cantik jelita meskipun harus cuci baju di sungai, yang meskipun polosan cakepnya tumpah-tumpah. Aku juga mulai sadar kalau di dunia ini ada yang namanya gap antara idealitas dan realitas. Kalau ada yang bilang kamu cakep kok hatinya, tolong jangan seneng dulu, tolong tanyakan gimana dia bisa lihat hatimu. Pastikan juga dia cenayang atau bukan. Hehehe

NAH, mulai dari itu aku mulai coba-coba. Niatnya sih ibadah. Hahaha. Pertama, biar orang yang ngelihat nyaman, nggak eneg sehingga tidak menghambat interaksi dan transaksi. Dua, membersihkan label anak dusun (anak daerah) yang sukanya dibilang cupu—padahal mah ya, banyak yang bening dan gaul abis lho. Kebetulan aja, ada yang sial ketemu yang macam aku ini. Ketiga, membantu ngurangin dosa orang karena keseringan ngehina hina aku. LOL

Perlahan-lahan, sangat pelan kaya siput jalan, aku mulai tergerak mengikuti kebiasaan baik teman-temanku yang secara konsisten memperhatikan estetika dan perawatan diri. INI SANGAT BERAT. BENERAN, AKU NGGAK BOHONG. Aku tanpa sengaja, memulainya dengan membeli lipstick. Hahaha. Pahitnya adalah aku sangat sering salah membeli lipstick, padahal waktu dicoba di counternya bagus. Kata revieu dibeberapa blog itu karena efek pencahayaan di counter kosmetik yang membuat lipstick jadi bagus dicoba. Aku mulai mempunyai beberapa lipstick, mulai dari lipbalm, lipstick biasa, lipstick yang matte, lip tint, sampai lip cream. Ya, saat itu aku mulai memakai lipstick dan mencoba pelembab wajah. Itu saja. Kenapa lipstick? Adalah karena cukup simple untuk dipakai dan dapat membantu memberi sedikit warna di wajah. Aku belum berani menggunakan foundation maupun bedak karena takut jerawatan, APALAGI ALIS.

Baiklah, ini dia pengalaman pertama aku …

Skincare
Meminjam istilah temanku, untuk skincare saat ini aku menggunakan produk dari Loreal, setelah sebelumnya mencoba berbagai produk lain. Aku sempat menggunakan produk dari Lariss* dan Natash*, namun aberhenti karena tidak cocok. Untuk produk yang pertama, facial foam dan krim paginya membuat mukaku berminyak, sedangkan krim malamnya sering terbawa tidur (padahal harusnya wajah dibilas setelah dua jam pemakaian). Untuk produk kedua, selain keluhan yang sama, adalah harga yang tidak cocok dikantong.Hehehe Nilai plus produk kedua adalah krim malam yang bisa dipakai tidur, tanpa perlu dibilas.

NAH, aku menggunakan empat jenis produk Loreal yaitu White Perfect Extra Ordinary Whip dan White Perfect Scrub untuk facial foam; Revitalift Day Cream untuk krim pagi dan White Perfect Night Cream untuk krim malam. Aku mencoba produk ini atas rekomendasi teman, namanya Dewila. Makasih yaa Wiii, ini cocok di aku.


Produk ini menjadi worth buat aku karena: 1) Cocok. Efeknya memang tidak signifikan, tetapi saat memakai facial foam wajah terasa enteng. FYI facial foamnya terasa light dan baunya soft banget. Krim pagi tidak memicu minyak berlebih saat dipakai, sedangkan krim malam dapat dipakai tanpa perlu dibilas saat tidur. 2) Masa kadaluarsa yang lebih lama (dalam hitungan tahun), berbeda dengan dua produk sebelumnya yang kadaluarsanya dalam hitungan bulan. Lebih ekonomis kan?; 3) Harga produk ini memang relatif sedikit lebih tinggi dibanding produk yang lain, tetapi sebelas dua belas dibanding dua produk klinik kecantikan yang sebelumnya pernah aku coba.

Aku belum sempat mengambil gambar untuk facial foam dari Loreal, tetapi di atas adalah gambar krim pagi dan krim malam yang aku pakai. Harga facial foamnya masing-masing lebih kurang 50k. Krim malam kalau tidak salah harganya sekitar 150k. Untuk krim pagi aku mengambil ukuran paling kecil karena baru coba-coba, sebab pada dasarnya aku tidak suka menggunakan krim pagi. Alhamdulillah sejauh ini cocok, harganya sekitar 75k.

NAMUN, sekali lagi, aku setuju dengan para beauty blogger atau beauty vlogger, bahwa skincare dan make up adalah cocok-cocokan, tergantung masing-masing orang. ADA hal yang aku pelajari saat membeli produk skincare atau pun make up, yaitu sebaiknya membaca revieu tentang produk tersebut sebanyak mungkin, untuk memastikan agar tidak salah beli. Aku yang sangat cupu tentang skincare dan make up, sangat terbantu dengan revieu-revieu tersebut. Terima kasih para blogger dan vlogger! Oleh karena itu, aku merasa perlu juga untuk membagi pengalaman aku yang masih cupu ini, semoga dapat bermanfaat suatu saat nanti entah bagi siapa. Hehehe

Sementara, sampai segini dulu, semoga aku dapat konsiten posting lagi yaaa. 
Have happy day, nice people :D

Monday, September 18, 2017

SURABAYA (Bagian 1)

Rabu, 16 Agustus 2017

Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan (atau lebih tepatnya kabur) ke Surabaya. Cukup impulsif, dan mungkin bukan keputusan yang tepat mengingat Surabaya bukanlah destinasi prioritas untuk jalan-jalan. Selain itu, berpergian ditengah penyusunan laporan triwulanan ternyata cukup menyita pikiran dan energi—dimana harus lembur lebih kurang empat hari sebelumnya agar bisa kabur dengan tenang (tapi realitanya tidak juga). Hahaha. Namun demikian, tidak salah pergi ke Surabaya, karena di Surabaya aku bertemu dengan teman-teman terbaikku. Kata orang sih bukan kemana-nya, tetapi dengan siapa-nya.

Aku berangkat dari kantor cukup mepet, ditambah sedikit bermacet-macet di jalan, aku terpaksa harus berlari-lari agar tidak terlambat masuk ke gerbong. Aku duduk di gerbong nomor 6, kursi 3B. Untuk kereta Bangunkarta, kursi duduk tersebut relatif strategis, karena tidak terlalu dekat dan terlalu jauh dengan toilet dan pintu keluar. Selain itu, gerbong nomor 6 juga cukup dekat dengan resto—seumur-umur naik kereta aku belum pernah ke resto. Kereta juga menyediakan selimut, meskipun saat itu AC-nya tidak terlalu dingin. Sayangnya, tidak ada meja lipat di kursi duduknya, sehingga agak menyulitkan ketika mau makan atau kerja (ditulis dengan huruf kapital, bold dan underlineKERJA”). Akhirnya, pukul 15.00 WIB persis keretaku berangkat.

Di sampingku duduk seorang bapak-bapak, kalau tidak salah ingat namanya Sumarno. Dari apa yang dibicarakan, aku yakin beliau bukanlah sembarang orang. Kami membicarakan mulai dari Bapp*nas, berita-berita terkini (wuih terkesan up to date yak), sampai agama. Sayang sekali, aku tidak jadi meminta bertukar kontak dengan beliau. Terlepas dari latar belakang beliau, hal yang cukup terus aku ingat adalah pikirane kudu resik, niate apik, lakune becik¸(pikirannya harus bersih, niatnya bagus dan perilakunya baik) agar bahagia. Falsafah hidup yang sederhana, tidak muluk-muluk, tetapi tidak mudah untuk dipraktikan.

Kamis, 17 Agustus 2017

Singkat cerita, setelah menghabiskan lebih kurang 12,5 jam di dalam kereta dengan mengobrol, tidur, dan mati gaya, akhirnya pukul 04.00 WIB aku sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Setelah sholat Subuh dan tidur beberapa jam di kostan temanku, Ima, yang terletak di Jalan Embong Kenongo, sekitar pukul 09.00 WIB kami berdua bersiap berangkat ke Malang. Tujuan kami adalah ke Masjid Tiban Malang, konon disebut masjid tiban karena masjid yang megah dengan sepuluh lantai tersebut tiba-tiba berdiri di tengah pemukiman warga. Menurut beberapa sumber, masjid tersebut sebenarnya adalah pondok pesantren yang dibangun secara bergotong royong swadaya oleh santri dan jamaah, sehingga tidak banyak pihak luar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut. Masjid berlokasi di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Malang atau dapat ditempuh sekitar 5 jam dari Surabaya dengan mobil.

Lokasi masjid dapat terdeksi oleh google map, walaupun memang agak “masuk”, sehingga kami harus bertanya kepada warga. Warga sekitar menyediakan tempat parkir kendaraan, meskipun ternyata di dalam komplek masjid juga tersedia. Dari lokasi parkir warga, kami berjalan sekitar 50 meter atau sekitar 5 menit. Di sepanjang jalan, berjajar pedagang berbagai makanan kecil dan oleh-oleh, dengan harga yang relatif sangat terjangkau. Kami agak terkejut, ketika di tengah jalan seorang anak kecil yang menawarkan plastik untuk tempat sepatu kami saat memasuki masjid dengan harga yang sangat murah, lima ratus Rupiah!


Penampakan masjid tersebut adalah perpaduan antara gaya Timur Tengah, Tiongkok dan modern. Tampak bagian depan masjid adalah ornament Timur Tenggah dengan warna dominan biru dan putih. Di bagian dalam lantai dasar masjid terdapat banyak sekat ruangan, dengan berbagai peruntukan. Misalnya mushola, tempat wudhu, tempat istirahat, kolam yang terpisah antara putra dan putri; ruang tamu; ruang akuarium dan sebagainya. Menurut beberapa sumber, lantai satu dan empat digunakan sebagai tempat kegiatan para santri; lantai enam sebagai ruang keluarga; lantai tujuh dan delapan sebagai tempat toko-toko cinderamata yang dikelola santri.

Pengunjung yang datang dapat langsung ke dalam masjid untuk mencatatkan diri dan mengambil kartu tamu. Kartu tersebut nanti harus dikembalikan ketika akan meninggalkan masjid. Mungkin kartu tersebut lebih difungsikan sebagai pendataan saja, karena pengunjung tidak perlu membayar (tetapi boleh kalau mau berinfak).

Secara keseluruhan bagunan masjid masih belum sepenuhnya selesai, lebih kurang sekitar 40 persen masih dalam pengerjaan. Seperti pada kebanyakan masjid yang lain, di dalam masjid sangat adem, dari lantai dasar sampai lantai atas. Kami menghabiskan waktu lebih kurang tiga jam untuk sholat, berfoto dan mengelilingi masjid.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya dengan sebelumnya mampir ke Bakso Bakar Pak Man yang lokasinya tepat di pinggir jalan, apabila tidak salah di Jalan Diponegoro. Bakso Bakar Pak Man merupakan salah satu kuliner yang direkomendasikan beberapa sumber yang wajib dicoba bila sedang berkunjung ke Malang. Tempat berjualan yang digunakan tidak terlalu besar dan relatif sederhana, namun pada saat itu sangat ramai. Selain bakso bakar, juga disediakan bakso kuah, namun hanya disediakan satu jenis minuman yaitu teh bot*l sos*o. Pada waktu itu, stok tehnya sempat kehabisan, maklum bakso bakarnya pedas.Hahah

Selesai makan, kami tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah ada yang mengantri tempat duduk. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang, tetapi sebelumnya mampir membeli sempol—aku lupa dimana. Sempol itu adalah semacam siomay kecil-kecil yang ditusuk seperti sate, lalu digoreng setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam telur. Harga untuk satu tusuknya adalah lima ratus Rupiah. Kami masing-masing membeli sepuluh tusuk, dan ternyata mengenyangkan.


Oh iya, kami juga mampir ke Malang Strudle. Itu lho, leholeh khas Malang punyanya Teuku Wisnu. Kami membeli beberapa macam keripik buah, bukan strudel. Perilaku antimainstream yang agak gevleg sih sebenarnya. Hahah

Sunday, June 4, 2017

Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Ramadhanmu? Semoga semangat untuk beribadah dan belajar (apapun) senantiasa terjaga. Sudah lama ingin menulis, namun sayangnya apa yang semula mau ditulis dengan cepat menguap ketika sudah duduk dan membuka notebook. Apapun, ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran ya.

Akhirnya! Akhirnya bisa menulis lagi, dan yang paling penting adalah hari ini berhasil berkunjung ke salah satu perpustakaan, di Jakarta. Setelah hampir 21 bulan di Jakarta, akhirnya terealisasi! Hari ini aku ke Perpustakaan Umum Provinsi DKI Jakarta yang beralamat di Jalan Cikini Raya RT8/RW2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat. Perpustakaan ini berada di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, di bagian depan sehingga mudah ditemukan terlebih tulisan nama gedungnya mudah terlihat dari jalan raya.

Bagi pengunjung baru, perpustakaan ini cukup informatif--sehingga tidak membuat orang yang datang sendiri menjadi seperti orang hilang. Hehe. Setelah melewati pintu masuk, Bapak satpam yang duduk di meja sebelah kiri akan menyapa dan meminta pengunjung untuk mengisi buku tamu. Di sepanjang jalan menuju pintu perpustakaan (yang sebelumnya adalah pintu masuk bangunannya-red) terdapat pajangan gambar-gambar anak dan beberapa hasil karya tangan. Cantik. Setelah pintu masuk, kita akan diminta mengisi daftar hadir lewat komputer, di sisi sebelah kanan. Selain itu, kita juga bisa meminjam kunci loker, cukup dengan menjaminkan kartu identitas. Hanya saja, bagi non-anggota tidak bisa menggakses wifi, sementara itu keanggotaan hanya bagi pengunjung yang berkartu identitas DKI Jakarta. Hiks.

Perpustakaan ini relatif lebih besar dari perpustakaan yang pernah aku kunjungi sebelumnya di Yogyakarta (waktu itu Perpusataan Grhatama Pustaka BPAD belum dibangun-red). Kesan pertama tentang perpustakaan ini adalah bersih. Selain itu, penataan perpustakaan relatif rapi dan tidak padat (terkesan tidak terlalu penuh). Perpustakaan terdiri dari tiga lantai, yaitu lantai pertama merupakan perpustakaan umum, lantai kedua merupakan perpustakaan anak dan area playground, sedangkan lantai tiga merupakan area buku referensi. Perpustakaan memiliki toilet pada setiap lantainya dan mushola pada lantai satu, dan kondisinya bersih.

Pengunjung perpustakaan cukup banyak, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Berhubung hanya sendiri, pada kunjungan kali ini aku hanya berputar-putar di lantai satu saja. Itupun hanya berkeliling sebentar, kemudian mengetik tugas yang sempat tertunda-tunda. Semoga masih berkesempatan untuk mengeksplor bagian yang lain dan membaca buku-bukunya. Sayang kan, kalau ke perpustakaan tapi tidak membaca buku. Di lantai satu, kondisi ruangannya relative nyaman, jauh dari kesan kuno dan membosankan. Selain itu terdapat rak-rak buku, lantai satu juga dilengkapi dengan meja komputer, meja kerja, meja diskusi dan meja baca. Di lantai satu juga terdapat banyak colokan listrik, jadi jangan khawatir.

Oh iya, berhubung terdapat fasilitas loker, jaket dan tas tidak diperbolehkan dibawa masuk ke dalam ruangan, softcase notebook pun dianjurkan untuk tidak dibawa masuk. Beberapa menit sekali, terdapat petugas yang berkeliling memantau ruangan. Meskipun aku dan beberapa teman terkadang beranggapan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, namun alangkah lebih bijaknya jika ditaati, demi kenyamanan bersama, peraturan dibuat untuk menjaga harmonisasi. Haha

Saat Ramadhan, jam operasional perpustakaan ini adalah tujuh hari dalam satu minggu, yaitu dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Cukup kooperatif, daripada menghabiskan seluruh weekend untuk diam dan tidur di kost-an. 

Sunday, June 5, 2016

My First CFD

Counting down the minuttes to Ramadhan!
I dont know why i feel so excited, hope it will be last longer til the Ied comes.

So, today i go out from my homey-sweet-room. You should know that it's my first time of using again my e-money after about five months, that's important fact about me that priceless for you to know :p
At this time, after exchanging my old card with my officemate, i hold the cute one. Look!

I take busway from Karet Kuningan to Dukuh Atas (2) and take a walk to Bunderan HI. In the middle of my way, there is a group of people that from Rachel House. That organization concerns to the kids who have HIV/AIDS on the terminate level. Terminate level means that doctors are have been gave up to take care of the patient. They ask me to write what i will do (together) with the kids if they have one more day.
I say that,"i'll share about dreams with them" I want them keep their dream alive, no matter what. Because i believe there will always a miracle.

After that, i walk around until i reach Bundaran HI, then take some photos. Oh the other important thing is, i see six Ondel-ondel. I regret that i can't get a picture of it.

Somehow i love this picture 💕

A picture of me, unfortunatelly the light when the photo is taken isn't really good.

So thankful for all of this experience. Anyway, this is my first time on Car Free Day though that i've been in Jakarta about 9 month ago. Alhamdulillah.
The journey of this happy-Sunday doesn't stop here. Later, i go to Museum Bank Indonesia. I'll share my story about it on the next post, insyaAllah.
Babay!
Happy Ramadhan, barakallahu!

Sunday, May 29, 2016

Goes to Florina 2016

Hola!
It's almost midnight but i can't sleep ):

Well, let me share some random things.
Sunday at noon, fortunately the weather is not really hot a.k.a cloudy, Mbak Tukah and I go to Pameran Flora dan Fauna at Lapangan Banteng. As like as the name, the exhibition shows off many kinds of plants and animals. There are many varians of cactus, orchids, roses, jasmines and many other kind of flowers, and also rabits, snakes, hamsters and the other kind of pets. Mbak Tukah says to me that the exhibition is held once in every three months. Anyway, today is the last day.

After having take a look and take a photo--the most important thing to do :p, i decide to bring two cactus to my kost. It will be my first experiment to have mini-cactus in my room, hope it grows well.

Guess what, i don't realize that i almost spend half of my Sunday at that place. Go around at some stands and have a sit (and talk) while waiting the rain stops. Unfortunately, it doesn't happen. Allahumma sayyiban naafi'an~

Some minuttes later, we walk in the middle of the rain, go to the Masjid Istiqlal. Finally, i am there, Alhamdulillah.
Oho, i buy a cup of "es dongdong" in the front gate of the mosque. That's not really match with the weather, but it's pretty sweet.

And now, i am gonna show you the pictures of me. Tadaaaa.

Florina, not floridin* ✌

The flowery orchids (and me) 😬

Orchids 💕

A group of cactus, two of it is mine 😉

It's 23.55 WIB, five minuttes are left to Monday, i should go to bed (and have a sleep). Babay 🤗

Sunday, May 22, 2016

Cikole 💕

Hola, selamat ber-Minggu malam!

Besok adalah Hari Senin, bersiap untuk bekerja kembali. Ingat, harus semangat, sebab masih banyak lho teman kita yang lain yang masih harus berjibaku mencari pekerjaan. Satu lagi, luruskan niat, kerja untuk ibadah, sehingga tidak akan merugi segala peluh lelah yang tercurah.

Setelah beberapa jam berkutat dengan Ms. Office yang ngambek, nggak mau dibuka, entah kenapa. Sudah coba-coba googling namun tetap gagal paham, akhirnya aku putuskan menyerah. Hmm cukup mengganggu mood ~

Baiklah, untuk memperbaiki mood, mari buka galeri dan mari berbagi foto.
Tadaaaa, ini dia gambar yang aku ambil waktu jalan-jalan di Cikole Bandung. Cikole sekitar 2 jam dari Braga jika melewati jalan alternatif (yang dipilih untuk menghindari macet).


Cikole Bandung hampir mirip dengan Hutan Pinus Mangunan Imogiri. Bedanya, di Cikole udaranya lebih dingin. Selain itu, Cikole sudah dikelola sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjual wisata alam, tetapi juga memfasilitasi outbond, dan penginapan.
Sisi unik yang membuatku terpesona adalah desain penginapannya seperti perkampungan hobit, lengkap dengan patung hobit, kayu-kayu sebagai tempat duduk di depan rumah, hamparan rumput hijau, tanaman bunga, lampu penerangan yang sayup, tangga rumah yang mungil dan mushola.
Dulu, sewaktu kecil aku memimpikan rumah yang seperti ini, tapi ditambah ayunan di depan rumah dan kolam renang di belakang rumah. Sekarang aku melihatnya sebagai gambar peradaban yang damai menenangkan.


Pohon, tanah basah, rumput, sedikit tanaman bunga dan udara yang mengandung air, untuk sementara mengobati rinduku akan bukit dan pemandangan dari ketinggian. 
Sebenarnya, mendaki adalah hal ...
Ah,
Aku rindu Yogyakarta