Showing posts with label Arsip. Show all posts
Showing posts with label Arsip. Show all posts

Tuesday, September 10, 2019

Tanpa Judul (6)

"...aku sedang mati-matian berusaha mengetuk pintu langit. Doa terbesarku belum Allah kabulkan, bahkan tahun lalu dalam pandangan manusia, doaku ini sedang Allah hancurkan. Allah membuatku patah berkeping-keping sebagai jawaban doaku waktu itu, Allah berikan bonus berupa trauma-trauma yang sangat banyak hingga membuatku jatuh dengan luka yang amat sangat parah ..." (Nadhira Arini, 2018)
Tanpa sengaja kamu membiarkan seseorang memasuki kehidupanmu, memberinya rumah tinggal dari badai hebat. Kamu mengira dia akan merawat rumahmu sehingga kamu mulai berpikir untuk membiarkannya tinggal, menyiapkannya satu kamar khusus, lengkap dengan perabotan dan bahkan satu vas bunga matahari di sudut jendela sebagai pemanis ruangan. Hari berganti, bulan menjadi tahun, badai sudah lama reda, musim berganti dari dingin menjadi semi. Kamu duduk mematung di teras depan rumah, orang itu berdiri di depanmu, menatapmu sejenak kemudian melangkah pergi, tanpa menoleh.
Seluruh (atau setidaknya sebagian) duniamu terasa runtuh. Sebelumnya, untuk beberapa saat kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi, butuh waktu untuk mencerna.
Kamu mulai berpikir apa yang salah dengan dirimu, sehingga ditinggalkan. Saat itulah kamu menemukan dirimu penuh kekurangan. Kamu tidak menarik, tidak pintar, tidak kaya, pantas saja. Kamu tidak ingat, bahkan tidak bisa melihat kelebihanmu sama sekali. Saat itulah kamu kehilangan dirimu.
Kemudian kamu mulai atau lebih khusyuk berdoa, meminta pertolongan agar dikembalikan padamu duniamu yang utuh itu. Kamu berdoa, berdoa dan terus berdoa. Kemudian kamu terkadang bertanya-tanya mengapa doamu seperti tidak didengar dan terjawab. Kadang kamu merasa lelah. Tetapi, jangan berhenti, teruslah berdoa, terus berusaha, sebentar lagi, bersabarlah, sebentar lagi.

Tuesday, June 6, 2017

Doa

Di atas sana (mungkin) Tuhan sedang tersenyum, teduh memandangi mereka yang sedang  khusyuk terduduk bermunajat.
Sebagian dari mereka melantunkan pujian syukur.
Sebagian dari mereka memohonkan kekuatan dan keteguhan.
Sebagian dari mereka berpasrah diri, tidak tahu harus apa dan bagaimana.
Dalam doa.

Tuhan kembali tersenyum, kemudian menjawab doa mereka.
"Iya, boleh" untuk sebagian mereka,
"Iya, boleh tapi yang lain" untuk sebagian yang lain,
"Iya, boleh tapi tidak sekarang" untuk yang lainnya.

Kemudian, sebagian dari mereka masih tetap berdoa--tetap bersabar atas jawaban doa yang belum sesuai dengan pengharapan atau tetap berusaha mengumpulkan doa demi doa untuk mengetuk pintu-pintu langit.
Sebagian dari mereka lupa untuk tetap berdoa--(mungkin) doa telah terjawab atau justeru menyerah mendoa.

Sementara itu, di waktu yang sama, yang juga tidak luput dari penglihatanNya, adalah mereka yang sedang lupa.
Sebagian dari mereka sedang bersuka ria, dan sebagian yang lainnya sedang gundah gelisah.

Sekali lagi Tuhan tetap tersenyum, bersabar menunggu mereka ingat pada-Nya.
Tangan-tanganNya terbuka lebar, bagi siapa saja yang ingin datang dan berpeluk.
Sangat bersabar menunggu.

Adakalanya bila rinduNya tidak tertahan lagi, Tuhan akan menyapa mereka dengan sapaanNya yang lembut.
Namun apabila rindu tidak terindahkan, Tuhan memiliki cara terbaik untuk meyampaikan rinduNya.

Tok-tok-tok
"Duhai hati tidakah kamu merinduKu?
Tidakkah kamu ingin berdekat berpeluk denganKu,
sementara Aku amat sangat merindukanmu?"
(Mungkin) di saat itulah sebagian dari mereka merasa hatinya hancur, atau minimal, tidak lagi utuh.
Bagaimana tetap bisa utuh manakala hati diketuk dengan rindu dan cemburu?

Saturday, April 1, 2017

Tanpa Judul (5)

Hidup adalah perlombaan dengan waktu, bukan dengan orang lain.
Apakah hari ini lebih baik dari kemarin?
Apakah bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya?
Apakah tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya?
Bukan mengenai siapa yang lebih baik.
Kamu, dia, atau mereka.

Kamu dengan yang lain tidak akan pernah sepadan untuk diperbandingkan.
Tidak akan pernah apple to apple.
Setiap manusia telah diciptakan dengan sebaik-baiknya (dalam versinya masing-masing), kata Tuhan.
Maka, jadilah yang paling baik dari diri sendiri.
Kamu tidak akan pernah dapat berhenti apabila terus membandingkan dengan yang lain,
dan itu akan sangat melelahkan,
sebab di atas langit masih ada langit.

Kemudian, apabila pada satu kondisi kamu dikaruniai kelebihan pada satu hal, sementara orang lain tidak,
maka bukan berati kamu lebih dari dia.
Tuhan Mahaadil, mungkin kamu hanya belum melihat kelebihannya pada hal lain--yang kamu tidak punya.
Jadi, kamu tidak berhak merasa lebih a.k.a sombong..
Lagi pula, tanpa kehendak Tuhan, kamu bukan apa-apa sama sekali.

Tuesday, January 31, 2017

Tanpa Judul (4)

Pada akhirnya, cinta dimiliki oleh keberanian; sebab selain kegembiraan, cinta adalah kesedihan; selain mengobati, cinta dapat menyakiti; dan selain dapat menghidupkan, cinta dapat mematikan.

Juga cinta adalah saling.
Landak yang saling mendekat dan merapatkan diri akan saling menghangatkan, namun juga melukai--karena duri di tubuhnya.

Setiap kehidupan sudah membawa setengah dari cintanya. Pekerjaaan selanjutnya adalah kepada siapa dia berani melengkapkan cintanya?

Tuesday, November 8, 2016

Tanpa Judul (3)

Allah, Tuhan-ku
Terima kasih ya Allah, Engkau benar mengirimkan malaikat untuk menjagaku di dunia ini.
Bersamanya dunia begitu damai, terasa bersahabat

Kemudian waktupun bergulir, dan setapak demi setapak mulai ku telusuri seiris kecil kehidupan -- aku sedang di dunia

Tetapi ya Allah, apabila nanti Engkau bertanya tentang bagaimana dunia
Yaitu bahwa Engkau benar, dunia ini memang gemerlap
Gemerlap, tapi tak bercahaya
Kamuflase
Gemerlap, tapi tak lama
Fana

Ya Allah, tak ada satu pun lepas dari pengawasanMu
Tentang saudaraku yang mencari keadilan di dunia ini, tetapi yang kulihat ternyata dunia ini tidak adil
Tentang saudaraku yang mencari kebenaran, tetapi yang kudengar adalah simpang siur
Kebohongan dan fitnah keji bertebaran
Mengaburkan apa itu adil dan benar

Aku, aku, aku harus bagaimana dengan dunia ini
Aku ingin ikut saudaraku itu, tapi aku terlalu takut
Tetapi ya Allah, aku sungguh tidak bisa mengetahui saudaraku diperlakukan seperti itu
Engkau Maha Mendengar, terlebih doa-doa orang tersakiti yang ter(di)bungkam
Ya Allah dengarkan doa saudaraku
Dan memang keadilan dan kebenaran hanya milik-Mu


"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia"
(Ali bin Abi Thalib)

Monday, August 1, 2016

Harga di Bulan Juni

Hujan di Bulan Juni
(Sapardi Djoko Darmono)
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan di bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan di bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan di bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu



Harga di Bulan Juni
Ku sampaikan padamu, Sapardi Djoko Darmono
Aku, penikmat banyak karyamu
Tak semua katamu mampu ku cerna memang, tapi aku belajar
Maka kali ini ku ceritakan padamu
Di bulan Juni tahun ini, hujan enggan menyapa
Ku kira ia lebih kuat menahan rindu pada tanah-tanah kering yang pun merindunya
Atau dia sedang mengulur rindu pepohonan yang merana meranggas,
menyisakan batang dan dahan dalam sepi,
Pun mempermainkan rindu bebijian dan umbi yang menanti untuk mencuat tumbuh merekah,
Ku ceritakan padamu diam-diam,
Agar bisa kau katakan pada hujan di bulan Juni agar datang di bulan depan,
Juli atau Agustus atau September atau Oktober
BMKG memprediksi pada keempat bulan tersebut, hujan akan lebat
La Nina,
hujan lebat berkepanjangan,
Diperkirakan muncul mengikuti El Nino yang terjadi tahun lalu
El Nino itu kemarau berkepanjangan
Jadi ku ceritakan padamu
Bukan lagi tentang hujan, tapi tentang harga di bulan Juni
Bulan Juni,
bulan Ramadhan dan jelang tahun ajaran baru,
Pengeluaran rumah tangga membengkak, belanja berkali lebih banyak
Gaji ketiga belas, meningkatkan permintaan barang dan jasa
Terjadi shortage of supply, harga meningkat
Namun, belum terlalu panjang untuk disebut inflasi
Harga di bulan Juni
Representasi roda perekonomian berputar lebih cepat, komentar seorang mahasiswa
Roda yang menggilas daya beli penduduk berpendapatan terbatas, kata seorang kolumnis
Indikator waktu,
kapan pengambil kebijakan perlu (atau tidak) memberikan stimulus, kata seorang ekonom
Namun, bagi sepersekian penduduk Republik ini tak merasakan perbedaan pada harga di bulan Juni
Hanya saja, pengeluaran mereka menjadi lebih banyak
Ini sudah akhir bulan Juli ternyata,
Maka kutanyakan padamu
Apakah kau rasakan perbedaan harga di bulan Juni?

Thursday, July 28, 2016

Dandelion

Diterbangkan dan dipisahkan angin dari kawanan dan induknya,
si kecil dandelion
Padahal belum lama ia bergelantung di gendongan induknya
Lemah tangan induknya tak cukup kuat menahan tarikan sepoi angin atau tiupan napas makhluk iseng yang menerbangkannya

Jika beruntung, ia akan mendarat pada tanah atau batu yang sama sekali baru untuknya
Tetapi mungkin saja ia harus menyusuri sungai, mengecap payau dan akhirnya terombang dan terambing di samudera
Jika tidak beruntung, si kecil mungkin akan bertransformasi menjadi plankton, pun harus menunggu ratusan tahun kemudian
Apabila ada sedikit keberuntungan, ia bisa saja tersangkut pada semak di pinggir kali
Bertahan dan berusaha tumbuh sendiri

Diantara hamparan alam yang konon keras
Tidak mudah menanamkan akar kecilnya ke tanah yang betutup semen, untuk ia berdiri
Tidak mudah juga bagi batang kecilnya, menyibak alang untuk merasakan hangat mentari
Dan tak ada pula rumah untuk berlindung dari injakan kaki makhluk-makhluk besar

Tak banyak yang tahu keberadaan si kecil
Kecil kadang membuat dia tertutup alang, terlihat sama, sebagai tanaman pengganggu
Kecil kadang membuat dia tertutup, tak terlihat diantara bebungaan lain,
yang bermahkota besar dan indah
yang berwarna cerah merekah
yang nenebar semerbak wangi
Ia, kecil, pucat dan terlihat rapuh, terabaikan
Namun siapa sangka ia telah menjelajah Eropa dan Asia yang konon mahaluas

Apakah ia bersedih? Aku kira tidak
Si kecil tengah melakukan penerimaan yang indah

Jika hidup adalah nyanyian, maka telah ia nyanyikan dengan indah syair hidupnya
Dan pada saat syair harus berakhir, maka dia relakan pergi dari dekapannya itu, anak-anaknya itu
Dandelion-dandelion kecil yang lebih kecil,
menari menemani angin
mewarnai dan melengkapi tata kehidupan seperti peran yang digariskan untuknya

Saturday, July 9, 2016

Aku Pernah

Pernahkah berada pada titik di mana merasa sangat lelah,
tidak tahu harus bagaimana,
dan hanya bisa berkesah dalam hati," ya Allah semua terserah pada-Mu, aku benar-benar tidak tahu apa rencana-Mu"?
Kemudian berusaha untuk tetap berlari,
ah bukan,
tetap berjalan,
ah bukan,
tetap merangkak,
ah bukan juga,
tetap bergerak.
Sebab yakin Allah penuh rahasia dan rencana,
dan Allah Mahatahu, dan Allah Maha Pengasih dan Penyayang, dan Allah Mahakuasa.
La haua wa la quwwata illa billah.

Aku pernah.

Thursday, June 23, 2016

Tarian Terakhir

Untuk sejenak, ditatap lekat bayangan wajahnya pada cermin
Dipulaskan gincu merah membentuk garis bibir
Kemudian, untuk sekali lagi ia pandang kembali pantulannya dalam cermin
Segambar wajah
Bersolek garis mata tajam bergaris eyeliner, berpadu bulu mata lentik berbalut maskara
Diperindah dengan alis tebal yang melengkung indah di atasnya
Disempurnakan dengan lapisan bedak dan kuasan blush on yang menutup lembut pucat wajahnya
Dia coba membentuk garis senyum, namun terlampau berat
Dihelanya nafas, namun tertahan sebelum memasuki trakhea

Sayup, suara merdu memanggil namanya, diringi  alunan musik mendayu
Dia beranjak, membawa langkah menuju tirai panggung yang perlahan terbuka
Perlahan disusunnya langkah demi langkah
Dilengkokan badan dan tanggan
Membentuk gerakan tarian
Lenggok demi lenggok, seirama dayuan gamelan
Bermandikan silau flash kamera mahal penonton borjuis
Dan dipenuhi decak dan tatapan kagum kaum burjois yang berdesak berebut mencari celah melihat singgasana sang penari

Penari legendaris yang menghipnotis
Dengan pesona anggun angkuhnya sebentuk senyum tanpa sama sekali senyum
Dengan pikat rayuan sayu mata kelelahan

Dan sekali lagi, diputarlah badannya, pertanda sudah setengah tarian diselesaikan
Beberapa menit lagi batinnya, sembari memejamkan mata ringan
Dia benar-benar menikmati setengah bagian terakhir

Tarian terakhir



Saturday, June 4, 2016

Marhaban yaa Ramadhan

Selamat datang Ramadhan, bulan penuh ampunan.
Selamat datang Ramadhan, bulan penuh kasih sayang.
Semoga diberikan kesempatan ber-Ramadhan sampai akhir, dan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya dan berikutnya. Aamiin.

Ramadhan demi Ramadhan memiliki warna berbeda, dan ini adalah kali kedua aku ber-Ramadhan tidak bersama keluarga. Ada sedikit rasa aneh,
Ramadhan kali ini, setidaknya sampai tiga minggu pertama, tanpa masak sahur bersama ibu dan adek, subuhan, pergi ke pantai di pagi buta, piket masjid, dan safari Ramadhan.
Aku tidak sedih, hanya merasa aneh dan sedikit rindu suasana Ramadhan di rumah. Namun apalah arti jarak dan ruang, jika dalam doa kita dapat senantiasa berpeluk dengan orang-orang terkasih.

Ah, benar-benar Ramadhan!
Rasanya tak sabar untuk mengeksplor suasana Ramadhan di ibu kota--tempat yang dulunya sama sekali aku hindari. Dan ternyata Allah memang Mahaasik. Apa yang ditakutkan malah dihadapkan dan apa yang dihindari malah dipertemukan.

Oh Ramadhan
Bahkan deretan rak supermarket pun terlihat indah
Pun dengan lagu yang dputar mengiringi konsumen memilah-milah belanjaan
Dan semoga Ramadhan juga menjadi berkah bagi kucing-kucing yang hidup sendiri di ibukota
Kucing yang matanya bening, penuh harap dan inosen
Semoga tidak dipukul atau ditendang ya kucing-kucing yang hidupnya keras
Jangankan rumah atau keset hangat untuk tidur, atap untuk berteduh pun tak ada
Tak ada rasa aman satu menit pun, selalu was was
Apalagi, tangan manusia yang mengelus sayang kepalamu
Semoga kamu pun dikasih takjil kesukaanmu, bukan dikasih biskuit
Ah macam mana orang yang berpikiran kucing makan biskuit

Marhaban yaa Ramadhan
Ibu, Bapak, adek selamat Ramadhan
Ibu, semoga Ramadhan bisa menjadi obat dan sehat.
Bapak, semangat ya puasanya.
Adek sayang, i count on you

Bismillahirrahmanirrahiim.
Ramadhan!

Thursday, May 19, 2016

Pesan yang (mungkin) tak akan sampai

Perlahan, aku mulai menghadirkanmu dalam angganku
Hingga akhirnya sosokmu kerap mewarnai setiap hariku
Tentu saja, dalam benak dan bayanganku

Seiring hari yang tak henti berganti,
Sosokmu telah menjelma ke dalam huruf dan kata
Tersusun dalam kalimat-kalimat penuh hipnotis
Aku hanya semampu itu
Menghadirkanmu terbatas pada bayangan dan tulisan

Kamu, sosok nyata yang imajiner

Kamu

Aku

Ah, terlalu rumit

Jangan berharap itu cinta
Sebab jikalau cinta, akan sederhana

Dan apa yang aku tulis, tentangmu
Itu bukan surat atau pun pesan
Sebab (mungkin) tak akan sampai

Ku bilang (mungkin) tak akan sampai
Sebab, jauh di kedalaman hati yang kukunci
Aku tetap berharap perihal ini akan sampai padamu



~
Argo Parahyangan
20.20

Sunday, May 15, 2016

Dear little fighter

Hi little fighter. You have a sparkling nights, don’t you? I see, you do!

I know, now you’re begin to think that you’re not a kid anymore. Yes you should. You begin to think, start to try how to be an adult. Some people said that you’re not an adult, yet, you just act like an adult. Just like you, i don’t know what the differences between both of it. But don’t take it too hard to yourself. Your life is yours. People just going to see what they want to see, so don’t too hard to explain yourself to them. Because, people who love you don’t need it and them who dislike you don’t care about it.

Anyway, happy birthday to you. Tons of hugs and kisses for you. Tough you’re getting a bigger number on your ages, you’re still a little traveler—a little girl who’s in her journey. So, don’t really takes it into your mind about getting old. You just need to keep your dreaming on and keep going for it. I believe that every step you take, making you closer to your dreams.

Little fighter,
Go,
Fight,
soon, you’re gonna brighter.

As a fighter, you need free from feeling afraid about what you’ll face in the future. However the most important thing is credits all of your activities to get” berkah” from Allah.

So, go,
Catch your sparkling star,
I do wait to see the shining of your eyes then.

Once again, happy belated birthday my little dreamy princess. You wil find your real own crown!

Tuesday, April 19, 2016

Wondering

At one fine day, a little traveller is wondering of being a princess, that's a princess of nature. She's standing in the middle of various flower, using a simple beautiful flower crown, inhaling the fresh air.
Holy.
Flowery.
Lovely.
Peaceful.
Bringing warm feeling and cheeriness to every soul.

As a princess, she has a smooth healer hand which could cure for every pain.

Cheetos is her best friend, that's a little smart cheetah.  She loves reading, dancing and sewing while Cheetos is loving to play with butterflies. Cheetos does love her so much.

This is a secret,
she is in deep love with sunflower 🌻

Sunday, April 17, 2016

Tanpa Judul (2)

Terima kasih ya Allah
Telah Engkau karuniakan kekuatan
Telah Engkau dengar segala kesah
Telah Engkau karuniakan bahagia, pemanis perjalanan

Terima kasih ya Allah, ternyata, jauh sudah langkah tertempuh
Hingga kaki berpijak di atas tanah yang sama sekali asing sebelumnya
Dan terlihat di mata, warna-warni bentang ciptaan-Mu yang sama sekali baru
Serta nada-nada baru berganti menabuh gendang telingga
Sesungguhnya, janji-Mu adalah pasti ya Allah

Terima kasih ya Allah,
Atas lapang tanah-Mu yang selalu terbuka untuk sujud jiwa yang merindu-Mu
Dan atas selalu terbukanya pintu maaf-Mu

Sesungguhnya tiada yang lebih membahagiakan daripada menemukan-Mu pada setiap langkah perjalanan

25032016

Sunday, February 21, 2016

Tanpa Judul (1)


Di saat ada rasa lain mengusik
Yang akan terjadi tetap menjadi rahasia
Mungkin ruang dan waktu nantinya akan mempertegas batas
Dan takdir akan menyampaikan kehakimannya
Namun ketika tangan mengadahkan harap,
Hati medetakkan rindu,
Dan mata menyinarkan kecemasan
Karunia dating dengan anggunnya
Mengantarkan pada pertemuan itu
Lewat sujud pada tanah yang sama


19032011

Saturday, February 20, 2016

Lelah

L e l a h

Lelah

Akan lelah

Pasti lelah

Perjuangan pasti akan melelahkan

Tapi bukankah kemenangan hanya milik yang berjuang?

Lelah

L i l l a h

Lillah



02022016/12.20

Friday, January 8, 2016

Sawijining Dina Aneng Cerita


Jago kluruk

Simbok nggendong wakul aneng pasar

Bungkuk-bungkuk

Pak Girin mangkat ngluru upa neng negara

Deyek-deyek

Jam pitu..

Koran koran, koran koran

Ngelih pating krucuk, tatrap ing bangjo

Iku bocah katula-tula melas asih

Jam pitu..

Hape

Tit tulit tit tulit,”aku titip absen yo bro”

Mahasiswa!

Jam wolu..

Kopi lan koran, lungguh jegang

“Pak, mangkih siang wonten pepanggihan sekalian dhahar”

Jam rolas..

Mbok bakul mbayar listrik aneng KUD—pajak penerangan jalan

Pak Girin nggembrobyos tap-tapan nyleng-nylengan

Jam siji.. panas kemetap

Pak pejabat saweg dhahar sesarengan

“Inggih pak, kula sapandherek njenengan”

Koalisi!

Kilometer nol-Malioboro

Totalitas perjuangan; Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota -- AKSI

Korlap mahasiswa,“Pejabat bukan petani dan legislatif bukan ladang korupsi!”

Pak Girin ndomblong

Kandhane pak dalang,

“Prabu Pandhu Dewanata lan nagara Hastina amung aneng pawayangan”

(19/10/2012)

Sunday, January 3, 2016

IDAMAN


Dulu, kita pernah bersama-sama.
Membagi dan memperjuangkan mimpi-mimpi.
Hingga pada satu waktu, satu demi satu, kamu-dia-mereka-dan-aku tak lagi bisa bersama.
Tapi mimpi-mimpi itu masih tergantung, berkilau mempesona.
Namun, pada satu titik nadir, kelelahan yang sangat mendera, begitu bertubi.
Kita teramat lelah.

Tapi, kita sudah berjalan sejauh ini.
Langkah ini akan kita teruskan bukan?
Meski harus terseok.

Bila bisa ingin ku bagi, sewadah perasaan tentang ikatan ini, tentang keluarga ini.
Bila boleh ingin ku pinta, teruskan estafet langkah ikatan dan keluarga ini.
Dan perbolehkan aku berharap, ikatan dan keluarga ini akan tetap hangat, menjadi tempat berpulang jiwa-jiwa yang merindu.

Aku ingin, tapi tak bisa selalu bersama ikatan dan keluarga ini.
Namun izinkan aku titipkan sebagian jiwa yang tertiggal di ikatan dan keluarga ini.

Aku sayang kalian,
keluargaku.
03/01/2016


-Dalam perjalanan Kebumen-Bantul

Friday, December 18, 2015

About love, hope and tears

We were so many
We were  heterogeneous
However, at that time, some of us begun to dream about growing up
That dreams were so sparkling and pretty challenging 
But now
We should end up of this wild dreams
And let it pass away
And dreams are not more than utopia
18/12/15

About some hours ago, my older brother (not literally the older brother) made a call with me. First, he asked me about when would I go home for my Christmas long holiday this year? Then, we begun  To have a long discussion about IDAM*N. IDAM*N was the nick name of Ikat*n Mud-mudi M*nukan. That’s kind of young organization in the village where I was born and grew up, so I could be what I’m being in this time.

Ya, with him, my older brother I was so often talked and dreamed  about many things. One of the dreams we shared is about IDAM*N—that’s making IDAM*N being a home. Home means, a place that people can found, met and had their family. It was where people got loves and had hopes. That was place where people grew up and found out the path of life.

In short, i heard that IDAM*N should took a rest for a while. We faced some hard big things--that i could not told it here. We begun less confidence and felt that our shoulder could not bear the burden that getting heavier anymore.
I just
Just
I was not okay
I was so sad so bad, that was some of us and I have to burry our unfulfilled dreams. Dreams that just got blossom at its best about some years ago.
For me, IDAM*N is just like my second home. 
That’s too fast to give up now. Still, I want to live the dreams about IDAM*N. 
I just feel not good to hear that we have to break for a while just because our feet can’t be stronger anymore to keep stepping in the storm. 
This picture was taken at Friday, August 21th 2015. This picture was my last picture with them before I off to Jakarta. I do remember, the weather at that night was very cold, but we cooked and ate together outside the house. We (merely I) called it as farewell for me who will go out from my hometown and my older brother who will get married. I wish this wasn’t the last picture of us and there will be so many pictures of us ever after.







Friday, December 11, 2015

Holla!

Holla, it’s been a long time. It takes a long time, then now i can write and give kind of greeting again. Hurrah! Hmmm, it’s about one year my very last post here—at that time I was still an innocent student at university *theehee*

Time flies superfast, the wind changes and people grow, so how’s life? Everything goes well, doesn’t it? Yes it does, when you says so.

Do you know what? It’s my very first post on 2015!

So, after having a hard bloody time with my thesis, finally I officially got my bachelor of economics. Alhamdulillah, just because of Allah disposed it and my parent and my sister that never stop praying it for me, finally I can say,” finally I graduated!” I was feeling so happy and blessed, but then I saw myself wasn’t a student anymore and didn’t know what the best thing I have to do ( I meant that although I helped my sister and brother for running her and his business on IT, I still didn’t find my passion yet). At that same time (even til this time) i didn’t know what I will do, either working or back to university again. Then some months later I decided to be a research assistance of my econometrician lecturer, and then being a lecturer assistance of my supervisor thesis.

As time goes, one by one my friends found out the place where they belonging to (a.k.a job, school) while I wasted much of time for thinking, considering and confusing the best thing I will do. Fyuh. One day, my mom told me, ”do what  you have to do as soon as possible, whether you going work or going to university. That would be better not to have marriage at the late period of your age.” Oh, noooooooo. “So, this is the time,” I said to myself and I decided a thing.

In short, I currently stay in a capital city, surrounded by great friends, very dynamic people (society), high and huge building and super busy streets. I am working (oh I think learning is the more precise term to describe what I’m doing now) in a government institute. The place that makes me in loved in the very early time, that is in my first day--when I know  that some people there is having Dhuha time. I sit in the unique room where the people are genius, ambitious, warm hearted, funny and sometimes are naughty.  (-_-“). I wouldn’t say to them that I feel so blessed for having chance to meet and to be with them. 

Btw, here is one of their work, inspired by me—just because I’m single. Pfff. However, I’ll take it as a compliment or kind of attention. People have their own way to show their love, aren’t they? :p