Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Monday, October 30, 2017

JILBAB TRAVELER: Love Sparks in Korea


Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Merupakan novel pertama dari Asma Nadia yang aku baca—yang sebenarnya terbitan tahun 2015. Ketingggalan sekali, bukan? Hiks. Nama Asma Nadia sudah lama cukup akrab, tapi baru kali ini tergerak membaca novelnya. Sebelumnya aku pernah menonton film dari buku Assalamu’alaikum Beijing dan Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2. Awalnya aku enggan karena mengira bakal menye-menye, tapi ternyata BAGUS BANGET! Novel ini ditulis dengan alur mundur maju, yang sangat mengalir dan penuh kejutan. Banyak pelajaran dan pengingat di dalamnya. Terima kasih Bunda Asma, telah menulis dan menginspirasi.

Rania, adalah anak ketiga dan terakhir dari sebuah keluarga sederhana di pinggir rel kereta api Gunung Sahari. Rania adalah anak yang paling dekat dengan ayahnya—mungkin karena semasa kecilnya yang sering sakit-sakitan. Rania kecil suka berlari mengejar kereta api yang kebetulan melaju cepat sembari membayangkan dirinya dalam gerbong-gerbong yang membawanya terbang ke negeri dongeng—setidaknya begitu selalu kata papanya dengan yakin.

“Ketika kecil, kami tinggal di samping rel kereta api. Setiap kereta lewat, Papa selalu bilang suatu saat kereta-kereta itu akan menerbangkan saya ke negeri seribu kisah” (halaman 173)

Dan terbukti, tidak ada yang mustahil apabila Allah berkehendak. Rania yang harus berhenti dari kuliah karena masalah kesehatan telah menjadi penulis best seller dan berkesempatan menjelajah ke berbagai negara. Tentu saja ada masa-masa yang tidak mudah untuk Rania lewati. Ia penulis dan dia pernah melewati lebih kurang satu tahun tanpa menyentuh keyboard komputer sekalipun.

“Sepasang matanya akan dengan cepat mengembun setiap mengingat hal ini. Tetapi jika terus memikirkan penyakit, dia akan kehilangan kemampuan mensyukuri begitu banyak hal manis. Deret kebaikan Allah yang terus menyapanya detik demi detik. Di layar laptop, Rania menulis kalimat berikut dengan huruf capital: JANGAN ARAHKAN SUDUT PANDANGMU PADA SESUATU YANG BELUM TENTU BISA KAU LIHAT. ITU HANYA AKAN MELEMPARKANMU PADA KETERASINGAN DI MANA RASA SYUKUR HANYA SEBATAS DI UJUNG LIDAH.” (halaman 186)

Nepal, negara seribu Dewa menjadi titik awal pertemuannya dengan Hyun Geun—seorang traveler asal Korea setelah insiden pencopetan tas Rania. Nepal mengingatkan Rania akan dua hal, yaitu kejadian saat ia memecahkan magnet kulkas pamannya dan saat papanya meninggal.

“Bagi traveler, kehilangan sesuatu di perjalanan, pasti pahit, bahkan bisa merusak semua rencana yang telah disusun. Tapi keikhlasan akan membuat satu dua kehilangan atau peristiwa tak diinginkan—yang sangat mungkin terjadi—tak menguapkan semua keceriaan selama perjalanan.” (halaman 253-254)

Ternyata, pertemuan tersebut menjadi awal sederet pertemuannya dengan Hyun Geun, ketika akhirnya Rania memutuskan mengikuti program Writers in Residence selama enam bulan di Korea. Dengan kamera saku yang sama saat di Nepal, Rania mengeksplor Seoul—kota terbesar dan teramai di Korea. Rania yang sedikit belajar lebih banyak tentang fotografi sejak bertemu dengan Hyun Geun, mulai membenarkan saran yang dia terima untuk berganti ke DSLR. 

"But the camera is just a tool, Rania. It’s the eye of a person behind it that matters." (halaman 159).

Hinga kemudian, Ihsan–tetangga sekaligus sahabat Rania selama 8 tahun di Indonesia menyusul terbang ke Korea. Menyambung perjalanan dari bandara Incheon, Seoul dengan kereta cepat KTX ke Busan. Ini adalah pertama kalinya Ihsan naik pesawat—pesawat menjadi trauma tersendiri bagi Ihsan sejak mamanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mengapa?

“Allah menciptakan manusia, sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Alhamdulillah” (halaman 261)

Tuesday, October 17, 2017

MEMBERI JARAK PADA CINTA dan Kehilangan-kehilangan yang Baik


Penulis: Falafu a.k.a Farah Fatimah
Penerbit: Media Kita

Angin melewati batang-batang ringkih dandelion yang baru saja mekar sempurna. Mahkota bunga yang tipis satu demi satu hilang berterbangan mengikuti angin. Waktu berjalan dan tumbuhlah dandelion-dandelion baru dari benih yang dibawa angin itu. Lebih sering sebuah awal bermula ketika sesuatu berakhir. Kehilangan adalah salah satu episode dalam kehidupan yang tidak bisa ditolak. Namun, siapa yang tahu bahwa nantinya kehilangan membuka ruang pada hal lain yang lebih baik untuk datang dan tinggal.
Buku ini berisikan sekumpulan cerita, secara keseluruhan mengisahkan tentang awal sebuah kehilangan, saat kehilangan, setelah kehilangan, pengambilan jeda, kemudian proses penemuan dan pendewasaan. Isinya cukup menghanyutkan, rawan membuat baper. Waspadalah-waspadalah. Buku ini, dapat dibaca sebagai hiburan atau bahkan pembelajaran.
“Aku ingin mengatakannya juga kepadamu. Kepada siapa pun yang sedang ragu dan perlu kekuatan untuk terus berjalan—tetapi alasan baik mulai sulit untuk kamu temukan. Kepada kamu yang terus percaya, pada sesuatu yang mungkin tidak pernah dijanjikan siapa-siapa. Bukankah harapan, juga adalah janji yang biasanya coba kita beri pada diri kita sendiri? Maka peganglah janji itu kuat-kuat. (Halaman 22)
 “Tidak bisakah  mulai sekarang kita menerima kehilangan dengan cara yang lebih baik. Agar siapa pun yang pergi, bisa pergi dengan tenang. Dan siapa pun yang masih harus tertinggal, bisa terus melanjutkan hidupnya—tanpa takut menghadapi kehilangan berikutnya. (Halaman 49)
TIDAK, sekalipun telah berkali-kali, namun untuk kehilangan kembali tidak lantas menjadi mudah untuk disikapi. Kemudian harapan bersandar pada waktu—katanya time will heal (but not) everything.
“Saat kepergian baru saja terjadi, akan begitu sulit untuk melihat apa yang sesungguhnya hal yang sudah Tuhan persiapkan untukku. Karena mataku masih dipenuhi oleh genangan akan rasa kehilangan, Karena lenganku belum menemukan genggaman lain yang membuat langkah ini menjadi seimbang kembali. (Halaman 52)

Saturday, October 7, 2017

GERIMIS JATUH

Penulis: Mushonah Mujahidah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Selagi hati masih menjadi komponen yang ada dalam diri manusia, cerita tentangnya akan terus mengalir. Sekuat apa pun usaha seseorang untuk menepisnya, perasaan akan tetap ada. (Tetes Kedua, hamanan 3)

Buku ini merupakan kumpulan cerita dan prosa yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari penulis. Percakapan seorang Ibu dan anak laki-lakinya, percakapan seorang ayah dengan anak perempuannya, percakapan seorang adik perempuan dengan laki-lakinya, percakapan seorang laki-laki dengan dirinya sendiri, juga percakapan seorang perempuan dengan dirinya sendiri. Ada hikmah yang berusaha diselipkan pada setiap bagiannya.

Pandanglah masa lalu sesekali, seperti spion, agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama, tetapi tetap fokus ke depan. Belajar melepaskan, melepaskan tuntutan, emosi, target, keinginan yang menyita fokus pikiran dan hati. Melepaskan tidak akan mudah, karena berarti harus siap merelakan dan mengikhlaskan. Namun setelah itu, hati akan lapang. Belajar mendengarkan, sebab bukan kebetulan Tuhan menciptakan sepasang telingga dan mulut satu. Belajar berbahagia, dengan belajar mensyukuri hal-hal paling remeh sekalipun.

Jika kehidupan adalah seperti pelayaran menuju dermaga, tentu ada berbagai ukuran perahu dengan berbagai macam bahan. Ada yang terlihat ringkih seperti tak mampu bertahan dari apa pun. Namun belum tentu perahu yang besar dari bahan terbaik dapat bertahan. Ada Allah yang memampukan, menguatkan atau melemahkan.

Apa yang membuatku(mu) terus berdoa dan tak berhenti berharap? Karena hari esok akan datang, dengan segala kemungkinan terbaik, dengan segala jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

Tentang perempuan dan laki-laki. Keduanya adalah ujian satu dengan yang lain, sebelum akad. Perempuan adalah makhluk serius, hatinya seperti gelas kaca. Teruntuk laki-laki, jangan terlalu ramah. Laki-laki hatinya seperti bola basket, semakin tinggi jatuh akan semakin tinggi memantul. Namun, teruntuk perempuan, jangan terlalu baik. 

Kalian, jangan pernah bermain dengan asumsi dan janji, hingga kalian saling me(di)temukan.

Perasaan kita berdua laksana air dan api. Kita tidak bisa saling mendekat. Karena jika mendekat, kita akan saling menghabisi satu sama lain. Pada akhirnya melukai satu sama lain. Lalu, Tuhan memperkenalkan sebuah alat yang dapat mempersatukan perasaan kita. Namanya teko. Kita bisa saling bersinergi untuk menciptakan air hangat maupun panas. Namun selagi belum dipersatukan oleh teko itu, kita tetaplah asing satu sama lain (Jarak antara kita, halaman 51)

Sunday, August 13, 2017

AWE- INSPIRING ME

Penulis: Dewi Nur Aisyah
Penerbit: Imprint Penerbit Serambi

Sungguh Allah memberikan kebahagiaan melalui banyak jalan. Melalui banyak kisah (halaman 149).

Mendengarkan dan membaca kisah hidup orang lain, ternyata membuat mata hati terbuka lebih lebar dalam melihat, memahami, menjalani dan memaknai kehidupan. Semakin banyak cerita yang disimak, semakin menjelaskan bahwa hidup tidak lain kecuali untuk disyukuri, terlebih dengan nikmat iman dan Islam.

Dua kata dan dua frasa untuk buku ini, luar biasa dan sangat bermanfaat!

Aku yakin tulisan dalam buku ini, muncul dari sosok yang cerdas, tegas, kuat tetapi lembut penuh kasih sayang. Buku ini bisa menjadi teman, yang membagi hal-hal penting dalam kehidupan, dan mengingatkan ketika lupa karena disibukan oleh banyak hal. Secara garis besar, menceritakan tentang personal branding seorang muslimah, yang salah satunya adalah untuk berprestasi (menginspirasi) dalam konteks luas. Seorang muslimah harus mempunyai cita-cita setinggi mungkin, menyusun rencana, dan menentukan waktu kapan berbagai rencana tersebut harus segera tereksekusi sebagai bagian dari ikhtiar. Juga dijelaskan, bagaimana ketika ikhtiar belum bertemu dengan takdir, yang orang pada umumnya menyebutnya dengan kegagalan.

Adalah masa ketika kita terjatuh perih, tergores luka, menyisakan perih dalam dada. Sat kita begitu kecang berlari dan terpaksa harus berhenti karena tersandung kerikil-kerikil ujian dan duri.” (halaman 122)

Adalah masa ketika kita merasakan begitu beratnya menanggung letih perjuangan, terseok berjalan dalam panjang tapak kehidupan. Tertatih melangkah dan terus bertahan. Seakan hati kecil menanyakan, “kapankah ini semua harus berakhir dan terbayarkan?” (halaman 122)

Adalah masa ketika doa dan permintaan kita tidak dikabulkan. Guratan kekecewaan seketika datang menelisip ke dalam kalbu yang perih menahan tangis. Terasa begitu pedih dan enggan untuk menengok kembali. Seakan cahaya dunia telah redup berdasarkan terkuburnya cita dan asa.” (halaman 122)

Bahasan pada bagian itu, nyes banget, mengena di hati. Siapa sih yang tidak sedih dengan kegagalan, ketika yang diharapkan belum sesuai dengan keinginan. Bukan hal yang mudah agar dapat sabar, tetap yakin kepada Allah, dan optimis. Kak Dewina, izin kutip ya.

Sungguh hanya Dia yang mampu memahami perihnya luka, pedihnya rasa, dan munajat khusyuk doa-doa. Allahu Qawwiy, kuatkan ya Rabb..kuatkan hati ini tatkala penantian akan pertolongan-Mu menyisipkan ragu dalam diri.” (halaman 123-124)

Kegagalan ternyata adalah cara Allah memberi tahu bahwa manusia sejatinya lemah dan kecil, tanpa Allah yang memberi kekuatan dan pertolongan. Kegagalan jelas menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan manusia, tapi manusia-lah yang membutuhkan Allah.

Dalam buku tersebut dituliskan kisah salah seorang teman penulis, sebagai berikut. “Selama ini, saya menganggap bahwa jika kamu mau hasil terbaik maka berikhtiarlah yang terbaik. Hal itu menjadikan saya bertanya-tanya jika saya telah merasa melakukan yang terbaik dan tidak mendapatkan yang terbaik maka saya menggugat keadilan-Nya dan arogan bertanya alasannya. Padahal, bukankah itu hak prerogative Allah SWT yang menentukan apa pun yang Dia mau.” (halaman 146)

Tersebutlah seorang hamba yang terkejut melihat gunungan amalnya, merasa tak memiliki amal shalilh sebanyak itu selama hidupnya, bertanyalah si hamba,” Ya Allah, amal sholeh yang mana yang menciptakan gunungan pahala setinggi itu?” Terjawablah tanyanya,” Sesungguhnya itu adalah pahala hasil doamu yang tidak Aku kabulkan.” Si Hamba masih ternganga dan berkata,” jika begitu, aku sungguh berharap tak ada doaku yang Kau kabulkan.” (halaman 147)

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan juga cara mengelola hati. Satu lagi, dalam buku ini terdapat panduan dan simulasi untuk menyusun rencana (target-target) hidup, dari tahunan sampai harian.

Terakhir, mengutip dengan perubahan: kehadiran muslimah menjadi penyejuk bagi dunia, saat iman menjadi muara jiwa, takwa menjadi pakaian dan salihah menjadi penghias akhlak.

Sekarang aku menjadi berkesimpulan bahwa, cita-cita terbaik seorang wanita adalah menjadi shalihah.

Wednesday, August 2, 2017

GARIS WAKTU


Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita

Sebuah garis minimal terdiri dari dua titik, titik awal dan titik akhir. Berawal bulan April tahun pertama dan (dianggap) berhenti pada tahun kelima bulan yang sama. Setidaknya butuh waktu kurang lebih lima tahun bagi Bung (sapaan Fiersa Besari) untuk dapat menarik benang merah perjalanan hidupnya selama tahun-tahun itu, yaitu mengikhlaskan. Aku mengasumsikan tokoh pertama dalam buku itu adalah Bung, sebab ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama.

Hampir enam puluh purnama. Ada harapan, penantian, pengorbanan, perjuangan, perjalanan, kekecewaan, luka, kesedihan yang diiringi dengan ketegaran dan canda tawa dan diakhiri dengan keikhlasan. Terbaca, bahwa dibalik ketegarannya, di belakang kebijaksanaannya mencari dan mengambil hikmah pada setiap pelajaran kehidupan, Bung membiarkan sisi manusiawi dalam dirinya tetap hidup. Bung tetaplah manusia biasa yang bisa jatuh, membiarkan diri jatuh, menikmati sakitnya jatuh, kemudian berusaha berdiri dan berjalan, dan semoga bisa berlari—menyamakan langkah dengan waktu yang tidak mau menunggu saat ia berhenti.

Sebelum bulan April tahun pertama, kehidupan Bung berjalan teratur sebagaimana mestinya, pada titik demi titik keseimbangan, garis pareto optimum. Hingga kemudian dia bersinggungan dengan garis lain.

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tidak terduga. Ia laksana mentari di tengah temaram; hijau diantara gersang. Cinta tidak pernah datang dengan tiba-tiba; ia akan mengendap-endap menyusup ke urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggakanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya (halaman 16).

Hati Bung tanpa izin sudah memilih. Kalau sudah begitu, yang perlu dilakukan adalah mengucapkan selamat datang dan menikmati roller coaster drama kehidupan. Dengan cinta, hidup menjadi drama, lebih hidup. Cinta adalah kekuatan yang cukup besar, mengubah benci menjadi suka, mengubah pelit menjadi dermawan, mengubah sedikit menjadi banyak, mengubah jauh menjadi dekat, atau sebaliknya. Namun cinta hanya bisa mengubah rasional menjadi irrasional, bukan sebaliknya. Meskipun demikian, cinta tidak pernah salah, dan bagaimana kita membawa diri saat jatuh pada cinta pun tidak salah--walaupun selamanya tidak selalu benar. Cinta adalah anugerah, walau entah bagaimana ia berakhir.

Berbulan, Bung menunggu si dia dengan sabar, dia yang datang ketika terluka, dirundung sepi atau dalam masalah. Bung dengan sabar pula mengobati, menemani dan membantu, atas nama kepedulian pada awalnya. Kemudian dia pergi kembali bersama orang lain, dan Bung hanya diam dan berdoa dengan perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Sekarang katakan, perasaan macam apa itu?

Rasa adalah anomali yang tidak bisa diprediksi. Rasa bisa datang dan pergi kapan pun dia mau. Rasa bukanlah sesuatu yang porsinya harus sama. Kadang, rasa yang kau beri tidak berbanding lurus dengan rasa yang kau terima. Maka, ketika rasa untukmu pergi, berhenti bertanya kenapa itu terjadi. Ubah apa yang masih bisa diubah, lepaskan apa yang sudah tidak bisa diubah. Bumi tidak pernah berhenti berputar ketika kau memilih untuk berhenti melangkah (halaman 177).

Berbulan setelahnya, dia datang kembali, tentu saja dengan luka, sepi dan masalah. Dan, Bung masih saja tidak beranjak jadi ruang tunggunya. Oh, Bung! Kemudian, seolah doa Bung terjawab, mereka, Bung dan si dia, mencoba berjalan dengan tujuan yang sama. Mereka mulai berbagi, walaupun entah siapa yang memberi lebih banyak dan siapa yang menerima lebih sedikit. Dia mungkin tidak tahu, bahwa Bung mencintainya dengan cara sederhana yang tidak biasa. Tidak percaya? Baca saja bukunya.

Ternyata ini bukan akhirnya, tetapi cukup untuk menjadi akhir. Bukan tidak cukup, tetapi cinta Bung mungkin belum menemukan tempat yang seharusnya. Karena, siapa sangka, si dia untuk kali berikutnya menghilang. Dan sudah bisa diduga, untuk kesekian kalinya dan yang terakhir, si dia memutuskan untuk berhenti, dan menikah. Dengan siapa?

Akhirnya, pada bulan keempat tahun kelima, Bung benar-benar benar. Bung pun ke gunung, menemui semesta, dari puncaknya jalan terjal yang telah dilalui sudah sama sekali tidak terlihat menyakitkan, meskipun bekas-bekas lukanya tetap ada.

Suratku ini telah tiba pada ujungnya. Ada lara, tawa, kecewa serta cinta yang kutumpahkan di dalamnya. Rangkaian emosi datang silih berganti, hingga akhirnya tersemat sebuah keikhlasan (halaman 205).

Sunday, June 11, 2017

Fantasy


Aku berdiri di tengah arus manusia yang menyemut dengan langkah bergegas keluar dari gerbong kereta Shinjuku Line.

Fantasy, ditulis oleh Novellina, mengisahkan tentang cinta dan persahabatan. Novel setebal 310 halaman tersebut, menggunakan alur mundur-maju dengan sudut pandang orang pertama dari dua tokoh utamanya, yaitu Davina dan Armitha. Keduanya bersahabat erat sejak duduk di bangku SMA. Mitha sangat cantik, berambut panjang sepunggung, bergigi kelinci, dan bermata lebar dengan bulu mata yang super tebal. Berbeda dengan Vina yang cenderung cuek dengan penampilannya, meskipun pada dasarnya ia cantik dengan darah Belandanya itu. Vina terlalu malas bahkan untuk sekedar menyisir rambut, namun dalam urusan akademis Vina dapat diandalkan.

Cerita berawal ketika Awang menemui Vina yang sedang asyik membaca supernova di perpustakaan, ia meminta dikenalkan dengan Mitha. Awang menyukai Mitha, tetapi entah mengapa Awang lebih nyaman dan terbuka dengan Vina. Mitha sempat curiga kalau Vina menyukai Awang, tetapi Vina bukanlah sahabat yang egois.

“Aku berharap Awang berhasil membuat Mitha menyukainya. Aku menyukai mereka berdua. Awang sangat menyayangi Mitha dan aku ingin seseorang yang terbaik untuk sahabatku.” (halaman 35)

Namun hati bukan tidak berubah, seberapa kuat pun dikontrol ia akan bergerak mengikuti alur jalannya. Kemudian, hati-hati yang ditakdirkan untuk saling melengkapi, akan saling mencari dan menemukan. Begitupula dengan Awang, tidak ada yang menghendaki ketika pada akhirnya perasaan Awang berubah haluan di saat Mitha benar-benar jatuh hati padanya, pun dengan Vina.

“Aku juga tidak tahu bahwa Awang selama ini adalah udara bagiku, alasan mengapa aku melakukan banyak hal akhir-akhir ini. Aku juga tidak tahu bahwa Awang adalah seluruh panca inderaku, ia menuntunku menjadi manusia yang lebih baik, bukan hanya Mitha, seorang anak SMA biasa.” (halaman 124)

Cinta memang ajaib, diakui ataupun tidak, Mitha yang sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan musik klasik menjadi sangat bersemangat mendalami piano, karena Awang. Mereka berdua mendaftar sekolah musik milik pianis yang sudah berkiprah di kelas internasional, Fantaisie Music School. Awang dan Mitha beberapa kali menjadi patner saat melakukan showcase, hingga pada akhirnya Awang memutuskan untuk mengambil beasiswa sekolah musik ternama di dunia, yaitu di Tokyo University of Arts. Tentu saja, Awang meminta persetujuan Vina lebih dahulu, dan dengan berat hati Vina mengiyakan keinginannya tersebut. Mitha tidak habis pikir dengan keputusan Vina.

"Kamu tahu mengapa persahabatan kita sangan berbeda dengan persahabatan orang lain? Karena Tuhan sudah menggariskan jalan hidup kita. Bahwa kita akan menyukai laki-laki yang sama. Laki-laki yang memasuki kehidupan kita secara bersamaan, dan Tuhan memberi kita hati yang besar, dan sedikit hormon sehingga kita tidak akan pernah bertengkar memperebutkannya.” (halaman 125)

“Aku berbeda dengan Vina, Hati yang besar hanyalah sebuah penyiksaan diri. “Kenapa kamu membiarkannya pergi jika kamu sangat mencintainya?” Because I love him so much and it hurts.” (halaman 125)

“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita kan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does” (halaman 127)

...

Tujuh tahun kemudian, yaitu pada tahun 2012. Semuanya berubah. Mitha menjadi sangat membenci Vina. Baginya Vina adalah peruntungan buruk, Vina telah menghancurkan semua mimpi-mimpinya. Kecelakan itu, terjadi empat tahun yang lalu telah membuat Mitha lumpuh, terlihat menyedihkan—setidaknya anggapannya bagi dirinya sendiri. Mitha enggan bertemu dengan orang lain, terutama Vina yang seolah menghasihani ketunaannya. Selama itu pula Mitha mengurung diri di dalam kamar.

Sementara itu, Vina yang saat itu bekerja pada sebuah lembaga pers sudah kehabisan cara bagaimana menghidupkan kembali semangat hidup sahabatnya, yang menolak mentah-mentah menemuinya. Untuk itulah, dia terbang ke Tokyo, menemui Awang, untuk Mitha.

“Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Kupikir aku tidak akan berhenti berharap, dan akan baik-baik saja selama itu. Kupikir aku tidak akan pernah putus asa. Namun ketika menatap diriku sendiri, aku tidak bisa mengenali diriku lagi” (halaman 133)

Pada puncaknya, dengan bantuan Awang dan rekannya, Mitha kembali bermain piano bahkan mengikuti kompetisi internasional, menjadi salah satu kompetitor Awang, sesuai janji mereka berdua saat masih SMA. Keduanya berhasil memasuki babak final. Saat itu pulalah, kebencian Mitha kepada Vina mencapai puncaknya.

“Ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidakkah kamu sadar semua orang telah berubah? Mitha yang kamu kenal sekarang bukan Mitha yang kamu kenal dulu.” (halaman 215)

“Aku menjahuimu karena aku muak dengan kenaifanmu, dengan kamu yang selalu berusaha membantuku keluar dari kesulitan hidupku, dan merasa mengetahui apa yang paling baik untukku dan bertidak seperti malaikat tanpa kuminta! Dari awal kamu hadir dalam hidupku untuk merusak kebahagiaanku. Kamu merebut Awang dari dariku, membiarkannya pergi dari sisiku delapan tahun lalu, dan membuatku lumpuh. Tidakkah semua ini cukup menyadarkanmu untuk pergi dari kehidupanku?” (halaman 216)

Pada saat yang bersamaan, dalam kondisi di mana cinta Mitha pada Awang yang sangat tidak terkendali dan Vina yang meragu antara berkorban untuk sahabatnya atau memperjuangkan cintanya, tanpa disadari Awang memberikan cintanya pada dua orang yang pernah bersahabat tersebut, meskipun dengan proporsi yang berbeda. Mereka harus memilih.

“Aku tertegun. Walaupun aku tahu jauh di lubuk hatinya, Awang sangat menyayangi Mitha, ketika mengetahui jika mungkin saja Awang mencintai Mitha, aku tidak siap menerimanya.” (halaman 277)

“Karena aku tidak ingin kehilangan Awang lagi, Mit,”potongku dingin” (halaman 278)

“Pilih, Awang. Kamu nggak bisa memiliki kami berdua sekaligus, “kataku akhirnya dan Mitha sekali lagi menyambutku dengan tawa menghina.” (halaman 281)

Bukan, ternyata bukan mereka yang memilih, tetapi takdir…

Thursday, August 25, 2011

The Great Queen of Seondeok


The Great Queen of Seondeok, salah satu film korea yang keren dan menginspirasi. Ini bukan film korea yang mengisahkan drama percintaan remaja, tetapi tentang sebuah kerajaan Shilla namanya*kalau tak salah tulis. Yang membuatku amazed adalah tokoh yang bernama Deokman*setidaknya begitulah membacanya. Dia sangat pantas mendapat julukan wonder women kalo di zaman sekarang..hhe. Sebenarnya cerita secara mendetail aku tak begitu hapal, maklum aku hanya menonton seusai pulang sekolah semasa kelas 3 sma waktu itu di *nd*sia*. Itupun kalo tidak ada les. Kadang nyesel sih waktu itu sempet ketinggalan berapa episode*berbeda dengan C*nt* *it*I sekalipun ketinggalan banyak episode gapapa. Cuman ya mau gimana lagi nyadar waktu itu ujian di depan mata. Pengen sih cari filmnya terus tonton dari awal ampe akhir tanpa diselingi iklan. Heumm, kebayang puasnya..Cuma ya kok belon klakon-klakon ampe itu film udah diputer lagi sekarang. Dan itu juga yang menyetir tangan memencet-pencet papan keyboard sembari memutar memori mengulang eksotisme menonton drama itu setahun yang lalu*halah. Sekali juga terasa rindu pada temen-temen sekelas yang dulu juga heboh di pagi hari membicarakan kelanjutan episode drama itu. Great. Histeris.
Didukung oleh Bidam, Hyusin, Alcheon dan kembarannya Deokman berusaha menegakkan Shilla dengan Mi-Shill dan adiknya serta antek-anteknya di posisi antagonis. Heumb .. kisah ini berawal ketika adanya ramalan bahwa ketika raja melahirkan anak kembar*tentunya permaisuri rajalah yang melahirkan .. maka (intinya hal itu tidak baiklah buat Shilla) aku lupa selengkapnya. Namun ternyata ramalan itu belum selesai tetapi uda terlanjur ditelan duluan. Nah ternyata memang sudah digariskan bahwa raja beranak kembar, dan meskipun raja sudah berusaha menutupi hal itu dengan menyuruh orang kepercayaannya membawa anak yang satunya keluar istana, Mi-shill udah curiga dan berusaha menangkapnya. Yah, maklum itu bisa dijakdikan alat untuk menggulingkan raja*setidaknya begitu menurutku. Terjadilah aksi kejar-kejaran yang penuh perjuangan. Dan akhirnya tidak ada bukti hitam di atas putih kalau raja beranak kembar alias raja dan anak yang kemudian diberi nama Deokman selamat.
Nah, selanjutnya hidup yang berat terus dialami Deokman bersama ibunya (bc:orang kepercayaan ayahnya) yang pontang-panting diburu suruhan Mi-Shill (bc: Jelsug*kalo gasalah nulisnya). Hingga pada akhirnya “Muno” yah nama itulah yang membuat Deokman masuk istana sebagai Nando, prajurit pembela Shilla sehingga Deokman menyamar sebagai laki-laki. Dia tergabung dalam Resimen Kembang Naga di bawah komondo Huwara Hyusin. Selama menjadi nando hal-hal pahit menempeleng pribadinya sehingga jati sosok-sosok leader mulai tumbuh. . . to be continued

Sungguh mulai dari seorang yang hanya mempunyai satu alasan untuk hidup yakni bertemu dengan Muno menjadi seorang great queen. Amat Sangat. Yang paling aku ingat bahwa ‘Rakyat adalah yang paling ditakuti oleh seorang pemimpin (diwaktu itu ceritanya ‘Mi-Shill paling takut bila berhadapan dengan rakyat’, itu kelemahan yang Mi-Shill dalam tanda kutip. Di system istanasentris saja begitu, harusnya di negara demokrasi rakyat lebih ditakuti sehingga pemimpin benar-benar bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanahkan rakyat kepadanya. Dari, oleh dan untuk rakyat . . .So inspired and educative, unbelievable? Prove it J